PANGKALPINANG – Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Peternakan (DPKP) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyatakan musim kemarau yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir mulai berdampak pada sektor pertanian di daerah itu. Penurunan debit air irigasi dan berkurangnya cadangan air di sejumlah kawasan sentra padi menjadi indikasi awal dampak kekeringan yang perlu diantisipasi petani.
Petani Diminta Aktifkan Kembali P3A
Menghadapi kondisi tersebut, DPKP Babel mengajak para petani untuk mengaktifkan kembali Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) di masing-masing daerah. Lembaga ini dinilai strategis karena berperan dalam mengatur distribusi air irigasi secara bergilir, sehingga ketersediaan air yang terbatas dapat dimanfaatkan secara adil dan efisien di tengah musim kemarau.
P3A juga menjadi wadah bagi petani untuk berkoordinasi dalam menjaga saluran irigasi, termasuk melakukan perbaikan sederhana dan pengerukan sedimen agar air tetap mengalir lancar ke lahan pertanian. Dengan pengelolaan yang baik, risiko gagal panen akibat kekurangan air diharapkan dapat ditekan.
Selain mendorong pengaktifan P3A, DPKP Babel juga mengimbau petani menerapkan pola tanam yang menyesuaikan ketersediaan air. Di daerah yang debit airnya mulai berkurang, petani disarankan memilih komoditas yang lebih hemat air atau menyesuaikan jadwal tanam agar tidak bertabrakan dengan puncak kekeringan.
Berdasarkan pantauan DPKP, sejumlah wilayah di Bangka Belitung mulai mengalami penurunan curah hujan sejak beberapa bulan terakhir. Meski belum seluruh daerah terdampak parah, kewaspadaan tetap diperlukan karena musim kemarau diprediksi masih berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.
Di sejumlah kabupaten, sebagian lahan sawah tadah hujan mulai menunjukkan tanda-tanda kekeringan, seperti tanah yang merekah dan pertumbuhan tanaman yang melambat. Para petani pun mulai mengatur ulang jadwal tanam serta menghemat penggunaan air agar lahan yang masih produktif tidak terbengkalai.
Dinas juga mengingatkan pentingnya pemanfaatan sumber air alternatif seperti embung, sumur pantek, dan waduk desa yang sudah dibangun pemerintah. Optimalisasi infrastruktur tersebut diharapkan mampu menjadi penyangga kebutuhan air lahan pertanian ketika pasokan dari irigasi utama menyusut.
Pemerintah provinsi bersama kabupaten/kota disebut terus memantau perkembangan kondisi lahan pertanian di lapangan. Pendampingan dan penyuluhan kepada kelompok tani juga akan diperkuat, terutama dalam menghadapi kemungkinan perpanjangan musim kemarau.
DPKP Babel berharap sinergi antara petani, kelompok tani, P3A, dan pemerintah dapat menjaga ketahanan pangan daerah. Dengan langkah antisipatif sejak dini, produksi pertanian Babel diharapkan tetap berjalan meskipun di tengah tantangan cuaca ekstrem.
Komentar (0)