24, 2026 ID
Bangka Belitung

Kemarau Panjang, Sawah di Bangka Belitung Alami Gagal Panen

BANGKA BELITUNG - Kemarau panjang yang melanda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) dalam beberapa bulan terakhir memicu gagal panen di sejumlah sentra persawahan. Tanaman padi yang semula menghijau kini mengering dan mati sebelum mem

Kemarau Panjang, Sawah di Bangka Belitung Alami Gagal Panen

BANGKA BELITUNG - Kemarau panjang yang melanda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) dalam beberapa bulan terakhir memicu gagal panen di sejumlah sentra persawahan. Tanaman padi yang semula menghijau kini mengering dan mati sebelum memasuki masa panen akibat kekurangan pasokan air.

Berdasarkan pemantauan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Babel, sawah yang terdampak kekeringan tersebar di sejumlah kabupaten, antara lain Bangka, Bangka Tengah, dan Bangka Selatan. Sebagian lahan di antaranya dinyatakan puso atau gagal panen total, sehingga petani kehilangan hasil yang telah mereka rawat selama berbulan-bulan.

Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan jaringan irigasi teknis. Mayoritas sawah di Babel merupakan lahan tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan. Ketika musim kemarau berkepanjangan, petani tidak memiliki sumber air alternatif yang memadai untuk menyelamatkan tanamannya.

Petani Terpaksa Menunda Musim Tanam

Kepala kelompok tani di Kecamatan Sungai Selan, Kabupaten Bangka Tengah, mengungkapkan bahwa dirinya dan anggota kelompoknya terpaksa menunda musim tanam karena cadangan air di bendungan dan embung mulai menipis. "Kalau dipaksakan tanam sekarang, risiko gagal panennya sangat besar," ujarnya. Sebagian petani lainnya memilih memanen lebih awal meskipun hasilnya jauh dari harapan.

Menanggapi kondisi tersebut, pemerintah daerah menyalurkan bantuan berupa pompa air, benih, dan pupuk kepada kelompok tani terdampak. Dinas Pertanian Provinsi Babel juga mengimbau petani untuk memanfaatkan sumur bor dan embung secara efisien, serta menyesuaikan jadwal tanam dengan prediksi cuaca agar kerugian tidak semakin meluas.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak kemarau masih berlangsung hingga beberapa pekan ke depan. Petani diminta mewaspadai potensi kekeringan yang lebih luas, sedangkan aparatur desa diminta mendata lahan puso agar dapat diproses untuk klaim asuransi usaha tani padi (AUTP) guna meringankan beban petani.

Gagal panen ini turut berdampak pada ketahanan pangan regional. Babel yang selama ini mengandalkan pasokan beras dari luar daerah berpotensi menghadapi kenaikan harga beras di pasar. Dinas Ketahanan Pangan setempat memastikan stok beras masih aman, namun tetap mengantisipasi lonjakan permintaan menjelang akhir musim kemarau.

Pemerintah provinsi berharap bantuan dan upaya percepatan tanam dapat segera dilakukan begitu hujan kembali turun. Para petani pun berharap kepastian bantuan dapat segera cair agar mereka dapat kembali menggarap sawahnya pada musim tanam berikutnya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS admin

Komentar (0)

User

Paling Dibaca

24 jam

Newsletter

Tag