PANGKALPINANG – Satgas Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Kabupaten Bangka meningkatkan intensitas patroli di sejumlah titik rawan kebakaran seiring masuknya puncak musim kemarau di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Langkah ini ditempuh untuk mencegah munculnya titik api yang berpotensi meluas menjadi kebakaran hutan dan lahan yang merugikan masyarakat.
Patroli Terpadu Libatkan TNI-Polri dan Manggala Agni
Patroli dilakukan secara terpadu dengan melibatkan TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, serta kelompok masyarakat peduli api. Petugas menyisir kawasan lahan gambut, semak belukar, dan area bekas tambang yang selama ini menjadi lokasi paling rawan kebakaran saat musim kemarau.
Kepala pelaksana BPBD setempat menjelaskan, patroli digencarkan pada pagi dan sore hari serta ditingkatkan pada akhir pekan. Pemantauan juga dilakukan melalui pos pantau dan analisis titik panas atau hotspot dari citra satelit. 'Kami meminta seluruh desa mewaspadai kondisi cuaca kering dan segera melaporkan kepada petugas bila menemukan asap atau api sejak dini,' ujarnya.
Selain patroli darat, satgas juga menggencarkan sosialisasi kepada petani dan masyarakat yang kerap membersihkan lahan dengan cara membakar. Pemerintah mengingatkan bahwa membakar lahan, baik disengaja maupun karena kelalaian, dapat berujung pada sanksi pidana dan denda sebagaimana diatur dalam undang-undang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
Berdasarkan pantauan, potensi kebakaran meningkat karena curah hujan yang rendah serta angin kencang yang mempercepat penyebaran api. Karena itu, satgas menyiagakan personel, unit pemadam kebakaran, serta peralatan pendukung seperti pompa air dan embung agar respons cepat dapat dilakukan apabila kebakaran muncul.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan kondisi kering masih akan berlangsung beberapa pekan ke depan dengan curah hujan rendah. Kondisi ini membuat potensi munculnya hotspot di wilayah Bangka Belitung tetap tinggi, sehingga kewaspadaan seluruh pihak diperlukan hingga memasuki musim hujan.
Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera menghubungi petugas apabila menemukan titik api. Kesadaran warga dinilai menjadi kunci utama karena sebagian besar kebakaran lahan di daerah ini dipicu oleh aktivitas manusia, mulai dari pembakaran sampah hingga pembukaan lahan pertanian.
Satgas menegaskan patroli akan terus diperketat hingga musim kemarau berakhir. Koordinasi lintas instansi serta keterlibatan aktif masyarakat diharapkan mampu menekan luas lahan terbakar dan menjaga lingkungan tetap aman. Selain itu, pemerintah daerah juga mendorong pembentukan tim pemadam kebakaran di tingkat desa agar penanganan karhutla dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.
Komentar (0)