Salai Jin, Tradisi Leluhur yang Terus Hidup di Maluku Utara
Ternate, Maluku Utara – Masyarakat adat Tobelo Dalam di Pulau Hiri, Kota Ternate, kembali menampilkan ritual Salai Jin, tradisi warisan leluhur yang dipercaya mampu menolak bala dan mengusir gangguan roh jahat dari pemukiman warga. Di tengah arus modernisasi, ritual adat ini tetap bertahan dan menjadi salah satu kekayaan budaya yang paling dijaga komunitas tersebut.
Salai Jin merupakan ritual yang diwariskan secara turun-temurun oleh komunitas Tobelo Dalam. Dalam pelaksanaannya, seorang gogugu atau pemimpin adat memimpin jalannya upacara. Ia membacakan doa-doa khusus sambil menyiramkan air jeruk nipis yang telah dicampur berbagai bahan ke seluruh penjuru pemukiman. Air itu dipercaya menjadi penangkal gangguan makhluk halus. Sebelum prosesi dimulai, warga menyiapkan sesaji berupa sirih pinang, kemenyan, dan makanan tradisional yang diletakkan di titik-titik tertentu.
Suasana semakin khidmat saat tabuhan gendang tradisional mengiringi prosesi. Warga yang hadir larut dalam irama sambil mengikuti gerakan ritual yang dipandu sang gogugu. Puncaknya, gogugu dipercaya kerasukan roh penjaga dan berkomunikasi dengan alam gaib untuk memastikan roh jahat benar-benar pergi menjauh dari kampung. Prosesi berlangsung berjam-jam hingga sang gogugu keluar dari kesurupannya dan menyatakan pemukiman telah bersih dari gangguan gaib.
Bagi masyarakat Tobelo Dalam, Salai Jin bukan sekadar pertunjukan. Ritual ini menyimpan makna mendalam, yakni menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan leluhur. Mereka meyakini penyakit, wabah, maupun musibah yang menimpa kampung sering kali datang karena keseimbangan alam terganggu. Melalui Salai Jin, warga memohon perlindungan dan keselamatan bagi seluruh penghuni pulau.
Dari kacamata warga Maluku Utara, tradisi ini menjadi pengingat betapa kayanya budaya daerah. Ritual Salai Jin juga mengajarkan nilai gotong royong dan kebersamaan. Sebelum dan selama prosesi, warga bahu-membahu menyiapkan perlengkapan upacara, mulai dari sesaji hingga tempat pelaksanaan ritual. Kebersamaan itu merekatkan hubungan antargenerasi dan antarwarga.
Kehadiran para pemuda dan anak-anak dalam ritual ini menjadi tanda bahwa regenerasi pelestari budaya berjalan baik. Mereka belajar mengenal akar budaya dari para tetua yang dengan sabar menurunkan ilmu dan pengetahuan adat, sehingga tradisi ini tidak mudah punah.
Ke depan, ritual Salai Jin di Pulau Hiri diharapkan terus dilestarikan. Tradisi ini pun dinilai berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya Maluku Utara, selama kesakralan dan nilai-nilai adatnya tetap dijaga. Dengan demikian, warisan leluhur ini tidak hanya bertahan, tetapi juga menghidupkan kebanggaan masyarakat akan identitas budayanya.
Komentar (0)