24, 2026 ID
Maluku Utara

SSB dan Klub PSSI Malut Pertanyakan Gagalnya Piala Soeratin

Sejumlah sekolah sepak bola (SSB) afiliasi dan anggota klub PSSI di Maluku Utara mempertanyakan gagalnya pelaksanaan kompetisi Piala Soeratin Zona Maluku Utara musim 2026. Mereka menyayangkan kompetisi usia muda tersebut tidak kunjung digel

SSB dan Klub PSSI Malut Pertanyakan Gagalnya Piala Soeratin

Sejumlah sekolah sepak bola (SSB) afiliasi dan anggota klub PSSI di Maluku Utara mempertanyakan gagalnya pelaksanaan kompetisi Piala Soeratin Zona Maluku Utara musim 2026. Mereka menyayangkan kompetisi usia muda tersebut tidak kunjung digelar, padahal telah dinantikan sejak awal tahun sebagai wadah pembinaan pemain muda daerah.

SSB Malut Desak Kejelasan Nasib Piala Soeratin

Para pengurus SSB menilai kegagalan penyelenggaraan Piala Soeratin menjadi pukulan besar bagi pembinaan usia dini di Maluku Utara. Kompetisi ini dianggap satu-satunya ajang resmi yang menghubungkan pemain muda dengan jalur pembinaan PSSI, mulai dari level asosiasi provinsi hingga nasional. Tanpa kompetisi tersebut, proses seleksi dan pengembangan bakat pemain muda di daerah terhambat.

Menurut keterangan sejumlah perwakilan klub, informasi mengenai nasib kompetisi masih simpang siur. Hingga saat ini belum ada kejelasan apakah Piala Soeratin Zona Maluku Utara dibatalkan, ditunda, atau dijadwalkan ulang. Ketidakjelasan ini dinilai menyulitkan klub dalam mempersiapkan tim, termasuk urusan administrasi pemain, pendanaan, dan kesiapan fasilitas latihan.

Para klub juga menyoroti dampak berjenjang dari gagalnya kompetisi ini terhadap regenerasi pesepakbola Maluku Utara. Selama ini Piala Soeratin menjadi etalase bagi pemain muda Malut untuk dilirik klub profesional maupun tim nasional. Sejak digelar rutin di Maluku Utara, kompetisi ini dinilai telah melahirkan sejumlah pemain yang kini berkarier di klub profesional. Banyak pemain muda yang karirnya dimulai dari turnamen ini, sehingga absennya kompetisi dikhawatirkan memutus mata rantai pembinaan yang telah dibangun bertahun-tahun.

Selain itu, sejumlah SSB mengeluhkan minimnya komunikasi antara Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Maluku Utara dengan klub anggota. Mereka berharap ada transparansi terkait kendala yang dihadapi, baik dari sisi pendanaan, teknis penyelenggaraan, maupun izin pelaksanaan. Komunikasi yang terbuka dinilai penting agar klub tidak terus menerus berada dalam ketidakpastian.

Para pengurus SSB pun mendesak Asprov PSSI Maluku Utara segera mengambil sikap tegas. Jika kompetisi benar-benar tidak dapat digelar, mereka meminta penjelasan resmi beserta rencana penggantinya, seperti turnamen pengganti atau penjadwalan ulang di akhir musim. Mereka menegaskan pembinaan usia muda tidak boleh berhenti hanya karena persoalan administrasi.

Di tengah ketidakpastian tersebut, sejumlah SSB menyatakan tetap menjalankan latihan rutin secara mandiri agar para pemain muda tidak kehilangan ritme. Namun mereka menegaskan latihan mandiri tidak dapat menggantikan atmosfer kompetisi resmi yang menjadi tolok ukur perkembangan pemain. Karena itu, kejelasan nasib Piala Soeratin Zona Maluku Utara dinilai menjadi tanggung jawab bersama, baik pengurus provinsi maupun klub anggota, demi masa depan sepak bola Maluku Utara.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS admin

Komentar (0)

User

Paling Dibaca

24 jam

Newsletter

Tag