Kementerian Kebudayaan berencana merevitalisasi sejumlah situs budaya di Maluku Utara sebagai bagian dari program pelestarian warisan budaya nasional. Langkah ini menyasar kawasan cagar budaya yang tersebar di sejumlah daerah, termasuk benteng peninggalan kolonial, kedaton kesultanan, serta bangunan bersejarah lain yang menjadi saksi peradaban Nusantara bagian timur. Rencana tersebut tengah disiapkan melalui serangkaian kajian dan koordinasi dengan pemerintah daerah setempat.
Maluku Utara dikenal sebagai wilayah dengan kekayaan sejarah yang luar biasa, mulai dari pusat Kesultanan Ternate, Tidore, Jailolo, hingga Bacan. Situs-situs seperti Benteng Tolukko, Benteng Kalamata, Benteng Oranje, dan kedaton Sultan Ternate selama ini menjadi destinasi sejarah yang kerap dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun, sejumlah bangunan di antaranya dinilai membutuhkan penanganan serius akibat faktor usia, cuaca tropis, serta keterbatasan perawatan selama ini.
Pemugaran Situs dan Dampaknya bagi Masyarakat
Revitalisasi yang direncanakan mencakup pemugaran fisik bangunan, penataan kawasan sekitar, hingga penguatan tata kelola pelestarian yang melibatkan masyarakat setempat. Para ahli cagar budaya dan pemerintah daerah diharapkan turut dilibatkan agar proses pemugaran tetap sesuai kaidah pelestarian, tanpa menghilangkan keaslian dan nilai sejarah bangunan. Pendataan prioritas situs yang membutuhkan penanganan segera juga akan dilakukan secara bertahap.
Sebagai bagian dari upaya pemajuan kebudayaan nasional, program ini sejalan dengan amanat pelestarian cagar budaya yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Tim dari kementerian disebut akan melakukan survei dan verifikasi lapangan untuk memastikan penanganan tepat sasaran, termasuk mendokumentasikan kondisi terkini setiap situs sebelum pemugaran dimulai.
Bagi masyarakat Maluku Utara, program ini membawa dampak yang lebih luas. Selain menjaga identitas budaya daerah, revitalisasi situs diyakini mampu mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Kehadiran wisatawan yang meningkat diharapkan memberi manfaat bagi pelaku usaha lokal, mulai dari penginapan, kuliner, hingga kerajinan tangan khas daerah seperti tenun dan kerajinan emas khas Ternate.
Tak hanya dari sisi ekonomi, revitalisasi juga dinilai penting bagi pendidikan sejarah generasi muda. Situs-situs yang terawat dapat menjadi ruang belajar langsung bagi pelajar tentang perjalanan panjang Maluku Utara sebagai pusat rempah dan peradaban maritim. Pelibatan masyarakat adat dan komunitas pecinta sejarah dalam pengelolaan diyakini memperkuat rasa memiliki terhadap warisan budaya.
Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmennya mengawal proses revitalisasi secara berkelanjutan. Sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, serta masyarakat adat disebut menjadi kunci keberhasilan program ini. Dengan demikian, warisan budaya Maluku Utara diharapkan tidak hanya lestari, tetapi juga menjadi kebanggaan generasi muda dan motor penggerak pembangunan daerah.
Komentar (0)