Ternate, Maluku Utara — Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyiapkan program revitalisasi sejumlah situs budaya di Maluku Utara. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya pemerintah menjaga warisan sejarah yang tersebar di wilayah yang pernah menjadi pusat kekuasaan Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore. Kawasan ini dikenal menyimpan jejak peradaban yang panjang, mulai dari benteng-benteng peninggalan masa kolonial hingga kedaton yang masih berdiri hingga kini.
Dalam arahannya, Fadli menegaskan bahwa Maluku Utara memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi bagi peradaban Nusantara. Sejumlah bangunan bersejarah yang selama ini menjadi ikon daerah dinilai perlu mendapat perhatian serius agar tidak rusak termakan usia. Revitalisasi pun akan menyasar benteng, kedaton, serta kawasan situs yang berkaitan dengan jalur rempah dunia, yang pernah menjadi urat nadi perdagangan internasional pada masanya.
Revitalisasi Benteng dan Kedaton Jadi Prioritas
Revitalisasi akan difokuskan pada bangunan bersejarah yang menjadi ikon wisata sejarah daerah. Pemerintah akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat adat agar proses revitalisasi tidak menghilangkan nilai budaya setempat. Pendataan dan kajian kelayakan akan dilakukan terlebih dahulu secara bertahap, dengan melibatkan ahli konservasi agar pekerjaan sesuai kaidah pelestarian cagar budaya.
Fadli juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pelestarian. Menurutnya, keberlanjutan sebuah situs budaya tidak hanya ditentukan oleh perbaikan fisik bangunan, tetapi juga oleh kesadaran generasi muda untuk menjaga dan memaknai warisan leluhur. Karena itu, edukasi dan pendokumentasian sejarah lisan dinilai sama pentingnya dengan pemugaran gedung bersejarah.
Pemerintah daerah setempat menyambut baik rencana tersebut. Revitalisasi dinilai mampu mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, sekaligus memperkuat identitas budaya Maluku Utara di kancah nasional. Kawasan situs yang tertata baik diharapkan menarik lebih banyak wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, serta membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Program ini juga sejalan dengan upaya penguatan diplomasi budaya Indonesia. Maluku Utara dikenal sebagai salah satu daerah asal jalur rempah dunia, sehingga pelestarian situsnya diyakini turut memperkuat posisi Indonesia dalam pengakuan warisan budaya global. Skema pendanaan akan disusun bersama para pemangku kepentingan agar program berjalan berkelanjutan.
Masyarakat adat dan para pemerhati budaya berharap revitalisasi tidak berhenti pada perbaikan fisik semata. Mereka meminta pemerintah juga memperhatikan penguatan kelembagaan adat dan peningkatan kapasitas pelaku budaya lokal, agar warisan yang dirawat tetap hidup di tengah masyarakat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Komentar (0)