JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan sederet sektor yang dinilai akan menjadi 'mesin' penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk menembus level 6 persen. Di tengah pertumbuhan yang selama ini berkisar di angka 5 persen, ia menilai target tersebut realistis jika seluruh elemen ekonomi, baik pusat maupun daerah, bergerak dalam satu arah dan kebijakan berjalan konsisten.
Hilirisasi dan Investasi Jadi Mesin Utama
Mesin pertama adalah hilirisasi industri. Setelah berhasil mengolah nikel menjadi produk bernilai tambah, pemerintah akan melanjutkan hilirisasi komoditas lain, seperti bauksit, tembaga, dan kelapa sawit. Langkah ini dinilai mampu menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan daerah, termasuk di kawasan timur Indonesia yang selama ini hanya mengirim bahan mentah.
Mesin kedua adalah investasi. Realisasi investasi yang terus tumbuh, ditopang kemudahan berusaha dan pembangunan infrastruktur, dinilai mampu memperkuat basis ekonomi regional. Pemerintah juga mendorong pengembangan kawasan ekonomi khusus dan kawasan industri baru di luar Jawa agar manfaat pembangunan tidak hanya dinikmati Pulau Jawa, tetapi juga Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.
Ekonomi digital dan ekonomi kreatif menjadi mesin ketiga. Pertumbuhan transaksi digital yang tinggi di berbagai daerah membuka peluang besar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pemerintah menargetkan lebih banyak UMKM naik kelas melalui digitalisasi, akses permodalan, dan pendampingan, sehingga produk lokal makin kompetitif di pasar domestik maupun ekspor.
Sektor pariwisata dan konsumsi domestik juga diandalkan. Dengan destinasi superprioritas dan agenda event internasional, pariwisata diharapkan menarik wisatawan mancanegara sekaligus menggerakkan ekonomi daerah tujuan wisata. Sementara itu, belanja pemerintah dan daya beli masyarakat tetap menjadi penyangga utama pertumbuhan di tengah pelemahan ekspor global. Pemerintah juga menggenjot substitusi impor agar industri dalam negeri makin kuat.
Dari sisi regional, pemerataan pembangunan menjadi perhatian utama. Pembangunan food estate dan lumbung pangan di sejumlah provinsi bertujuan menjaga ketahanan pangan sekaligus menggerakkan ekonomi perdesaan. Konektivitas antardaerah juga terus diperkuat guna menekan biaya logistik, yang selama ini menjadi salah satu hambatan daya saing produk daerah.
Pemerintah juga menekankan pentingnya sumber daya manusia berkualitas sebagai penopang seluruh mesin pertumbuhan. Program pelatihan vokasi dan link and match antara dunia pendidikan dan industri terus diperluas, khususnya di daerah, agar bonus demografi benar-benar menjadi kekuatan ekonomi.
Kendati optimistis, pemerintah menyadari target 6 persen bukan perkara mudah. Ketidakpastian ekonomi global, gejolak harga komoditas, dan fluktuasi nilai tukar menjadi risiko yang harus diantisipasi. Karena itu, konsistensi kebijakan fiskal dan moneter serta sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci agar deretan mesin pertumbuhan itu benar-benar berputar.
Komentar (0)