PT Pegadaian menargetkan laba bersih sebesar Rp 12 triliun pada 2026, ditopang ekspansi agresif bisnis emas di tengah tren kenaikan harga logam mulia global. Target itu meningkat signifikan dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp 9 triliun, seiring kontribusi segmen emas yang terus mendominasi pendapatan perseroan.
Bisnis emas menjadi mesin utama pertumbuhan Pegadaian. Layanan gadai emas, tabungan emas, hingga penjualan emas batangan tercatat menyumbang lebih dari separuh total pendapatan perusahaan. Permintaan masyarakat terhadap instrumen emas meningkat tajam seiring ketidakpastian ekonomi global, nilai tukar rupiah yang bergejolak, dan inflasi yang mendorong emas kembali diposisikan sebagai aset lindung nilai (safe haven).
Ekspansi Regional dan Digitalisasi Jadi Kunci
Strategi ekspansi tidak hanya terpusat di Pulau Jawa. Pegadaian memperluas jaringan unit layanan di kawasan Indonesia Timur, seperti Sulawesi, Maluku, dan Papua, untuk menjaring nasabah baru dari segmen masyarakat yang selama ini belum tersentuh layanan keuangan formal. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah mendorong inklusi keuangan dan hilirisasi emas di daerah-daerah penghasil tambang.
Digitalisasi menjadi pendorong utama lainnya. Melalui aplikasi Pegadaian Digital dan layanan tabungan emas online, perusahaan mencatat pertumbuhan jumlah pengguna aktif yang signifikan. Nasabah kini dapat membeli emas mulai dari pecahan terkecil, mencicil, hingga menjual kembali emasnya secara daring tanpa harus mendatangi kantor cabang.
Dari sisi bisnis, ekspansi ini memberi dampak berganda bagi ekonomi daerah. Setiap unit layanan baru membuka lapangan kerja dan menghidupkan ekosistem UMKM, terutama pengrajin emas lokal yang membutuhkan akses pembiayaan dan tempat menjual hasil produksi. Pegadaian juga menggandeng mitra pemasok untuk menjamin ketersediaan emas batangan bersertifikat di seluruh wilayah. Kerja sama dengan pemerintah daerah pun digencarkan agar layanan emas menjangkau hingga ke pelosok.
Analis menilai target Rp 12 triliun masih realistis apabila harga emas dunia bertahan di level tinggi dan permintaan domestik terus tumbuh. Namun, perseroan tetap dihadapkan pada sejumlah tantangan, seperti fluktuasi harga komoditas, risiko kredit pada segmen gadai, serta persaingan dengan bank dan platform keuangan digital yang mulai melirik bisnis emas. Di tengah kondisi tersebut, pengelolaan likuiditas dan penilaian agunan yang akurat menjadi kunci menjaga kualitas portofolio pembiayaan.
Pegadaian menegaskan komitmennya menjaga tata kelola dan manajemen risiko yang prudent di tengah ekspansi. Perusahaan juga terus mengembangkan produk emas berbasis syariah guna menjangkau segmen pasar yang lebih luas. Dengan kombinasi ekspansi jaringan, digitalisasi, dan diversifikasi produk, perseroan optimistis mampu mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar bisnis emas ritel di Indonesia sekaligus berkontribusi pada penguatan ekonomi nasional.
Komentar (0)