Bawomataluo, desa adat di Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, kembali menjadi sorotan. Dikenal luas lewat tradisi hombo batu atau lompat batu yang mendunia, desa ini kini dijadikan titik awal penguatan ekonomi kerakyatan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Langkah tersebut menegaskan komitmen BRI dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di daerah.
Bagi BRI, desa-desa seperti Bawomataluo menyimpan potensi ekonomi besar yang belum tergarap maksimal. Akses pembiayaan yang mudah, pendampingan usaha berkelanjutan, serta pemanfaatan teknologi digital dinilai menjadi kunci untuk mengangkat perekonomian masyarakat yang selama ini bergantung pada sektor pariwisata, kerajinan lokal, dan pertanian.
Mendorong Inklusi Keuangan hingga Desa Wisata
Program ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang menjadikan ekonomi kerakyatan sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan kredit mikro, BRI memberikan akses permodalan bagi pelaku UMKM di sekitar kawasan wisata. Dengan demikian, mereka dapat mengembangkan usaha tanpa lagi terkendala keterbatasan modal dan agunan.
Pembiayaan bukan satu-satunya instrumen yang dihadirkan. BRI turut memperkuat ekosistem keuangan digital melalui layanan QRIS, agen BRILink, dan inklusi perbankan bagi masyarakat desa. Jaringan agen BRILink yang tersebar hingga pelosok, termasuk wilayah kepulauan seperti Nias, memperpendek jarak masyarakat dengan layanan keuangan formal. Digitalisasi ini memungkinkan pelaku usaha kecil menerima pembayaran non-tunai dari wisatawan domestik maupun mancanegara, sekaligus memperluas jangkauan pemasaran produk mereka.
Kehadiran hombo batu sebagai atraksi budaya yang mendunia menjadi daya tarik tersendiri. Setiap tahun, ribuan wisatawan berkunjung ke Bawomataluo untuk menyaksikan tradisi lompat batu setinggi dua meter. Arus kunjungan ini menghidupkan ekonomi warga, mulai dari penginapan, kuliner, hingga penjualan suvenir dan kerajinan khas Nias. Dukungan pembiayaan dari BRI diharapkan mampu memperbesar manfaat ekonomi dari aktivitas pariwisata tersebut bagi masyarakat setempat.
Sinergi pun diperkuat lewat ekosistem ultra mikro bersama Pegadaian dan PNM. Pendekatan dari hulu ke hilir ini memastikan pelaku usaha di daerah terlayani secara menyeluruh, baik dari sisi pembiayaan, pendampingan, maupun pengembangan kapasitas. Model pemberdayaan semacam ini terbukti mampu menaikkan kelas usaha mikro menjadi usaha kecil hingga menengah.
BRI optimistis penguatan ekonomi kerakyatan yang dimulai dari Bawomataluo dapat direplikasi di daerah-daerah lain di Indonesia. Dengan kombinasi pembiayaan, digitalisasi, dan pemberdayaan masyarakat, pertumbuhan ekonomi yang merata dan berkelanjutan bukan lagi sekadar target, melainkan keniscayaan yang sedang diwujudkan dari desa.
Komentar (0)