Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat menyebutkan 99 persen titik api yang terpantau di wilayah provinsi tersebut dipicu oleh ulah manusia, terutama pembukaan lahan dengan cara membakar. Angka itu dinilai sangat mengkhawatirkan karena hampir seluruh kebakaran sebenarnya dapat dicegah.
Pernyataan itu disampaikan BPBD Kalbar di tengah meningkatnya jumlah hotspot selama musim kemarau. Pemantauan satelit menunjukkan titik api tersebar di sejumlah kabupaten, antara lain Kubu Raya, Mempawah, Sanggau, Sekadau, dan Ketapang, dengan intensitas yang berfluktuasi mengikuti cuaca dan kecepatan angin.
Pembakaran Lahan Jadi Pemicu Dominan Karhutla
Kebakaran lahan dan hutan (karhutla) di Kalbar hampir setiap tahun berulang pada puncak musim kemarau, yakni sekitar Agustus hingga September. Sebagian besar kasus bermula dari praktik pembakaran lahan untuk penyiapan lahan pertanian maupun perkebunan yang tidak terkendali hingga merembet ke area yang lebih luas.
BPBD Kalbar bersama TNI, Polri, Manggala Agni, dan pemadam kebakaran daerah terus melakukan pemadaman serta patroli terpadu. Upaya pemadaman kerap terkendala titik api yang berada di lahan gambut, karena api dapat bertahan di lapisan gambut dalam waktu lama dan menimbulkan asap tebal yang mengganggu kesehatan serta aktivitas penerbangan.
Menurut catatan BPBD, sebagian besar titik api terdeteksi di lahan gambut dan areal bekas kebakaran tahun sebelumnya. Kondisi itu membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama karena api menyebar di bawah permukaan tanah.
Selain pemadaman, penegakan hukum menjadi bagian dari upaya pencegahan. Pembakaran lahan dapat dijerat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dengan ancaman pidana penjara dan denda. Pihak kepolisian menegaskan akan menindak tegas pelaku pembakaran lahan yang merugikan masyarakat.
BPBD Kalbar mengimbau masyarakat untuk tidak membakar lahan dalam kondisi apa pun, termasuk untuk persiapan bercocok tanam. Warga diminta segera melapor kepada aparat desa, kepala desa, atau petugas kehutanan apabila menemukan kepulan asap atau titik api di sekitar lingkungan tempat tinggal.
Karhutla tidak hanya mengancam kesehatan warga, tetapi juga aktivitas ekonomi. Sejumlah sekolah sempat diliburkan, penerbangan terganggu kabut asap, dan kegiatan perkebunan masyarakat ikut terdampak. Para petani pun diingatkan untuk beralih ke metode pengolahan lahan tanpa bakar.
Sementara itu, kualitas udara di sejumlah wilayah Kalbar mulai menurun seiring meluasnya kebakaran. Dinas kesehatan mengingatkan kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan, untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan serta mengenakan masker.
Pemerintah Provinsi Kalbar menyatakan kesiapsiagaan penuh menghadapi karhutla dan terus berkoordinasi dengan kabupaten/kota untuk mempercepat penanganan. Masyarakat diharapkan berperan aktif menjaga lingkungan agar musim kemarau tidak kembali diperparah oleh kabut asap akibat kebakaran.
Komentar (0)