JAKARTA — Ratu Tisha Destria kembali menyoroti persoalan mendasar yang selama ini dianggap menghambat perkembangan Timnas Indonesia. Mantan Sekretaris Jenderal PSSI itu menilai, salah satu masalah terbesar skuad Garuda tidak terletak pada kualitas teknis atau materi pemain, melainkan pada mentalitas yang kerap menurun di momen-momen penting.
Pernyataan tersebut disampaikan Ratu Tisha di tengah menguatnya sorotan terhadap perjalanan tim nasional di kancah sepak bola Asia. Menurutnya, secara materi pemain Indonesia sebenarnya sudah mampu bersaing, terutama setelah sejumlah pemain keturunan ikut memperkuat lini-lini tim. Namun, keunggulan individu itu belum berbanding lurus dengan ketahanan mental yang ditunjukkan di lapangan. Sorotan ini pun muncul di saat publik menaruh harapan besar kepada tim yang tengah berlaga di ajang bergengsi Asia, meski hasil di lapangan masih kerap naik turun.
Kalah Mental di Momen Krusial
Ratu Tisha menilai gejala kalah mental paling terlihat ketika tim menghadapi tekanan besar, misalnya saat tertinggal gol lebih dulu atau harus berhadapan dengan lawan yang lebih diunggulkan. Alih-alih bangkit, para pemain cenderung kehilangan fokus dan membuat keputusan buruk yang justru memperbesar kekalahan. Pola seperti ini, kata dia, sudah berulang dalam berbagai turnamen, dari level senior hingga kelompok umur.
Ia juga menyoroti lemahnya kemampuan tim dalam mempertahankan keunggulan. Sejumlah laga yang sempat dalam genggaman kerap berakhir dengan hasil mengecewakan karena konsentrasi pemain mengendur di pengujung pertandingan. Menurut Ratu Tisha, persoalan ini bukan hanya tanggung jawab pelatih, tetapi harus dibenahi melalui pembinaan karakter yang dimulai sejak usia dini, baik di akademi maupun sekolah sepak bola.
Selain mentalitas, Ratu Tisha juga menggarisbawahi masalah lain yang saling berkaitan, seperti manajemen pertandingan dan kesiapan psikologis pemain menghadapi ekspektasi tinggi publik. Atmosfer sepak bola Indonesia yang sangat emosional, kata dia, kerap menjadi tekanan tambahan bagi pemain muda yang belum terbiasa bermain di panggung besar. Karena itu, dukungan yang sehat dari suporter dan pengamat dinilai ikut menentukan performa tim di lapangan.
Menutup pernyataannya, Ratu Tisha menegaskan bahwa perbaikan mentalitas harus menjadi agenda serius seluruh ekosistem sepak bola nasional, termasuk klub, akademi, dan federasi. Ia menyarankan pendekatan sport psychology serta program pembinaan karakter dijadikan bagian rutin dari latihan, bukan sekadar pelengkap. Tanpa pembenahan itu, mimpi Indonesia tampil konsisten di level Asia dinilai akan sulit terwujud meski materi pemain terus meningkat.
Komentar (0)