17, 2026
Teknologi

Mendagri Soroti Belanja APBD Rendah, Daerah Tak Capai Target Bakal Dievaluasi

Nadia Kusuma
Nadia Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 1 dibaca

Mendagri Soroti Belanja APBD Rendah, Daerah Tak Capai Target Bakal Dievaluasi

Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menyoroti rendahnya tingkat belanja Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) di sejumlah daerah sepanjang tahun 2023. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengungkapkan bahwa pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap daerah-daerah yang gagal mencapai target belanja yang telah ditetapkan.

Dalam rapat koordinasi dengan gubernur, bupati, dan wali kota se-Indonesia, Tito menekankan pentingnya percepatan belanja APBD untuk mendukung percepatan pembangunan di daerah. "Kami akan melakukan evaluasi mendalam terhadap daerah yang belanjanya rendah. Ini bukan soal menyalahkan, tapi bagaimana kita bisa memastikan anggaran benar-benar berdampak pada kesejahteraan masyarakat," ujar Tito.

Target Belanja yang Tercapai

Data yang dikelola Kementerian Dalam Negeri menunjukkan bahwa hingga akhir November 2023, tingkat realisasi belanja APBD secara nasional baru mencapai 78,5%. Angka ini masih jauh dari target yang diharapkan sebesar 85% pada akhir tahun. Beberapa provinsi seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur berhasil mencapai target di atas rata-rata nasional, sementara sejumlah daerah lain bahkan baru menyentang angka 60%.

"Tidak bisa dipungkiri ada daerah yang masih kesulitan dalam mengalokasikan anggarannya. Ada beberapa faktor, mulai dari persoalan administrasi, ketidakjelasan prioritas, hingga proses pengadaan yang berbelit-belit," jelas Direktur Jenderal Perbendaharaan Daerah Kemendagri, Achmad Yunis, dalam keterangannya.

Penyebab Rendahnya Realisasi

Beberapa faktor menjadi penyebab rendahnya realisasi belanja APBD di daerah. Pertama, masih banyak daerah yang memiliki sistem administrasi keuangan yang belum optimal. Kedua, kurangnya sinergi antara eksekutif dan legislatif dalam menetapkan prioritas anggaran. Ketiga, proses pengadaan barang dan jasa yang masih memakan waktu lama.

"Ada juga daerah yang masih terlalu konservatif dalam menganggarkan dana, takut jika ada sanksi dari inspektorat. Padahal, anggaran itu harus digunakan untuk kemajuan daerah," tambah Yunis.

Dampak pada Pembangunan Daerah

Rendahnya realisasi belanja APBD tentu berdampak langsung pada percepatan pembangunan di daerah. Proyek-proyek infrastruktur, program pemberdayaan masyarakat, dan pelayanan publik menjadi terhambat. Hal ini berakibat pada peningkatan ketertinggalan antardaerah yang semakin melebar.

"Ketika belanja tidak terealisasi, artinya pembangunan tidak berjalan. Ini berdampak pada kesejahteraan masyarakat yang tidak meningkat. Jadi, ini menjadi tantangan besar bagi kita semua," ujar Staf Khusus Menteri Dalam Negeri untuk Isu-isu Pembangunan Daerah, Bambang Heri Santoso.

Strategi Percepatan Belanja

Untuk mengatasi masalah ini, Kemendagri telah merumuskan beberapa strategi percepatan belanja. Pertama, penyederhanaan prosedur pengadaan barang dan jasa. Kedua, penyediaan panduan teknis yang lebih jelas bagi pemerintah daerah. Ketiga, penguatan kapasitas aparatur sipil negara (ASN) di daerah dalam mengelola anggaran.

"Kami juga akan memberikan sanksi administratif bagi daerah yang secara berulang gagal dalam merealisasikan anggarannya. Sanksi bisa berupa pembekuan sebagian alokasi anggaran di tahun berikutnya," kata Tito.

Tantangan di Tahun 2024

Memasuki tahun 2024, tantangan dalam mengelola APBD semakin kompleks. Pemilihan umum serentak yang telah usai seharusnya tidak lagi menjadi alasan untuk lambatnya realisasi anggaran. Sebaliknya, pemerintah daerah harus segera fokus pada pelaksanaan program-program yang telah direncanakan.

"Pemilu sudah usai, sekarang saatnya fokus pada pembangunan. Jangan sampai politik praktis menghambat kemajuan daerah," tegas Tito.

Dengan adanya evaluasi yang dilakukan Kemendagri, diharapkan pemerintah daerah dapat lebih sadar akan pentingnya efektif dan efisien dalam mengelola anggaran. Belanja APBD yang optimal akan menjadi kunci utama dalam percepatan pembangunan daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Nadia Kusuma

Fokus pada kesehatan anak, imunisasi, dan tumbuh kembang.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter