24, 2026 ID
Nasional

Malaysia Tutup Hampir 600 Sekolah Akibat Kabut Asap Karhutla

KUALA LUMPUR — Malaysia menutup hampir 600 sekolah di negara bagian Sarawak, yang berbatasan langsung dengan Kalimantan, Indonesia, menyusul memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lintas batas. Pen

KUALA LUMPUR — Malaysia menutup hampir 600 sekolah di negara bagian Sarawak, yang berbatasan langsung dengan Kalimantan, Indonesia, menyusul memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lintas batas. Penutupan dilakukan otoritas setempat untuk melindungi kesehatan siswa di tengah indeks pencemaran udara yang menembus level sangat tidak sehat.

Berdasarkan data pemantauan, indeks pencemaran udara (IPU) di sejumlah wilayah Sarawak tercatat melampaui angka 200, kategori “sangat tidak sehat” menurut standar yang berlaku di Malaysia. Kondisi tersebut memaksa pemerintah menangguhkan kegiatan belajar-mengajar di 595 sekolah di daerah terdampak. Penutupan itu berdampak langsung pada puluhan ribu siswa yang terpaksa menghentikan aktivitas di kelas hingga kualitas udara dinyatakan membaik.

Asap Lintas Batas dan Respons Kedua Negara

Kabut asap yang menyelimuti Sarawak berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, Indonesia, yang terbawa angin melintasi perbatasan. Fenomena ini merupakan siklus tahunan yang kerap terjadi pada musim kemarau, ketika jumlah titik panas (hotspot) meningkat tajam akibat praktik pembakaran lahan untuk perkebunan dan pertanian.

Pemerintah daerah Sarawak mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar ruangan, mengenakan masker, dan menutup jendela rumah. Beberapa sekolah turut menunda kegiatan ekstrakurikuler, sementara fasilitas kesehatan bersiaga menghadapi lonjakan pasien dengan keluhan gangguan pernapasan.

Di sisi lain, pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya menangani karhutla. Upaya yang dilakukan meliputi pemadaman udara, patroli terpadu, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan, serta teknologi modifikasi cuaca untuk memicu hujan buatan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan instansi terkait terus memantau perkembangan titik panas, terutama di wilayah perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Utara.

Pengalaman serupa pernah terjadi pada krisis asap 2015 dan 2019, ketika kabut asap dari kebakaran hutan Indonesia menyelimuti sebagian besar Asia Tenggara dan memicu penutupan sekolah serta bandara di beberapa negara. Penutupan massal di Sarawak kali ini kembali menegaskan bahwa karhutla tidak hanya merugikan Indonesia, tetapi juga menimbulkan dampak lintas negara.

Para ahli menilai kerja sama regional, termasuk berbagi data titik panas dan koordinasi penanganan asap secara real-time, menjadi kunci untuk meredam dampak kabut asap di masa mendatang. Hingga berita ini ditulis, otoritas kedua negara masih terus berkoordinasi memantau perkembangan kualitas udara di kawasan perbatasan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS admin

Komentar (0)

User

Paling Dibaca

24 jam

Newsletter

Tag