17, 2026
Nasional

Kondisi Cuaca Sekitar Anak Krakatau Sebelum 5 Jurnalis Hilang Kontak

Lestari Saputra
Lestari Saputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 2 dibaca

Kondisi Cuaca Sekitar Anak Krakatau Sebelum 5 Jurnalis Hilang Kontak

Sebelum lima jurnalis dinyatakan hilang kontak saat meliput di sekitar Gunung Anak Krakatau pada Rabu (24/1/2024), kondisi cuaca di wilayah tersebut diketahu masih memungkinkan untuk aktivitas di laut. Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa pada hari kejadian, wilayah Selat Sunda dan sekitarnya mengalami kondisi cuaca yang relatif baik meskipun terdapat potensi hujan lokal.

Menurut laporan BMKG, pada pagi hari kejadian, wilayah sekitar Pulau Krakatau mengalami kondisi cuaca cerah berawan dengan suhu udara berkisar antara 26-30 derajat Celsius. Kecepatan angin diukur sekitar 10-15 knot atau setara dengan 18-28 km/jam, yang masih dalam batas aman untuk pelayaran perahu kecil. Tinggi gelombang laut diperkirakan mencapai 0,5-1,5 meter, kondisi yang masih dianggap normal untuk perairan terbuka.

Rute Perjalanan Jurnalis Menuju Lokasi Liputan

Kelima jurnalis yang hilang kontak, terdiri dari tiga reporter dan dua kameramen dari satu stasiun televisi lokal, berangkat dari Pelabuhan Labuhan, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten sekitar pukul 07.00 WIB. Mereka menggunakan kapal nelayan berukuran sekitar 10 GT (Gross Tonnage) dengan tujuan meliput aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Menurut rencana perjalanan, kapal yang membawa mereka seharusnya membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam perjalanan menuju lokasi liputan di sekitar perairan barat Pulau Krakatau. Rute yang mereka lalui melalui perairan Selat Sinda dan sekitar Pulum Seribu sebelum mencapi area sekitak Anak Krakatau.

Perkembangan Kondisi Cuaca Selama Perjalanan

Sekitar pukul 09.00 WIB, ketika kapal diperkirakan telah mencapai area sekitar 15 kilometer dari Pulau Anak Krakatau, kondisi cuaca mulai menunjukkan perubahan. BMKG mencatat adanya peningkatan kecepatan angin hingga mencapai 20-25 knot atau setara dengan 37-46 km/jam. Tinggi gelombang laut juga meningkat menjadi 1,5-2,5 meter.

Kondisi ini membuat navigasi menjadi lebih sulit, terutama untuk kapal berukuran kecil seperti yang digunakan oleh tim jurnalis. Saksi mata dari nelayar lain yang melintas di dekat lokasi melaporkan melihat cuaca mulai buruk sekitar pukul 10.00 WIB dengan hujan deras disertai angin kencang yang bertiup dari arah barat daya.

Kegiatan Liputan dan Terakhir Kali Kontak Terputus

Berdasarkan pesan terakhir yang diterima oleh redaksi stasiun televisi tersebut, tim jurnalis sempat melaporkan telah tiba di area sekitar Anak Krakatau dan mulai melakukan pengambilan gambar aktivitas vulkanik. Pesan tersebut dikirim melalui aplikasi pesan sekitar pukul 10.30 WIB dengan menyebutkan kondisi cuaca mulai buruk tetapi mereka masih dapat melanjutkan kegiatan.

Setelah pesan terakhir tersebut, tidak ada lagi komunikasi yang diterima dari tim. Upaya komunikasi telepon maupun pesan singkat gagal dilakukan. Redaksi kemudian melakukan koordinasi dengan SAR untuk melakukan pencarian dengan memanfaatkan kapal patroli milik TNI AL dan nelayar setempat.

Status Pencarian dan Evakuasi

Pencarian secara intensif dilakukan sejak Rabu siang hingga Kamis (25/1/2024) dengan melibatkan tim SAR gabungan dari TNI AL, Basarnas, dan nelayar setempat. Area pencarian difokuskan di sekitar perairan barat Pulau Anak Krakatau dan Selat Sunda.

Hingga Kamis sore, belum ada penemuan korban atau puing-puing kapal yang digunakan oleh tim jurnalis. Tim SAR masih terus melakukan pencarian dengan memperluas area pencarian hingga sejauh 50 kilometer dari titik terakhir diketahui keberadaan kapal.

Kepala BPBD Pandeglang mengatakan bahwa kondisi cuaca yang buruk di wilayah tersebut menjadi kendala utama dalam proses pencarian. "Kami masih berharap korban bisa ditemukan dalam kondisi selamat, namun cuaca yang tidak menentu membuat proses evakuasi menjadi lebih sulit," ujarnya.

Gunung Anak Krakatau yang terletak di perairan antara Pulau Sumatra dan Pulau Jawa telah menjadi objek penelitian dan pengamatan sejak letusan dahsyatnya pada tahun 1883. Aktivitas vulkanik di gunung ini terus dipantau oleh PVMBG dengan tingkat waspada berada pada level II (Waspada).

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Saputra

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter