Kasus Pneumonia Melonjak di Pontianak Akibat Kabut Asap
Kabut asap yang menyelimuti Kota Pontianak, Kalimantan Barat, dalam beberapa pekan terakhir telah memicu lonjakan kasus pneumonia di wilayah tersebut. Dinas Kesehatan Kota Pontianak mencatat adanya peningkatan signifikan pasien yang mengeluhkan gejala penyakit paru-paru akibat paparan partikel-partikel halus yang terkandung dalam kabut asap.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, dr. Ahmad Fauzi, mengatakan bahwa sejak awal September 2023, jumlah pasien pneumonia di RSUD dr. Soedarso Pontianak terus meningkat. "Jika biasanya kami menerima 10-15 pasien pneumonia per minggu, kini angkanya melonjak menjadi 30-40 pasien per minggu. Beberapa di antaranya memerlukan perawatan intensif," jelas dr. Fauzi dalam konferensi pers yang diadakan di ruang kerjanya, Rabu (4/10/2023).
Dampak Kabut Asap terhadap Kesehatan Paru-paru
Kabut asap yang berasal dari kebakaran lahan dan hutan di sekitar Kalimantan Barat telah mencapai kategori tidak sehat. Indeks Pencemaran Udara (IPU) di beberapa titik di Pontianak bahkan mencapai angka 300, yang jauh di atas bataman aman 150. Partikel-partikel halus PM2.5 dalam kabut asap dapat masuk ke dalam sistem pernafasan manusia dan menembus hingga alveoli di paru-paru.
"Partikel PM2.5 ini sangat berbahaya karena ukurannya yang sangat kecil sehingga dapat lolos mekanisme pertahanan saluran pernafasan dan langsung menjangkitu alveoli di mana terjadi pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida. Paparan berkepanjangan dapat menyebabkan radang paru-paru atau pneumonia," jelaskan dr. Ratna Dewi, spesisi paru-paru dari RSUD dr. Soedarso.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Pasien pneumonia yang terjangkit akibat kabut asap biasanya mengeluhkan gejala seperti batuk berdahak, sesak napas, demam, dan nyeri dada. Pada kasus berat, pasien dapat mengalkeh kesulitan bernapas yang membutuhkan bantuan oksigen.
"Kami telah melihat peningkatan signifikan pasien dengan gejala tersebut terutama pada anak-anak dan lanjut usia. Sistem kekebalan mereka cenderung lebih rentan terhadap paparan partikel halus di udara," tambah dr. Ratna.
Tanggapan Dinas Kesehatan
Sebagai respons terhadap lonjakan kasus pneumonia, Dinas Kesehatan Kota Pontianak telah mengambil sejumlah langkah preventif dan kuratif. Pihaknya telah membuka posko kesehatan di beberapa titik rawan kabut asap, terutama di wilayah perbatasan dengan Kalimantan Tengah.
"Kami juga telah membagikan masker N95 kepada masyarakat terutama mereka yang beraktivitas di luar ruangan. Selain itu, kami mengimbau masyarakat untuk tetap berada di dalam ruangan selama kabut asap masih melanda," jelas dr. Fauzi.
Dampak Jangka Panjang
Para ahli kesehatan khawatir jika kondisi kabut asap berlanjut, dapat terjadi dampak jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat. Paparan partikel PM2.5 dalam jangka panjang terkait dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, asma, dan kanker paru-paru.
"Kami melakukan pemantauan rutin terhadap kualitas udara di Pontianak. Data menunjukkan bahwa kadar PM2.5 masih sangat tinggi. Kami berharap pemerintah pusat dapat segera mengambil langkah-langkah konkret untuk menangani sumber asap di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan," ujar dr. Fauzi.
Kondisi Saat Ini
Saat ini, pemerintah kota telah mengimbau sekolah-sekolah untuk menghentikan kegiatan belajar mengajar tatap muka dan beralih ke pembelajaran daring. Selain itu, beberapa kantor pemerintahan juga telah menerapkan sistem kerja dari rumah bagi pegawai yang tidak melakukan layanan publik.
Masyarakat diimbau untuk selalu menggunakan masker berkualitas saat harus keluar rumah, meningkatkan asupan cairan, dan mengonsumsi makanan bergizi untuk menjaga daya tahan tubuh. Pasien dengan riwayat penyakit paru-paru atau gangguan pernapasan lainnya dianjurkan untuk segera berobat jika mengalami gejala-gejala pneumonia.
Komentar (0)