Potret Warga Nepal Panik Diminta Evakuasi Lagi, Siaga Banjir Susulan
Warga di beberapa wilayah Nepal kembali diberikan peringatan evakuasi setelah pemerintah mengumumkan potensi banjir susulan akibat turunnya hujan lebat yang terus berlanjut. Kondisi ini memicu kepanikan di tengah masyarakat yang masih berjuang untuk pulih dari bencana banjir sebelumnya yang telah mengakibatkan kerusakan luas dan korban jiwa.
Badan Meteorologi dan Hidrologi Nepal telah mengeluarkan peringatan siaga banjir merah untuk beberapa sungai utama di negara itu, termasuk Sungai Koshi, Bagmati, dan Narayani. Peringatan ini dikeluarkan setelah curahan hujan ekstim dilaporkan di beberapa bagian pegunungan Himalaya yang menjadi sumber utama sungai-sungai tersebut.
Kondisi Darurat Berlanjut
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional Nepal, Surya Prasad Sharma, mengatakan bahwa pihaknya telah mempersiapkan tim darurat untuk merespons potensi banjir susulan. "Kita sudah mengaktifkan pusko pengendalian bencana di tingkat nasional dan daerah. Tim evakuasi siaga di 23 distrik berisiko tinggi," ujarnya dalam konferensi pers di Kathmandu.
Evakuasi massal sedang berlangsung di beberapa wilayah terdampak, terutama di distirik terbuka seperti Sunsari, Morang, dan Saptari. Warga diarahkan untuk pindah ke lokasi pengungsian yang lebih aman, termasuk sekolah dan gedung pemerintah yang telah disiapkan sebagai tempat sementara.
Seorang warga di Sunsari, Ram Kumar Thapa, mengungkapkan kepanikannya. "Kita baru saja mulai membangun kembali rumah setelah banjir bulan lalu. Sekarang kita diminta mengungsi lagi. Takut rumah yang baru dibangun ini hanyut lagi," keluhnya sambil membawa barang-barang berharga dalam karung plastik.
Dampak Bencana Berkelanjutan
Banjir yang terjadi beberapa minggu lalu telah mengakibatkan 35 orang tewas dan lebih dari 40 orang lainnya dilaporkan hilang. Lebih dari 12.000 rumah hanyut atau rusak parah, dan sekitar 100.000 orang terpaksa mengungsi. Kerugian material diperkirakan mencapai miliaran dolar AS, yang berdampak signifikan pada perekonomian Nepal yang sudah terbebani oleh pandemi COVID-19.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan tentang potensi wabah penyakit menular di daerah terdampak banjir. "Air bersih yang terkontaminasi dan sanitasi yang buruk menjadi ancaman serius. Kita khawatir akan terjadi lonjakan kasus diare, demam berdarah, dan penyakit kulit," kata juru bicara WHO Nepal, Dr. Sher Bahadur Pun.
Pemerintah Nepal telah meminta bantuan internasional untuk menangani situasi darurat. Negara-negara tetangga seperti India dan China serta organisasi kemanusiaan internasional seperti Palang Merah dan PBB telah menyatakan siap memberikan bantuan.
Upaya Penanggulangan dan Rekonstruksi
Menteri Perumahan Umum dan Pembangunan Permukiman Nepal, Prithvi Subba Gurung, mengatakan pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar 500 juta rupee Nepal (sekitar 4,2 juta dolar AS) untuk program rekonstruksi. "Kita akan memberikan bantuan tunai bagi warga yang rumahnya hancur. Selain itu, kita akan membangun kembali rumah dengan standar lebih tahan bencana," ujarnya.
Ahli lingkungan hidup menyoroti bahwa banjir yang terjadi di Nepal semakin sering dan parah akibat perubahan iklim. "Pemanasan global menyebabkan pencairan gletser di Himalaya dengan cepat. Ini berarti volume air yang mengalir ke sungai-sungai akan meningkat secara drastis, terutama saat musim hujan," kata klimatologis dari Universitas Tribhuvan, Dr. Ram Chandra Khanal.
Di tengah krisis, masyarakat sipil dan relawan terus bergerak untuk membantu sesama. Organisasi swasta seperti Nepal Red Cross Society dan berbagai kelompok relawan lokal telah mendirikan dapur umum dan pusko kesehatan di daerah terdampak.
Sementara itu, Badan Meteorologi memperkirakan hujan akan terus turun selama seminggu ke depan. Pemerintah telah meminta warga di daerah rawan banjir untuk tetap waspada dan siap mengungsi jika diperlukan. "Kita tidak bisa menghentikan bencana alam, tapi kita bisa mempersiapkan diri untuk mengurangi dampaknya," kata Perdana Menteri Sher Bahadur Deuba dalam pesan televisi nasional.
Komentar (0)