29, 2026
Teknologi

Trump Cekik Iran dengan "Terorisme Negara"-Mojtaba Khamenei Buka Suara

Iran mengecam sanksi AS sebagai terorisme negara. Khamenei larang tindakan yang merusak kohesi sosial di tengah tekanan ekonomi yang meningkat.]]>

Andi Prasetyo
Andi Prasetyo Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Trump Cekik Iran dengan "Terorisme Negara"-Mojtaba Khamenei Buka Suara

Trump Tetapkan Iran sebagai Negara Pendukung Terorisme

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi menetapkan Iran sebagai negara pendukung terorisme, sebuah langkah kontroversial yang meningkatkan ketegangan antara Washington dan Teheran. Keputusan tersebut ditandai dengan penandatanganan perintah eksekutif yang secara hukum mengkategorikan Iran sebagai "negara yang mendukung terorisme," sebuah status yang sebelumnya hanya diberikan kepada Suriah dan Korea Utara.

Langkah ini diambil oleh pemerintahan Trump hanya beberapa hari sebelum akhir masa jabatannya, menandai titik balik baru dalam hubungan yang sudah tegang antara dua negara. Penetapan status ini akan memungkinkan sanksi ekonomi yang lebih keras terhadap Iran dan membatasi kemampuan Teheran untuk bertransaksi secara internasional.

Reaksi dari Iran

Pemerintah Iran mengecam keras keputusan Amerika Serikat, menyebutnya sebagai "aksi terorisme ekonomi" yang bertujuan untuk menyakiti rakyat Iran. Menlu Iran Mohammad Javad Zarif menyatakan bahwa penetapan status ini adalah upaya Amerika untuk "menutup kegagalannya dalam kebijakan luar negeri dan isolasi dirinya sendiri."

Iran menegaskan bahwa keputusan ini tidak akan mengubah kebijakan luar negerinya dan akan terus mendukung kelompok-kelompok yang mereka anggap sebagai gerakan perlawanan terhadap Israel dan pengaruh Barat di Timur Tengah. Iran juga menyatakan bahwa keputusan Amerika ini melanggar hukum internasional dan prinsip-prinsip dasar hubungan antarnegara.

Komentar Mojtaba Khamenei

Putra tertua Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei, ikut menyampaikan reaksi terhadap keputusan tersebut. Dalam sebuah pernyataan yang jarang terdengar dari dirinya, Mojtaba menyebut keputusan Trump sebagai "aksi putus asa dari sebuah rezim yang sedang runtuh."

"Mereka tidak bisa menghancurkan Iran secara militer, jadi mereka mencoba melakukannya secara ekonomi," ujar Mojtaba, yang biasanya tidak terlihat di panggung internasional. "Tapi mereka akan gagal. Sejaria menunjukkan bahwa tekanan eksternal hanya membuat bangsa Iran lebih kuat dan bersatu."

Pernyataan Mojtaba menarik perhatian karena jarang ia terlibat langsung dalam isu-isu internasional. Sebagai putra pemimpin tertinggi Iran, komentarnya dianggap sebagai indikasi sejauh mana keputusan Amerika Serikat dianggap serius oleh keluarga penguasa Iran.

Dampak Internasional

Keputusan Amerika Serikat ini mendapat beragam reaksi dari komunitas internasional. Beberapa negara sekutu AS mendukung langkah tersebut dengan menyebut Iran sebagai ancaman bagi stabilitas regional. Sementara itu, negara-negara Eropa, termasuk Inggris, Perancis, dan Jerman, menyatakan kekhawatiran mereka bahwa langkah ini akan mempersulit upaya diplomatik dan dapat memicu konflik yang lebih luas.

Para analis internasional mengatakan bahwa penetapan status ini dapat mempersulit upaya revitalisasi kesepakatan nuklir Iran 2015, yang telah ditinggalkan oleh Trump pada tahun 2018. Dengan status baru ini, negara-negara Eropa akan menghadapi tantangan dalam mempertahankan hubungan ekonomi dengan Iran tanpa melanggar sanksi AS.

Konteks Hubungan AS-Iran

Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran telah memburuk sejak Trump mengumumkan penarikan AS dari kesepakatan nuklir pada tahun 2018. Sejak itu, AS telah memberlakukan serangkaian sanksi ekonomi yang berat terhadap Iran, sementara Iran secara bertahap mengurangi komitmennya terhadap batasan-batasan nuklir dalam kesepakatan tersebut.

Situasi memburuk pada Januari 2020 ketika AS membunuh Jenderal Qasem Soleimani, komandan elite pasukan Quds Iran di Irak, dalam serangan udara di Bandara Internasional Baghdad. Pembunuhan Soleimani memicu serangan balasan Iran terhadap basis militer AS di Irak, menandai eskalasi militer langsung antara kedua negara.

Masa Depan Hubungan Dua Negara

Dengan beralihnya kepresidenan di Amerika Serikat, masa depan huburan AS-Iran menjadi tidak pasti. Presiden terpilih Joe Biden telah menyatakan kesiapan untuk kembali ke kesepakatan nuklir Iran, tetapi hanya jika Iran kembali mematuhi semua batasan yang ditetapkan dalam perjanjian tersebut.

Namun, penetapan status Iran sebagai negara pendukung terorisme oleh Trump akan menciptakan hambatan baru bagi administrasi Biden. Status ini memungkinkan sanksi yang lebih keras dan akan sulit untuk dibatalkan tanpa persetujuan Kongres AS.

Para ahli menyarankan bahwa baik AS maupun Iran perlu mengambil langkah-langkah untuk menurunkan ketegangan sebelum upaya diplomatik dapat dimulai kembali. Namun, dengan kedua belah pihak yang mengambil posisi keras dan kepercayaan yang rendah, jalan menuju normalisasi hubungan tampaknya masih jauh.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Andi Prasetyo

Kontributor bidang kebugaran dan olahraga. Menulis tips workout dan gaya hidup aktif.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam
IKLAN SIDEBAR — SLOT AKTIF ✅
300x250 / responsif

Newsletter