Kasus Pneumonia di Pontianak Meningkat Imbas Asap Karhutla
Pemerintah Kota Pontianak mengumumkan peningkatan signifikan kasus pneumonia di tengah musim kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah tersebut. Dinas Kesehatan Kota Pontianak mencatat adanya lonjakan pasien pneumonia terutama pada anak-anak dan lanjut usia dalam dua pekan terakhir. Kondisi ini diduga berkaitan erat dengan kualitas udara yang buruk akibat kabut asap pekat menyelimuti kawasan.
Kepala Dinas Kesehatan Pontianak, dr. H. Siti Aminah, mengatakan bahwa pihaknya telah menerima laporan dari beberapa puskesmas di wilayahnya mengenai peningkatan kasus pneumonia. "Kami mencatat ada peningkatan sekitar 40 persen dalam dua pekan terakhir. Mayoritas pasien adalah balita dan lansia yang rentan terhadap pencemaran udara," jelas Siti Aminah dalam konferensi pers yang diadakan Selasa (12/9) lalu.
Lonjakan Kasus di Puskesmas
Data yang dikumpulkan Dinas Kesehatan menunjukkan bahwa dari total 12 puskesmas di Pontianak, 10 di antaranya melaporkan peningkatan kasus pneumonia. Puskesmas Pontianak Timur dan Pontianak Selatan menjadi dua fasilitas kesehatan yang paling banyak menerima pasien dengan gejala serupa. "Rata-rata, setiap hari kami menerima 5-7 pasien baru dengan gejala pneumonia. Ini jelas peningkatan signifikan dibandingkan sebelumnya," ujar dr. Ahmad Fauzi, Kepala Puskesmas Pontianak Timur.
Gejala yang paling sering dilaporkan pasien antara lain batuk berdahak, sesak napas, demam, dan dada terasa sesak. Pada kasus berat, pasien membutuhkan perawatan intensif karena oksigen dalam tubuh menurun drastis. "Anak-anak dan lansia memang rentan terhadap dampak pencemaran udara. Sistem imun mereka belum atau sudah tidak sekuat dewasa, sehingga mudah terkena infeksi paru-paru," jelas dr. Fauzi.
Asap Karhutla sebagai Pemicu Utama
Peningkatan kasus pneumonia ini terjadi seiring dengan munculnya kabut asak akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat. Indeks Pencemar Udara (IPU) di beberapa titik di Pontianak tercatat mencapai angka berbahaya, bahkan sempat menyentuh angka 1.000 pada beberapa hari lalu. Menurut standar World Health Organization (WHO), IPU di atas 100 sudah dianggap tidak sehat dan berbahaya bagi kelompok rentan.
"Kami menduga peningkatan kasus pneumonia ini sangat dipengaruhi oleh kualitas udara yang buruk. Partikel-partikel halus dalam asap dapat masuk ke saluran pernapasan dan menimbulkan infeksi terutama pada paru-paru," jelas dr. Siti Aminah. Ia menambahkan bahwa Dinas Kesehatan telah bekerja sama dengan Badan Lingkungan Hidup untuk memantau kualitas udara secara rutin.
Tindakan Pencegahan dan Penanganan
Untuk mengatasi situasi ini, Pemerintah Kota Pontianak telah mengambil sejumlah langkah preventif. Pertama, penyediaan masker medis gratis di puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya. Kedua, edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. "Kami juga mendorong masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di luar rumah jika tidak terpaksa, terutama bagi anak-anak dan lansia," tambah Siti Aminah.
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soedarso Pontianak juga telah menyiapkan ruang isolasi tambahan untuk menangani pasien pneumonia dalam jumlah besar. "Kami sudah menambah tempat tidur dan tenaga medis khusus untuk menangani lonjakan kasus pneumonia ini," ujar Direktur RSUD Dr. Soedarso, dr. Budi Santoso.
Upaya Penanggulangan Karhutla
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat terus berupaya menanggulapi bencana karhutla. Sebanyak 50 personel dari Basarnas, TNI, dan Polri telah diterjunkan untuk melakukan pemadaman api di titik-titik panas di beberapa kabupaten. "Kami juga menggunakan pesawat air bombing untuk memadamkan api di area yang sulit dijangkau darat," kata Kepala BPBD Kalimantan Barat, H. Rudi Hartono.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti anjuran pihak berwenang. "Kami meminta masyarakat untuk tidak membakar hutan atau lahan, baik untuk pertanian maupun keperluan lain. Kegiatan ini hanya akan memperparah kondisi udara," pungkas Rudi Hartono.
Komentar (0)