Kabut Asap Mengganggu Kesehatan, Sekolah, dan Penerbangan
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan dalam beberapa pekan terakhir. Kabut asap yang ditimbulkan menyelimuti langit di berbagai daerah, sementara warga mengeluhkan gangguan kesehatan dan terganggunya aktivitas sehari-hari.
Berdasarkan pantauan satelit, ratusan hingga ribuan titik panas terdeteksi tersebar di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur. Konsentrasi terbesar tercatat di kawasan lahan gambut yang kering akibat musim kemarau berkepanjangan. Kondisi itu membuat api cepat menyebar dan sulit dipadamkan, terutama ketika asap tebal terbawa angin hingga ke wilayah perkotaan. Laporan dari berbagai kabupaten menunjukkan kabut asap telah menyelimuti kawasan itu selama lebih dari dua pekan terakhir.
Kualitas udara di sejumlah kota pun memburuk. Indeks standar pencemaran udara dilaporkan berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya. Warga mengeluhkan bau asap yang menyengat, mata perih, batuk, dan sesak napas. "Bahkan di dalam rumah pun bau asapnya terasa. Anak saya sampai batuk-batuk dan tidak bisa tidur nyenyak," ujar seorang warga Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kepada wartawan.
Kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan, menjadi yang paling terdampak. Dinas kesehatan setempat mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar ruangan, memakai masker, serta segera memeriksakan diri jika mengalami gejala gangguan pernapasan. Beberapa puskesmas melaporkan peningkatan jumlah pasien dengan keluhan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Sejumlah sekolah juga terpaksa meliburkan siswa atau memindahkan kegiatan belajar ke dalam ruangan demi melindungi kesehatan murid.
Dampak kabut asap turut dirasakan sektor transportasi. Sejumlah penerbangan dari dan menuju beberapa bandara di Kalimantan mengalami keterlambatan bahkan pembatalan karena jarak pandang menurun drastis di bawah batas aman. Perjalanan darat dan sungai ikut melambat akibat kabut yang membatasi pandangan pengemudi dan nahkoda. Kabut asap juga mengganggu aktivitas ekonomi, seperti pasar dan pelabuhan, serta menurunkan produktivitas pekerja.
Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah mengerahkan berbagai upaya penanganan. Petugas gabungan dari TNI, Polri, Manggala Agni, dan relawan dikerahkan untuk pemadaman darat, didukung water bombing dari udara serta teknologi modifikasi cuaca untuk menciptakan hujan buatan. Operasi difokuskan pada titik-titik api yang berpotensi meluas, terutama di lahan gambut.
Karhutla di Kalimantan bukan sekadar persoalan lokal. Jika tidak segera tertangani, kabut asap berisiko menyebar ke wilayah lain dan berdampak pada kesehatan masyarakat secara lebih luas. Kepala daerah diimbau memperkuat patroli pencegahan dini, sementara warga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar karena pelaku karhutla dapat dikenakan sanksi pidana.
Komentar (0)