Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) menyatakan bahwa proses restorasi Desa Adat Sade di Kabupaten Lombok Tengah akan berlangsung sangat mahal. Pernyataan tersebut disampaikan dalam kaitannya dengan upaya pemeliharaan bangunan tradisional di kawasan wisata yang menjadi ikon budaya Sasak tersebut. Menurut gubernur, biaya besar tidak dapat dihindari karena restorasi harus tetap mempertahankan keaslian konstruksi rumah adat.
Bahan Alami dan Tenaga Pengrajin Jadi Penentu Biaya
Desa Adat Sade dikenal dengan rumah tradisional yang seluruhnya dibangun dari bahan alami. Atapnya terbuat dari alang-alang, dindingnya dari anyaman bambu dan tanah liat, sementara lantainya dilapisi campuran tanah dan kotoran kerbau. Material semacam ini tidak dapat digantikan dengan bahan modern karena akan menghilangkan nilai keaslian yang menjadi daya tarik utama desa tersebut. Akibatnya, setiap perbaikan harus menggunakan bahan sejenis yang harganya kian meningkat seiring terbatasnya ketersediaan.
Selain bahan, ketersediaan tenaga pengrajin tradisional menjadi faktor lain yang mendorong tingginya biaya. Pengerjaan rumah adat Sade membutuhkan keterampilan khusus yang diwariskan secara turun-temurun, dan jumlah pengrajin yang menguasai teknik tersebut semakin berkurang. Kombinasi antara material asli yang mahal dan tenaga ahli yang langka membuat proses restorasi memerlukan anggaran yang tidak sedikit.
Bagi masyarakat NTB, kelestarian Desa Adat Sade bukan sekadar persoalan fisik bangunan. Desa tersebut merupakan salah satu destinasi wisata budaya utama di Pulau Lombok yang dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Keberlangsungan kunjungan wisata turut menopang ekonomi warga sekitar yang menggantungkan penghidupan dari sektor pariwisata. Oleh karena itu, pemerintah daerah dipandang perlu menyusun rencana restorasi secara matang agar tidak mengganggu aktivitas wisata. Rumah-rumah di desa tersebut juga rentan mengalami kerusakan akibat cuaca, sehingga perawatan atap alang-alang perlu dilakukan secara berkala.
Pemerintah Provinsi NTB dikabarkan tengah mengkaji berbagai skema pembiayaan untuk mendukung restorasi tersebut. Beberapa opsi yang dipertimbangkan antara lain penggunaan anggaran daerah, dukungan pemerintah pusat, serta keterlibatan pihak swasta melalui program kemitraan dan tanggung jawab sosial perusahaan. Gubernur juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat adat setempat dalam setiap tahap restorasi agar nilai budaya yang hidup di dalamnya tetap terjaga.
Dengan besarnya kebutuhan biaya, pemerintah daerah berharap seluruh pemangku kepentingan dapat berkolaborasi. Keberhasilan restorasi Desa Adat Sade nantinya tidak hanya menyelamatkan warisan budaya, tetapi juga memperkuat posisi NTB sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan di Indonesia.
Komentar (0)