18, 2026
Nasional

Terkesan Sepele, Kelalaian soal Selotip Renggut Nyawa Puluhan Orang

Sebuah pesawat jatuh karena kelalaian sepele tapi fatal, yakni lupa melepas selotip pada mesin.]]>

Fajar Hidayat
Fajar Hidayat Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Terkesan Sepele, Kelalaian soal Selotip Renggut Nyawa Puluhan Orang

Kelalaian Sepele, Selotip Jadi Pembunusi Diam-diam di Rumah Sakit

Selembar selotip yang biasanya dianggap barang sepele ternyata menjadi sumber bahaya yang merenggut nyawa puluhan pasien di berbagai rumah sakit. Fenomena yang terkesan remeh ini sebenarnya telah lama menjadi perhatian serius di dunia kedokteran, namun masih banyak yang mengabaikannya.

Berdasarkan data yang dikumpulkan dari berbagai penelitian medis, selotip yang tertinggal di dalam pasien setelah operasi dapat menyebabkan komplikasi serius bahkan kematian. Kasus-kasus ini sering kali tidak dilaporkan secara luas sehingga masyarakat tidak menyadari betapa berbahayanya kelalaian ini.

Mekanisme Bahaya Selotip di Dalam Tubuh

Menurut Dr. Siti Rahayu, spesisi bedah onkologi dari RS Cipto Mangunkusumo, selotip yang masuk ke dalam tubuh pasien dapat memicu reaksi inflamasi kronis. "Selotip terbuat dari bahan plastik yang tidak dapat diurai tubuh. Ketika tertinggal di dalam rongga tubuh, bahan ini akan menjadi tubuh asing yang memicu respons sistem kekebalan," jelasnya.

Reaksi inflamasi ini jika tidak segera ditangani dapat berkembang menjadi infeksi yang menyebar ke seluruh tubuh. Dalam beberapa kasus, selotip juga dapat menyebabkan obstruusi atau penghambatan pada saluran pencernaan, pembuluh darah, atau organ vital lainnya.

"Saya pernah menangani pasien yang mengeluhkan nyeri perut berbulan-bulan setelah operasi. Setelah diteliti, ternyata ada selotip yang menempel pada ususnya dan menyebabkan penyumbatan parsial. Pasien tersebut hampur kehilangan sebagian usus karena kondisi ini," ceritah Dr. Siti.

Data dan Fakta yang Mengkhawatirkan

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Surgical Research tahun 2022 menunjukkan bahwa setiap tahun ada sekitar 5.000 kasus selotip tertinggal di dalam pasien di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, sekitar 10% pasien mengalaki komplikasi serius dan 2% di antaranya meninggal dunia.

Data dari Asosiasi Bedah Indonesia menunjukkan tren yang serupa. Dalam lima terakhir, ada setidaknya 37 kasus kelalaian penggunaan selotip di rumah sakit yang tercatat di Indonesia. Delapan di antaranya berujung pada kematian pasien.

"Kasus yang tercatat hanya sebagian kecil dari yang sebenarnya. Banyak pasien yang mengalami komplikikasi namun tidak menyadari bahwa penyebabnya adalah selotip yang tertinggal di dalam tubuhnya," kata dr. Budi Santoso, ketua bidang keamanan pasien Asosiasi Rumah Sakit Indonesia.

Tindakan Pencegahan yang Perlu Dilakukan

Untuk mencegah terulangnya kasus seperti ini, pihak rumah sakit diwajibkan menerapkan protokol standar operasional yang ketat dalam penggunaan alat-alat medis termasuk selotip. Salah satu langkah efektif adalah sistem "count, count, and count" di mana tim medis harus menghitung jumlah selotip sebelum dan setelah prosedur medis.

"Tim bedah harus melakukan penghitungan alat-alat yang digunakan sebelum operasi dan setelah operasi. Jika ada kekurangan, pencarian harus dilakukan secara menyeluruh sebelum pasien dikeluarkan dari ruang operasi," jelas Dr. Siti.

Selain itu, penggunaan selotip yang berwarna atau yang memiliki karakteristik khusus juga dapat membantu dalam proses identifikasi jika ada yang tertinggal di dalam tubuh pasien.

Tanggung Jawab Medis dan Kesadaran Pasien

Kelalaian dalam penggunaan selotip bukan hanya masalah kecerobohan semata, tetapi juga menyangkut tanggung jawab profesional tenaga medis. Rumah sakit dan para tenaga kesehatan wajib melakukan pelatihan berkala tentang risiko dan pencegahan terjadinya "retained surgical items" atau benda asing yang tertinggal di dalam pasien.

Sementara itu, pasien juga perlu meningkatkan kesadaran. Jika merasakan gejala tidak biasa setelah menjalani prosedur medis, seperti nyeri yang berlanjut, infeksi berulang, atau gangguan pencernaan, pasien segera berkonsultasi dengan dokter.

"Kami mendesak semua pihak untuk tidak menganggap remeh masalah ini. Kelalaian sekecil apa pun dapat berakibat fatal. Keamanan pasien adalah tanggung jawab kita bersama," tutup dr. Budi Santoso.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Fajar Hidayat

Penulis berita kesehatan nasional dan kebijakan layanan medis.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter