17, 2026
Nasional

RSCM Ungkap Pemeriksaan Siswi di Karo Diduga Hilang Ingatan

Eka Kusuma
Eka Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

RSCM Ungkap Pemeriksaan Siswi di Karo Diduga Hilang Ingatan

Sejumlah siswi di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang diduga mengalami hilang ingatan telah menjalani pemeriksaan mendalam di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan siswi tersebut dan memastikan apakah benar mereka mengalami gangguan ingatan atau terdapat faktor lain yang menjadi penyebab kondisi yang dialami.

Kepala Divisi Ilmu Penyakit Saraf RSCM, Dr. Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan bahwa tim medis telah melakukan serangkaian pemeriksaan komprehensif terhadap para siswi. Pemeriksaan tersebut meliputi pemeriksaan fisik, neuropsikologi, serta pemeriksaan laboratorium dan imaging untuk mengeksklusi kemungkinan adanya penyakit fisik yang dapat menyebabkan gejala yang dialami siswi tersebut.

Hasil Pemeriksaan Medis

Menurut Dr. Tjandra, hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa kondisi fisik para siswi secara umum dalam keadaan baik. Tidak ditemukan adanya kelainan organik yang signifikan pada sistem saraf mereka. "Hasil pemeriksaan neurologis dasar menunjukkan tidak ada tanda-tanda kerusakan saraf yang jelas. Para pasien juga dapat menjawab pertanyaan dasar dengan benar meskipun terkadang ada beberapa kebingungan," ujarnya.

Tim medis juga melakukan pemeriksaan neuropsikologi untuk menilai fungsi kognitif para siswi. Pemeriksaan ini fokus pada aspek ingatan, perhatian, kemampuan berpikir, dan fungsi kognitif lainnya. "Beberapa dari mereka menunjukkan adanya gangguan ringan pada ingatan jangka pendek, namun tidak sampai pada level hilang ingatan total yang dilaporkan sebelumnya," jelas Dr. Tjandra.

Kemungkinan Faktor Psikologis

Dari hasil pemeriksaan tersebut, tim medis RSCM menduga bahwa kondisi yang dialami para siswi lebih banyak dipengaruhi oleh faktor psikologis daripada masalah medis fisik. "Berdasarkan pengamatan klinis, gejala yang dialami siswi tersebut memiliki kemiripan dengan kondisi disosiatif atau konversi di mana gejala fisik muncul tanpa adanya penyebab medis yang jelas," tambahnya.

Dr. Tjandra menjelaskan bahwa kondisi disosiatif seringkali terjadi sebagai respons terhadap stres atau trauma psikologis yang berat. "Dalam kasus ini, kami menduga ada faktor tekanan psikologis yang mungkin dialami siswi, baik dari lingkungan sekolah maupun faktor lainnya yang belum teridentifikasi dengan jelas," ujarnya.

Rekomendasi Perawatan

Berdasarkan temuan tersebut, tim medis RSCM memberikan rekomendasi perawatan yang berfokus pada pendekatan psikologis dan psikiatri. "Para siswi akan mendapatkan pendekatan terapi yang mencoba menemukan akar masalah psikologis yang mendasari gejala yang mereka alami. Ini penting untuk mencegah gejala kambuh di masa depan," jelas Dr. Tjandra.

Ia juga menekankan pentingnya peran keluarga dan lingkungan sekolah dalam proses pemulihan para siswi. "Dukungan sosial yang positif dari keluarga dan lingkungan sekitar sangat krusial dalam proses penyembuhan. Kita perlu menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi mereka untuk pulih sepenuhnya," tambahnya.

Kasus Mirip di Berbagai Daerah

Kasus siswi di Karo yang diduga hilang ingatan ini sebenarnya bukanlah yang pertama kali terjadi di Indonesia. Sebelumnya, serupa pernah terjadi di beberapa daerah seperti Jawa Tengah dan Jawa Barat. Dalam kasus-kasus sebelumnya, mayoritas penderita juga didominasi oleh faktor psikologis.

Dokter Spesialis Jiwa dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr. Samsuridjal Djauzi, mengatakan bahwa kondisi seperti ini seringkali terjadi pada remaja yang sedang mengalami masa transisi dan rentan terhadap tekanan psikologis. "Pada usia remaja, mereka sedang dalam proses pencarian identitas dan rentan terhadap pengaruh lingkungan. Faktor tekanan akademik, pergaulan, atau masalah dalam keluarga dapat memicu respons psikologis seperti ini," jelasnya.

Langkah Pencegahan

Untuk mencegah kasus serupa terjadi di kemudian hari, pihak sekolah dan pemerintah daerah diimbau untuk lebih memperhatikan kesehatan mental siswa. "Perlu ada program pencegahan dan edukasi mengenai kesehatan mental di sekolah. Juga penting untuk menciptakan budaya sekolah yang sehat dan mendukung, bukan menekan," ujar Dr. Samsuridjal.

Dirjen Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, dr. Maxi Rein Rondonuwu, menambahkan bahwa pemerintah terus berupaya meningkatkan layanan kesehatan mental di seluruh Indonesia. "Kami sedang mengembangkan program pemerintah untuk memperkuat layanan kesehatan mental di tingkat puskesmas dan rumah sakit, termasuk untuk kelompok remaja," tuturnya.

Sementara itu, pihak sekolah tempat siswi tersebut menempuh pendidikan mengaku akan mengikuti rekomendasi dari tim medis RSCM. "Kami akan bekerja sama dengan pihak terkait untuk memberikan dukungan psikologis kepada siswi dan keluarga mereka. Kami juga akan mengevaluasi sistem pendidikan di sekolah untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan mendukung," ucap Kepala Sekolah tersebut.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Eka Kusuma

Kontributor rubrik data dan visualisasi angka penting.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter