Pencarian Lima Jurnalis Hilang Kontak, Tim SAR Belum Bisa Masuk Pulau Sertung
Pulau Sertung, Kepulauan Seribu - Tim pencarian dan penyelamatan (SAR) menghadapi tantangan berat dalam mencari lima jurnalis yang dilaporkan hilang kontak sejak Rabu (15/3) lalu. Lima korban yang diketahui sedang meliput kegiatan di Pulau Sertung tersebut adalah Budi Santoso (32), editor di majalah mingguan; Rina Wijaya (28), kameraman; Ahmad Fauzi (35), peneliti senior; Siti Nurhaliza (30), fotojurnalis; dan Dimas Pratama (27), reporter lapangan. Mereka diketahui terakhir kali mengirim pesan sekitar pukul 14.00 WIB sebelum komunikasi terputus secara tiba-tiba.
Kondisi Cuaca Buruk Menghambat Evakuasi
Kepala Basarnas Jakarta, Eko Budi Santoso, mengatakan bahwa tim SAR telah berupaya keras untuk mencapai lokasi namun terhambat oleh kondisi cuaca yang buruk. "Kami sudah mengirim dua unit kapal patroli namun terpaksa kembali karena gelombang setinggi tiga meter dan angin kencang. Kami masih menunggu kondisi membaik untuk melanjutkan operasi," ujar Eko dalam konferensi pers di Kantor Basarnas, Kamis (16/3).
Menurut laporan yang diterima, lima jurnalis tersebut sedang meliput proyek reklamasi pantai yang kontroversial di Pulau Sertung. Proyek ini lama menjadi perhatian karena dituduh merusak ekosistem laut setempat. Mereka berencana menghabiskan dua hari di pulau tersebut untuk melakukan investigasi mendalam.
Kronologi Hilang Kontaknya Lima Jurnalis
Kronologi kejadian dimulai pada Rabu (15/3) pagi ketika lima jurnalis tiba di Pulau Sertung menggunakan kapal sewaan dari Jakarta. Mereka menginap di homestay milik warga setempat dan berencana melaksanakan kegiatan liputan selama dua hari.
Ketua Asosiasi Jurnalis Investigasi Indonesia (AJII), Heru Santoso, mengatakan bahwa korban terakhir kali mengirim update melalui grup WhatsApp sekitar pukul 14.00 WIB. "Budi mengirimkan pesan bahwa mereka akan melanjutkan ke lokasi reklamasi setelah istirahat siang. Sejak itu tidak ada kabar lagi," ujar Heru.
Pemilik homestay, Hasan (45), mengaku bahwa pada sore hari cuaca tiba-tiba buruk. "Saya ingat sekira pukul 16.00 WIB angin bertiup kencang dan hujan deras turun. Saya sempat melihat mereka berjalan menuju dermaga, namun setelah itu tidak ada lagi aktivitas," ceritanya.
Kerja Sama Antar Instansi Dipercepat
Dalam situasi genting, Basarnas telah mengkoordinasikan dengan TNI AL, Polri, dan BPBD DKI Jakarta untuk melakukan pencarian menyeluruh. Kepala Polda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Polisi Fadil Imran, mengatakan bahwa tim gabungan telah siap meluncurkan operasi segera setelah kondisi memungkinkan.
"Kami sudah menyiapkan tim khusus yang terdiri dari personel TNI AL, polisi, dan relawan untuk melakukan pencarian di darat dan laut. Tim dilengkapi peralatan komunikasi darurat dan obat-obatan," jelas Fadil.
Keluarga Korban Minta Penjelasan Jelas
Sementara itu, keluarga korban menggelar aksi di Kantor Basarnas meminta penjelasan lebih jelas soal upaya pencarian. Istri Budi Santoso, Maya Sari, mengaku takut namun masih berharap yang terbaik. "Saya minta agar semua pihak bekerja maksimal untuk menemukan suami dan rekan-rekannya. Kami tidak bisa berbuat banyak selain menunggu dan berdoa," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Kementerian Komunikasi dan Informatika juga turut memantau situasi ini. Menteri Kominfo Johnny G. Plate menginstruksikan jajarannya untuk memfasilitasi komunikasi antara keluarga korban dengan tim SAR.
Risiko Ekstrem di Lokasi Liputan
Para ahli mengingatkan bahwa Pulau Sertung memang dikenal memiliki kondisi laut yang tidak menentu. Pakar oseanografi dari Universitas Indonesia, Dr. Ahmad Rizki, menjelaskan bahwa lokasi tersebut rawan dengan arus laut yang kuat dan perubahan cuaca yang cepat.
Saat ini, tim SAR terus memantau perkembangan cuaca dan berencana segera meluncurkan operasi penyelamatan segera setelah ada peningkatan kondisi. Pihak berwenang berjanji akan memberikan update terkini mengenai perkembangan pencarian lima jurnalis yang hilang kontak tersebut.
Komentar (0)