JAKARTA – Bisnis pusat data atau data center di Indonesia dinilai masih berada di fase awal pertumbuhan, padahal permintaan terus meningkat seiring derasnya arus digitalisasi, adopsi kecerdasan buatan (AI), serta kebijakan pemerintah yang mewajibkan penyimpanan data di dalam negeri. Kondisi ini dinilai membuka peluang pendapatan bagi emiten pemilik aset data center sekaligus menjadi peluang cuan bagi investor di pasar modal.
Pengamat menilai kapasitas data center per kapita Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, hingga Thailand. Dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa dan penetrasi internet yang terus naik, kebutuhan ruang penyimpanan data disebut belum sebanding dengan pasokannya. Alhasil, pasar data center domestik diperkirakan masih akan tumbuh dua digit dalam beberapa tahun ke depan. Beberapa lembaga riset bahkan memperkirakan nilai pasar data center Indonesia dapat mencapai miliaran dolar AS dalam beberapa tahun mendatang.
Permintaan juga didorong regulasi. Pemerintah mewajibkan penyelenggara sistem elektronik menyimpan data di Indonesia melalui Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2019. Selain itu, program Pusat Data Nasional (PDN) yang dibangun di sejumlah wilayah menjadi pendorong tambahan. Masuknya raksasa teknologi global seperti Google, Amazon Web Services, Microsoft, dan Alibaba Cloud yang membangun wilayah cloud di Indonesia turut mempercepat ekosistem.
Sejumlah emiten dinilai menjadi penerima manfaat utama. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menggarap lini bisnis ini melalui NeutraDC. PT DCI Indonesia Tbk (DCII) menjadi pemain murni data center dengan fasilitas di kawasan Jakarta. PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) dan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) juga ikut berekspansi. Para analis menilai emiten-emiten tersebut berpotensi mencatatkan pertumbuhan pendapatan seiring bertambahnya kapasitas terpakai.
Saham yang Berpeluang Diuntungkan
Dari sisi pasar modal, saham emiten data center kerap dianggap sebagai pilihan jangka panjang. Permintaan yang stabil, kontrak jangka panjang, dan pendapatan berulang menjadi daya tarik utama. Namun, investor tetap diingatkan untuk selektif. Valuasi saham pemain murni data center sudah cukup tinggi, sehingga ruang apresiasi bisa lebih terbatas dalam jangka pendek.
Di sisi lain, tantangan bisnis ini tidak sedikit. Biaya listrik dan lahan yang tinggi, persaingan yang kian ketat, hingga suku bunga yang memengaruhi biaya ekspansi menjadi faktor yang perlu dicermati. Meski demikian, dengan tren digitalisasi dan AI yang belum selesai, prospek jangka panjang bisnis data center Indonesia dinilai tetap cerah.
Komentar (0)