Kodam XVIII Kasuari mengerahkan 28 unit mobil pemadam kebakaran untuk mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Papua Barat dan Papua Barat Daya (PBD). Pengerahan armada tersebut merupakan bagian dari dukungan TNI Angkatan Darat kepada pemerintah daerah dalam mengendalikan meluasnya titik api pada puncak musim kemarau. Puluhan kendaraan itu ditempatkan di pos-pos yang telah disiapkan agar dapat menjangkau lokasi kebakaran dalam waktu singkat.
Menurut keterangan Kodam XVIII Kasuari, puluhan mobil pemadam itu disebar ke sejumlah daerah rawan dan siap digerakkan cepat apabila muncul titik api baru. Armada ini memperkuat operasi yang selama ini berjalan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Manggala Agni, polisi, serta kelompok masyarakat peduli api. Personel juga disiagakan untuk mendukung pemadaman di lokasi yang sulit dijangkau kendaraan, termasuk lahan gambut dan perbukitan. Koordinasi antarpihak terus dilakukan melalui posko terpadu agar informasi titik api dapat ditindaklanjuti dengan cepat.
Prioritas Penanganan di Wilayah Papua Barat Daya
Bagi Papua Barat Daya, penambahan armada ini dinilai penting. Provinsi hasil pemekaran tahun 2022 itu mencakup Kota Sorong serta Kabupaten Sorong, Sorong Selatan, Raja Ampat, Tambrauw, dan Maybrat, dengan sebagian kawasan hutan dan lahan gambut yang rentan terbakar pada kemarau panjang.
Titik api di sekitar Sorong Raya menjadi perhatian utama karena potensi kabut asapnya dapat mengganggu kesehatan warga serta aktivitas penerbangan di Bandara Domine Eduard Osok, Sorong. Selain itu, jarak pandang yang menurun akibat asap juga berisiko mengganggu aktivitas pelayaran dan transportasi laut yang menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat di kawasan kepulauan seperti Raja Ampat. Karena itu, pemadaman dini dan patroli terpadu terus digencarkan agar api tidak meluas ke permukiman, kebun, dan kawasan hutan lindung.
Kodam XVIII Kasuari juga melibatkan personel dalam sosialisasi pencegahan karhutla kepada masyarakat. Warga diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar karena asap yang ditimbulkan berisiko mengganggu kesehatan dan aktivitas ekonomi. Masyarakat diminta segera melaporkan titik api kepada petugas agar tim pemadam dapat bergerak lebih cepat.
Selain pemadaman, upaya pendinginan dan pembasahan lahan terus dilakukan agar api tidak kembali menyala. Dukungan logistik dan personel disiagakan selama operasi berlangsung, termasuk penyediaan air dan peralatan pendukung di lokasi terpencil. Kerja sama lintas instansi ini diharapkan mampu menekan luas lahan terbakar sekaligus meminimalkan dampak asap bagi warga Papua Barat dan Papua Barat Daya. Kodam XVIII Kasuari pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan dan mencegah terjadinya kebakaran sejak dini.
Komentar (0)