Kiai Said Aqil Salat Hajat Bareng Gus Kikin Jelang Pemilihan Ketum PBNU
Acara salat hajat yang digelar oleh Kiai Said Aqil Siroj bersanling Gus Kikin (KH. Yahya Cholil Staquf) di kompleks Pondok Pesantren Al-Anwar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menjadi perbincangan hangat di tengah persiapan pemilihan Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang akan digelar November mendatang. Kedua figur kunci di tubuh organisasi Islam terbesar di Indonesia ini bertemu dalam kegiatan yang dianggap sebagai simbol kedekatan politik di tengah persaingan internal yang semakin memanas.
Sumber di internal PBNU mengungkapkan bahwa pertemuan antara Kiai Said Aqil, yang merupakan calon Ketum PBNU petahana, dengan Gus Kikin yang didaulat sebagai calon dari kaliban internal, bukanlah kebetulan. Kedua figur tersebut diketahui memiliki pendekatan berbeda dalam mengelola organisasi, namun pertemuan dalam rangka salat hajat ini diinterpretasikan sebagai bentuk komunikasi politik yang lebih dalam.
Pertemuan yang Memicu Spekulasi
Salin salat hajat yang dipimpin oleh Kiai Said Aqil ini dihadiri oleh puluhan kiai dan tokoh NU dari berbagai daerah. Meski secara resmi tidak disampaikan agenda khusus dari pertemuan tersebut, kehadiran Gus Kikin yang merupakan putra dari mantan Ketum PBNU KH. Cholil Bisri menjadi sorotan. Beberapa peserta yang hadir mengakui bahwa kehadiran Gus Kikin adalah isyarat bahwa komunikasi antar kubu calon Ketum PBNU masih terjalin.
Salah satu santri senior yang hadir dalam kegiatan tersebut membenarkan bahwa pertemuan tersebut bukan sekadar silaturahmi biasa. "Kiai Said Aqil dan Gus Kikin berdiskusi cukup lama setelah salat hajat. Mereka membicarakan berbagai hal termasuk persiapan untuk pemilihan Ketum PBNU nanti," ujarnya sambil meminta tidak disebutkan namanya.
Analisis Politik Internal NU
Analisis menyebutkan bahwa pertemuan antara Kiai Said Aqil dan Gus Kikin dapat menjadi penentu arus politik di internal NU menjelang pemilihan Ketum. Kiai Said Aqil yang mendapat dukungan dari kubu konservatif NU, berusaha mempertahankan posisinya sebagai pemimpin organisasi. Sementara itu, Gus Kikin dianggap sebagai perwakilan dari kaliban yang menginginkan perubahan dalam kebijakan organisasi, terutama dalam hal hubungan dengan pemerintah dan politik praktis.
Beberapa pihak menyebutkan bahwa salat hajat bersama ini merupakan bentuk kode bahwa kedua kubu tidak menutup kemungkinan untuk mencapai kesepakatan politik. Dalam konteks NU yang mengedepankan nilai musyawarah, mufakat, dan ijtihad, pertemuan semacam ini dianggap sebagai bagian dari proses mencapai kesepakatan yang mengutamakan kepentingan organisasi daripada kepentingan pribadi atau kelompok.
Reaksi Berbagai Pihak
Pertemuan ini memicu berbagai reaksi dari berbagai pihak di internal maupun eksternal NU. Sebagian pihak menyambut positif langkah ini sebagai bentuk kejelian politik dalam menjaga keutuhan organisasi. Sebaliknya, ada pula yang menganggap pertemuan ini sebagai strategi untuk menyatukan barisan sebelum pemilihan nanti.
Ketua Umum PBNU periode 2015-2020, KH. Said Aqil Siroj sendiri enggan memberikan komentar terkait spekulasi politik yang muncul. Ia hanya menyebutkan bahwa pertemuan tersebut adalah bagian dari rutinitas silaturahmi di tubuh NU. "Kita selalu melakukan silaturahmi, termasuk dengan Gus Kikin. Ini tidak ada hubungannya dengan pemilihan nanti," ujar Kiai Said Aqil singkat.
Di sisi lain, Gus Kikin juga memberikan respons serupa. Ia menekankan bahwa pertemuan dalam rangka salat hajat ini adalah bentuk kekhusyukan ibadah yang tidak boleh dikaitkan dengan politik praktis. Namun, ia tidak menepis kemungkinan adanya komunikasi antar kubu untuk kepentingan organisasi.
Dampak pada Pemilihan Ketum PBNU
Pertemuan antara Kiai Said Aqil dan Gus Kikin ini diyakini akan memberikan dampak signifikan pada jalannya pemilihan Ketum PBNU. Jika memang benar terjadi komunikasi politik intensif antar kubu, maka kemungkinan terbentuknya koalisi atau kesepakatan politik menjadi sangat besar.
Sumber di Badan Pekerja PBNU mengungkapkan bahwa persiapan untuk pemilihan Ketum memang sudah memasuki tahap serius. Berbagai kubu mulai menggalang dukungan dari berbagai daerah dan pesantren. Dalam situasi seperti ini, setiap komunikasi antar kandidat atau kubu dianggap memiliki makna politik tersendiri.
Pemilihan Ketum PBNU yang akan digelar November mendatang diprediksi akan menjadi salah satu pemilihan paling sengit dalam sejarah organisasi. Terdapat setidaknya tiga kandidat kuat yang akan bersaing memperebutkan kursi pimpinan organisasi, selain Kiai Said Aqil dan Gus Kikin, ada juga calon dari kaliban tradisional lainnya.
Dalam dinamika politik NU yang semakin kompleks, setiap gerakan dan pertemuan tokoh kunci akan selalu menjadi perhatian khusus. Salat hajat bersama antara Kiai Said Aqil dan Gus Kikin ini mungkin hanya sebatas ibadah, namun dalam konteks politik internal NU, setiap gerakan memiliki makna yang lebih dalam.
Komentar (0)