29, 2026
Ekonomi

Duit di Rekening Terkuras Habis, Awas Modus Baru Maling M-Banking

Penggunaan mobile banking semakin umum, namun risiko keamanan juga meningkat. Simak tips dari OJK untuk melindungi rekening dan data perbankan Anda.]]>

Hendra Wijaya
Hendra Wijaya Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Duit di Rekening Terkuras Habis, Awas Modus Baru Maling M-Banking

Duit di Rekening Terkuras Habis, Awas Modus Baru Maling M-Banking

Masyarakat diimbau waspada atas modus baru pencurian data dan uang melalui aplikasi perbankan digital atau m-banking. Kasus-kasus baru-baru ini menunjukkan bahwa para pelaku kriminal kian canggih dalam mengeksploitasi kecanggihan teknologi untuk mengakses rekening korban dan menguras seluruh saldo yang ada.

Polri telah menerima laporan berbagai modus pencurian yang terjadi belakangan ini. Salah satu modus yang paling berbahaya adalah melalui penyebaran malware atau virus melalui pesan singkat (SMS) yang berisi tautan palsu. Korban biasa menerima pesan yang menyamar sebagai pihak bank, pemerintah, atau bahkan pesan hadiah menarik. Saat korban mengklik tautan tersebut, mereka diarahkan ke halaman web yang mirip dengan aplikasi banking asli namun sebenarnya adalah situs phishing yang dirancang untuk mencuri data login.

Modus Pencurian yang Beragam

Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol. Ahmad Ramadhan, menjelaskan bahwa modus pencurian melalui digital kini semakin beragam. Selain melalui SMS phishing, para pelaku juga menggunakan metode social engineering untuk menipu korban. "Para pelaku seringkali berpura-pura sebagai customer service bank dan meminta korban untuk melakukan verifikasi data dengan alasan ada transaksi mencurigakan atau adanya update sistem," ujar Ramadhan.

Dalam beberapa kasus, korban bahkan dipersulit dengan adanya pemotongan jaringan listrik atau gangguan sinyal seluler saat sedang melakukan transaksi. Saat korban panik dan mencoba menghubungi pihak bank, pelaku yang sudah menyadap percakapan tersebut langsung mengakses aplikasi banking korban dan melakukan transfer dana ke rekening rekanan mereka.

Modus lain yang dilaporkan adalah melalui aplikasi pinjaman online ilegal. Pelaku menawarkan pinjaman dengan proses cepat tanpa jaminan. Namun, untuk mendapatkan pinjaman, korban diminta untuk mengisi data pribadi termasuk nomor rekening dan informasi login aplikasi banking dengan dalih untuk verifikasi. Setelah data tersebut diperoleh, uang di rekening korban langsung dihabiskan.

Dampak yang Signifikan bagi Korban

Dampak dari kejahatan siber ini sangat signifikan bagi para korban. Selain kerugian materiil yang langsung, korban juga mengalami stres psikologis yang berkepanjangan. Banyak korban yang merasa trauma dan kehilangan kepercayaan terhadap sistem perbankan digital.

"Saya hanya sesaat meninggalkan ponsel di meja saat di kafe, dan saat kembali sudah ada notifikasi dari bank bahwa ada beberapa transaksi besar yang tidak saya kenal. Dalam hitungan menit, seluruh uang saya yang disimpan untuk biaya operasional usaha habis," cerita seorang korban yang ingin menyembunyikan identitasnya.

Kasus serupa juga dialami oleh seorang pegawai negeri sipil (PNS) yang kehilangan puluhan juta rupiah dari rekening pribadinya. Pelaku berhasil mengakses aplikasi m-banking korban setelah memanfaatkan celah keamanan di Wi-Fi publik yang digunakan korban.

Tindakan Pencegahan dari Pihak Berwenang

Menanggapi maraknya kasus ini, Bank Indonesia bersama Asosasi Penyelenggara Jasa Pembayaran (ASPI) telah mengeluarkan beberapa pedoman keamanan untuk masyarakat. Masyarakat diimbau untuk selalu mengaktifkan notifikasi transaksi, tidak menggunakan Wi-Fi publik untuk melakukan transaksi keuangan, dan selalu memverifikasi keaslian aplikasi sebelum menginstalnya.

"Kami terus meningkatkan sistem keamanan, namun keamanan bersama juga membutuhkan partisipasi dari pengguna. Jangan pernah membagikan informasi login kepada siapa pun, bahkan jika klaimnya berasal dari pihak bank," jelas Deputi Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.

Polri juga telah membentuk satuan khusus untuk menangani kejahatan siber. Tim ini bekerja sama dengan lembaga keamanan siber lainnya untuk melacak dan menangkap para pelaku, serta mengembangkan sistem deteksi dini untuk mengantisipasi modus baru yang mungkin muncul.

Langkah-langkah yang Harus Dilakukan Korban

Bagi yang menjadi korban, langkah pertama yang harus dilakukan adalah segera menghubungi pihak bank untuk memblokir rekening dan melacak transaksi yang mencurigakan. Selanjutnya, lapor ke polisi dan siapkan bukti-bukti seperti screenshot notifikasi transaksi, log percakapan dengan pelaku, dan data transaksi lainnya.

Para ahli keamanan siber menekankan pentingnya edukasi literasi digital bagi masyarakat. Semakin tinggi tingkat literasi digital, semakin sulit bagi para pelaku untuk menipu dan mengeksploitasi celah keamanan.

Dengan semakin maraknya modus baru ini, peran masyarakat sebagai pengguna teknologi menjadi sangat penting. Kesadaran dan kehati-hatian dalam menggunakan aplikasi perbankan digital adalah kunci utama untuk mengantisipasi kerugian yang tidak diinginkan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hendra Wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam
IKLAN SIDEBAR — SLOT AKTIF ✅
300x250 / responsif

Newsletter