Kebakaran di Puncak Gunung Wilis Jatim Meluas, 29 Hotspot Terdeteksi
Wilayah puncak Gunung Wilis di Jawa Timur dilanda kebakaran hutan dan lahan yang terus meluas. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan terdeteksi 29 titik panas atau hotspot di area tersebut dalam sepekan terakhir. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap potensi dampak buruk bagi lingkungan sekitar dan aktivitas masyarakat di kaki gunung.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Abdul Muhari mengatakan bahwa kebakaran di puncak Gunung Wilis terdeteksi sejak seminggu yang lalu. "Tim sudah berada di lokasi untuk melakukan pemantauan dan penanggulangan. Kondisi cuaca yang relatif kering dan berangin menjadi salah satu faktor yang memperburat situasi," jelas Muhari dalam rilis resmi yang diterima, Kamis (15/9).
Upaya Penanggulangan Berlangsung
Tim penanggulangan bencana dari BPBD Jawa Timur bersama Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terus melakukan upaya memadamkan api. Sebanyak 50 personel dari berbagai instansi termasuk TNI, Polri, dan relawan telah diterjunkan ke lokasi.
"Kita menggunakan beberapa strategi dalam penanggulangan. Mulai dari pemaduan langsung di lokasi kebakaran, hingga pembentukan garisan pemisah (firebreak) untuk mencegah penyebaran api lebih luas. Untuk mempercepat proses pemadaman, kita juga menggunakan dua unit helikopter untuk melakukan water bombing," jelas Kepala BPBD Jatim, Aulia.
Menurut Aulia, medan yang berbukit dan sulit dijangkau menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan kebakaran ini. Beberapa titik kebakaran berlokasi di area yang sangat curam sehingga sulit diakses oleh personel darat. "Kita harus berhati-hati karena beberapa area rawan longsor. Selain itu, kondisi udara yang tipis juga membuat tim sulit bernafas saat bekerja di lokasi," tambahnya.
Dampak bagi Lingkungan dan Masyarakat
Kebakaran di puncak Gunung Wilis telah mengakibatkan kabut asap yang menyelimuti beberapa wilayah di sekitarnya. Kabut asap ini terdeteksi di sejumlah kecamatan di Kabupaten Nganjuk, Kediri, dan Trenggalek. Beberapa warga melaporkan gangguan pernafasan akibat paparan asap.
"Kita sudah melayani beberapa pasien dengan keluhan gangguan pernafasan di puskesmas terdekat. Mayoritas warga yang terdampar adalah lanjut usia dan anak-anak. Untuk sementara, kami memberikan masker gratis dan obat-obatan pernafasan," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk, Budi Santoso.
Selain dampak kesehatan, kebakaran ini juga berpotensi mengancam keanekaragaman hayati di kawasan Gunung Wilis. Kawasan ini merupakan habitat berbagai flora dan fauna langka, termasuk beberapa spesies burung endemik. "Kita khawatir jika kebakaran berlangsung lama, akan ada spesies yang terancam punah. Beberapa area hutan lindung juga terdampar," ujar Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jatim, Prabowo.
Pencegahan dan Edukasi Masyarakat
Untuk mencegah penyebaran kebakaran lebih luas, pemerintah daerah bersama aparat keamanan melakukan sosialisasi kepada masyarakat di sekitar kawasan hutan. Masyarakat diminta untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar (slash and burn) dan melaporkan segera jika melihat adanya asap atau api di kawasan hutan.
"Kami juga membentuk posko penjagaan di beberapa titik masuk kawasan hutan. Tim akan melakukan patroli rutin untuk memastikan tidak ada aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran," jelas Kepala Polres Nganjuk, AKBP Eko Prasetyo.
Sementara itu, BMKG memprediksi cuaca di Jawa Timur akan cenderung kering dengan potensi hujan yang rendah selama seminggu ke depan. "Kami berkoordinasi dengan BMKG untuk terus memantau perkembangan cuaca. Jika kondisi memburuk, kita akan menyiapkan langkah-langkah antisipasi lebih lanjut," pungkas Muhari dari BNPB.
Dengan kondisi yang belum menentu, pihak terkait berkomitmen untuk terus melakukan penanganan hingga kebakaran benar-benar padam. "Kita tidak akan mengenal lelah selama api belum sepenuhnya padam. Keselamatan warga dan pelestarian lingkungan menjadi prioritas utama," tegas Aulia dari BPBD Jatim.
Komentar (0)