Indeks Ekonomi Hijau Indonesia menunjukkan perbaikan sepanjang periode 2011-2024. Indeks ini disusun dari tiga pilar utama, yaitu ekonomi hijau, sosial, dan lingkungan, yang masing-masing memiliki sejumlah indikator penilaian dari tingkat nasional hingga regional.
Secara umum, ketiga pilar mencatat tren positif, meski dengan kecepatan yang berbeda. Pilar lingkungan menunjukkan perbaikan paling dinamis, didorong oleh peningkatan pemanfaatan energi terbarukan dan perbaikan kualitas lingkungan. Sementara itu, pilar ekonomi hijau tumbuh seiring menguatnya investasi dan lapangan kerja pada sektor berkelanjutan, dan pilar sosial bergerak lebih lambat dengan capaian yang relatif stabil.
Pilar Ekonomi dan Lingkungan Jadi Motor Perbaikan
Pilar ekonomi hijau merekam pertumbuhan sejalan dengan kebijakan fiskal yang mulai mengarah pada proyek ramah lingkungan, seperti insentif kendaraan listrik dan pengembangan ekosistem baterai. Perkembangan ini menciptakan peluang bagi sektor usaha kecil dan menengah untuk masuk ke rantai nilai baru, meski masih dihadapkan pada tantangan pembiayaan dan kesiapan teknologi.
Dari perspektif ekonomi, perbaikan pilar lingkungan juga berdampak langsung terhadap daya saing daerah. Wilayah dengan kinerja lingkungan yang baik cenderung lebih menarik bagi investasi hijau, termasuk pembangkit energi terbarukan, industri pengolahan limbah, dan pariwisata berkelanjutan. Tren ini relevan bagi pemerintah daerah yang tengah menyusun rencana pembangunan rendah karbon di tengah dorongan transisi energi nasional.
Perbedaan kondisi antarwilayah juga terlihat dalam skor pilar lingkungan. Daerah dengan sumber daya air dan energi terbarukan melimpah umumnya mencatat skor lebih tinggi, sementara kawasan perkotaan yang padat masih bergulat dengan pengelolaan sampah dan kualitas udara. Ketimpangan ini menjadi catatan penting bagi perencanaan pembangunan agar kebijakan hijau tidak hanya terkonsentrasi di sejumlah provinsi.
Adapun pilar sosial yang mencakup indikator kemiskinan, pendidikan, dan ketenagakerjaan tercatat lebih stabil sepanjang periode tersebut. Capaiannya menjadi fondasi penting, karena keberhasilan transisi ekonomi hijau pada akhirnya diukur dari pemerataan manfaat bagi masyarakat, bukan hanya dari capaian lingkungan semata.
Ke depan, laju perbaikan indeks akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan dan kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, serta dunia usaha. Dengan target emisi yang semakin ambisius, indeks ini diharapkan menjadi acuan bagi para pemangku kepentingan dalam memantau kemajuan pembangunan hijau Indonesia dari waktu ke waktu. Perhatian pada aspek pembiayaan hijau, termasuk instrumen sukuk dan obligasi berkelanjutan, juga dinilai akan semakin menentukan arah investasi pada tahun-tahun mendatang.
Komentar (0)