24, 2026 ID
Lampung

Gadis 18 Tahun Minta Cerai, Gubernur Taliban Sebut Perempuan Tak Berakal

Gadis 18 Tahun Minta Cerai, Dijawab Hinaan dan TawaKABUL — Seorang perempuan muda berusia 18 tahun menghadap mantan komandan Taliban berjanggut putih untuk meminta izin bercerai dari suaminya, yang ia tuduh melakukan kekerasan dan penganiay

Gadis 18 Tahun Minta Cerai, Dijawab Hinaan dan Tawa

KABUL — Seorang perempuan muda berusia 18 tahun menghadap mantan komandan Taliban berjanggut putih untuk meminta izin bercerai dari suaminya, yang ia tuduh melakukan kekerasan dan penganiayaan selama berbulan-bulan. Di Afghanistan, negara yang melarang anak perempuan mengenyam pendidikan menengah, gadis itu tetap menyampaikan argumennya dengan tenang dan penuh keyakinan, meski seluruh wajahnya tertutup cadar tebal dan kacamata hitam.

"Jika masih ada harapan untuk hidup bersama, saya tidak akan berada di sini… Saya sudah mengambil keputusan," katanya mantap.

Setelah berusaha membujuknya agar mengurungkan niat bercerai, gubernur setempat justru melontarkan komentar yang merendahkan. Ia menyebut perempuan sebagai makhluk yang "tidak berakal" dan "kekurangan intelektualitas". Pernyataan itu disambut tawa para pejabat pria, pengawal, dan tetua yang hadir di ruangan.

Momen tersebut menjadi gambaran langka tentang realitas keseharian di bawah pemerintahan Taliban, lima tahun setelah kelompok itu menggulingkan pemerintah yang didukung Amerika Serikat pada Agustus 2021.

Lima Tahun Taliban: Perempuan Kehilangan Hampir Segalanya

Dalam kurun waktu itu, perempuan Afghanistan dikecualikan dari hampir seluruh tempat kerja, dilarang berkuliah di universitas, serta tidak boleh bepergian sendirian atau mengunjungi taman dan pusat rekreasi. Anak perempuan juga dilarang duduk di bangku sekolah menengah, sehingga jutaan siswi kehilangan akses pendidikan. Akibatnya, banyak keluarga kehilangan pendapatan dan jutaan perempuan hidup dalam keterbatasan ekonomi yang parah.

Kelompok militan itu berkuasa dengan membawa janji telah berubah. Namun, banyak kebijakan yang mereka terapkan dinilai mirip dengan penafsiran keras hukum syariat yang diberlakukan pada 1990-an, ketika perempuan juga dipaksa menutup diri dari ruang publik. Klaim bahwa Taliban telah berubah pun sulit dibuktikan dari kebijakan yang justru makin mengekang warga, terutama perempuan.

Akses Langka BBC ke Lingkaran Dalam Taliban

Dalam serangkaian pertemuan yang berlangsung selama dua tahun, BBC memperoleh akses yang tidak biasa kepada sejumlah tokoh berpengaruh dalam gerakan Islam garis keras itu. Para jurnalis menghabiskan waktu bersama pria-pria yang pernah merencanakan serangan bom bunuh diri atau bertahun-tahun hidup di persembunyian bawah tanah, tetapi kini menjabat sebagai pejabat pemerintah dan anggota pasukan keamanan.

Tokoh-tokoh yang ditemui tampak ingin menampilkan diri sebagai sosok yang masuk akal, tetapi enggan membahas kekerasan yang mereka lakukan di masa lalu. Di sisi lain, para jurnalis juga menyaksikan momen-momen kecanggungan antara para penguasa dan rakyat yang mereka perintah. Beberapa dari mereka bahkan tampak canggung ketika ditanya soal masa depan perempuan di bawah kepemimpinan mereka.

  • Perempuan Afghanistan menuturkan kepada BBC bahwa kehidupan mereka tidak lagi bisa dikenali setelah lima tahun pemerintahan Taliban.
  • Selama lima tahun, BBC terus mempertanyakan kebijakan Taliban yang membatasi pendidikan bagi perempuan dan anak perempuan.
  • Gubernur Sarhadi menilai Tuba —bukan nama sebenarnya— sebaiknya tetap bertahan dalam pernikahannya.

Relevansi bagi Masyarakat Lampung

Bagi pembaca di Lampung, kabar dari Afghanistan menjadi pengingat bahwa hak-hak perempuan tidak boleh dianggap pasti dan harus terus dijaga. Provinsi yang ditopang peran aktif perempuan di sektor pertanian, perkebunan, perdagangan, hingga pemerintahan ini memiliki alasan kuat untuk mensyukuri jaminan kesetaraan yang tertuang dalam hukum Indonesia, sekaligus menumbuhkan solidaritas terhadap perempuan Afghanistan yang kini kehilangan hampir seluruh ruang publik mereka.

Perjuangan gadis 18 tahun yang berani bersuara di hadapan penguasa itu menunjukkan bahwa keberanian tetap tumbuh di tengah penindasan—sebuah pelajaran yang relevan bagi siapa pun yang memperjuangkan keadilan dan kesetaraan gender, termasuk di Lampung.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS admin

Komentar (0)

User

Paling Dibaca

24 jam

Newsletter

Tag