18, 2026
Politik

Ekonom Soroti Program 'Agen Perlinsos', RT-RW Harus Ikut Dilibatkan

Pemerintah rencanakan rekrut Agen Perlindungan Sosial untuk akurasi data bansos. Ekonom sarankan libatkan RT/RW dan pemberdayaan pendamping PKH.]]>

Farid Saputra
Farid Saputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 1 dibaca

Ekonom Soroti Program 'Agen Perlinsos', RT-RW Harus Ikut Dilibatkan

Ekonom Soroti Program 'Agen Perlinsos', RT-RW Harus Ikut Dilibatkan

Program "Agen Perlindungan Sosial" yang baru saja diumumkan pemerintah mendapat sorotan dari para ekonom. Menurut mereka, keberhasilan program yang bertujuan meningkatkan akses perlindungan sosial bagi masyarakat kurang mampu ini sangat bergantung pada partisipasi aktif lembaga RT-RW di tingkat desa. Tanpa melibatkan elemen yang paling dekat dengan masyarakat, program ini berisiko tidak tepat sasaran dan efektivitasnya terganggu.

Dr. Ahmad Fachurrozi, seorang ekonom dari Universitas Indonesia, menegaskan bahwa RT-RW merupakan ujung tombak implementasi kebijakan di tingkat terbawah. "Masyarakat desa lebih mudah mengakses dan percaya pada informasi yang disampaikan oleh ketua RT atau RW yang sudah dikenalnya. Jika agen perlindungan sosial ini hanya dijalankan oleh birokrat dari kota, ada potensi informasi tidak sampai dengan tepat atau malah terdistorsi," ujarnya dalam diskusi yang diselenggarakan kemarin.

Konsep Program Agens Perlinsos

Program Agens Perlinsos merupakan inisiatif pemerintah dalam upaya memperluas jangkauan perlindungan sosial kepada masyarakat yang belum terjangkau oleh program sebelumnya. Program ini akan merekrut agen di setiap RT-RW yang bertugas sebagai fasilitator, pendidik, dan penyalur bantuan sosial. Para agen ini akan mendapatkan pelatihan khusus mengenai berbagai program pemerintah seperti bantuan langsung tunai (BLT), kartu pra kerja, hingga program kesehatan BPJS.

Menurut Menteri Sosial RI, Risma, program ini dirancang untuk menjawab tantangan dalam penyaluran bantuan sosial yang seringkali terkendala karena faktai geografis dan literasi masyarakat. "Dengan agen di tingkat RT-RW, kita harap bantuan bisa lebih cepat dan tepat sasaran. Masyarakat tidak perlu lagi datang ke kantor desa atau kecamatan untuk menanyakan informasi," jelas Risma saat peluncuran program beberapa waktu lalu.

Tantangan Implementasi di Lapangan

Meski konsepnya terdengar ideal, para praktisi lapangan mengingatkan berbagai tantangan yang mungkin dihadapi dalam implementasi program ini. Bambang Haryadi, seorang aktivis sosial dari Jawa Timur, mengungkapkan bahwa kapasitas RT-RW dalam memahami program kompleks pemerintah seringkali terbatas. "Bukan semua RT-RW memiliki latar belakang pendidikan yang memadai. Mereka mungkin akan kesulitan menjelaskan mekanisme program yang teknis seperti kartu pra kerja atau BPJS kesehatan," ujarnya.

Selain itu, potensi konflik kepentingan juga menjadi kekhawatiran. Beberapa tokoh masyarakat khawatir agen yang ditunjuk bisa terpengaruh oleh kepentingan politik tertentu. "Kita harus antisipasi agar agen ini tidak menjadi alat untuk memenangkan dukungan politik tertentu. Masyarakat harus mendapatkan informasi yang objektif, bukan yang disesuaikan dengan kepentingan siapa pun," tambah Bambang.

Solusi dari Para Ahli

Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, para ekonom dan praktisi sosial menyarankan beberapa solusi. Pertama, pelatihan yang komprehensif bagi para agen harus dilakukan secara rutin dan berkala. Pelatihan tidak hanya sebatas materi program, tetapi juga tentang etika, komunikasi, dan penanganan data pribadi masyarakat.

Kedua, diperlukan sistem monitoring dan evaluasi yang independen. Pemerintah perlu membentuk tim khusus yang tidak terafiliasi dengan birokrat lokal untuk mengevaluasi kinerja agen di lapangan. "Tanpa monitoring yang ketat, program ini bisa saja disalahgunakan atau malah merugikan masyarakat," kata Dr. Siti Aminah, seorang peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Ketiga, perlu dibentuk mekanisme aduan yang mudah diakses oleh masyarakat. Masyarakat harus memiliki saluran untuk melaporkan jika agen melakukan hal yang tidak sesuai dengan aturan atau memberikan informasi yang tidak akurat. "Dengan adanya mekanisme aduan, masyarakat merasa memiliki kontrol dan bisa berpartisipasi aktif dalam menjaga keberlanjutan program ini," tambah Siti.

Kesimpulan

Program Agens Perlinsos memiliki potensi besar untuk meningkatkan efektivitas penyaluran bantuan sosif di Indonesia. Namun, keberhasilan program ini bergantung pada sejauh mana pemerintah dapat memastikan bahwa agen di RT-RW memiliki kompetensi yang memadai dan tidak terjebak dalam dinamika politik lokal. Dengan melibatkan RT-RW secara tepat dan memberikan dukungan yang cukup, program ini dapat benar-benar menjadi solusi dalam memperluas jangkauan perlindungan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Farid Saputra

Reporter lapangan yang kerap menyoroti UMKM dan ekonomi kerakyatan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter