Dokter Tirta Imbau Jangan Langsung Gosok Wajah Jika Terkena Abu Vulkanik, Ini Cara Membersihkannya
Gunung Semeru yang meletus pada Sabtu (4/12/2021) lalu menyebabkan hujan abu vulkanik yang meliputi beberapa wilayah di Jawa Timur. Abu vulkanik yang jatuh dapat menimbulkan berbagai dampak kesehatan, terutama bagi kulit dan sistem pernapasan. Salah satu ahli kulit dan kelamin, dr. Tirta Mandira Hudhi, Sp.KK(K) memberikan imbauan penting mengenai cara membersihkan abu vulkanik dari wajah dengan tepat.
Dokter Tirta yang juga praktisi di RS Pondok Indah Bintaro menyebutkan bahwa banyak orang yang salah dalam membersihkan wajah setelah terkena abu vulkanik. Menurutnya, kebiasaan menggosok wajah secara langsung saat masih kering dapat berbahaya bagi kesehatan kulit.
"Jangan pernah menggosok wajah saat masih kering. Abu vulkanik memiliki butiran yang tajam dan dapat mengikis permukaan kulit apabila digosok secara langsung. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada lapisan kulit dan memperburut kondisi," jelas dr. Tirta melalui keterangannya yang diterima VIVA.
Dampak Abu Vulkanik pada Kulit
Abu vulkanik mengandung partikel-partikel halus yang sebenarnya dapat masuk ke dalam pori-pori kulit. Jika tidak dibersihkan dengan tepat, abu ini dapat menyumbat pori-pori dan menyebabkan iritasi, bahkan infeksi. Selain itu, abu vulkanik juga dapat membuat kulit menjadi kering karena mengganggu fungsi alami kulit dalam menjaga kelembaban.
"Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Kandungannya yang mengandung silika dan logam-logam tertentu dapat bereaksi dengan kulit terutama jika kulit tersebut memiliki kondisi sensitif atau sedang mengalami iritasi sebelumnya," tambah dokter lulusan Universitas Indonesia ini.
Cara Benar Membersihkan Wajah dari Abu Vulkanik
Untuk membersihkan wajah dari abu vulkanik dengan aman, dr. Tirta mengimbau untuk mengikuti beberapa langkah berikut:
Pertama, bilas wajah dengan air mengalami secara perlahan. Langkah ini bertujuan untuk melunaskan abu vulkanik yang menempel di wajah tanpa menggosoknya secara kasar. Gunakan air yang bersih dan suhu ruangan untuk menghindari iritasi.
Kedua, gunakan pembersih wajah yang lembut. Pilih pembersih wajah yang bebas dari sulfat dan bahan kimia keras lainnya. Oleskan pembersih dengan gerakan memutar yang lembut di seluruh wajah, lalu bilas kembali dengan air bersih.
Ketiga, gunakan toner atau esensen yang mengandung bahan anti-inflamasi seperti green tea extract atau chamomile. Bahan-bahan ini dapat membantu menenangkan kulit yang mungkin mengalami iritasi akibat abu vulkanik.
Keempat, aplikasikan pelembap yang sesuai dengan jenis kulit. Penting untuk mengembalikan kelembaban kulit setelah membersihkan dari abu vulkanik. Pilih pelembap yang ringan dan tidak mengandung minyak berlebih.
Kelima, hindari penggunaan produk perawatan kulit lainnya seperti eksfoliant, retinol, atau produk yang mengandung alkohol hingga kondisi kulit benar-benar pulih. Produk-produk ini dapat memperburut iritasi pada kulit yang sudah sensitif akibat abu vulkanik.
Perawatan Tambahan untuk Kulit Terkena Abu Vulkanik
Selain membersihkan wajah dengan benar, dr. Tirta juga menyarankan untuk memperhatikan beberapa hal lain. Pertama, hindari paparan sinar matahari langsung setelah membersihkan wajah. Abu vulkanik dapat membuat kulit lebih sensitif terhadap sinar UV.
Kedua, gunakan tabir surya dengan SPF minimal 30 jika harus keluar rumah. Pilih tabir surya yang bebas dari bahan kimia keras dan ramah bagi kulit sensitif.
Ketiga, perbanyak konsumsi air putih untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi. Dehidrasi dapat memperburut kondisi kulit yang kering akibat abu vulkanik.
Keempat, jika mengalami gejala iritasi yang parah seperti ruam merah, gatal-gatal, atau luka terbuka di kulit, segera konsultasikan ke dokter spesialis kulit. Tindakan medis mungkin diperlukan untuk mengatasi kondisi yang lebih serius.
Dr. Tirta menekankan bahwa penting untuk tidak panik saat wajah terkena abu vulkanik. Dengan membersihkannya dengan cara yang tepat dan hati-hati, dampak negatif bagi kesehatan kulit dapat diminimalisir. "Kulit memiliki mekanisme regenerasi alami, asalkan kita tidak mengganggu proses tersebut dengan perawatan yang salah," tutupnya.
Komentar (0)