Erupsi Anak Krakatau Memaksa Penutupan Bandara Soetta Diperpanjang hingga 24.00 WIB
Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi intens pada Kamis (23/11) malam, mengakibatkan abu vulkanik menyelimuti wilayah sekitarnya. Akibatnya, pihak pengelola Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) memutuskan untuk memperpanjang penutupan operasional hingga pukul 24.00 WIB. Keputusan ini diambil untuk memastikan keselamatan para penumpang dan petugas bandara.
Menurut Kepala Unit Penerangan Masyarakat Bandara Soetta, Muhammad Awaludin, erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sekitar pukul 19.30 WIT menghasilkan kolom abu vulkanik setinggi 800 meter di atas puncak gunung. Abu tersebut bergerak ke arah barat daya dan mulai memengaruhi wilayah Banten dan sekitarnya sekitar pukul 20.00 WIB.
"Kami telah memantau perkembangan situasi sejak erupsi terdeteksi. Karena konsentrasi abu vulkanik yang masih tinggi di wilayah bandara, kami memutuskan untuk memperpanjang penutupan operasional hingga tengah malam," ujar Awaludin dalam keterangannya, Kamis malam.
Situasi di Bandara Soetta
Saat situasi terjadi, sejumlah penerbangan domestik dan internasional yang dijadwalkan mendarat di Bandara Soetta terpaksa dialihkan ke bandara alternatif seperti Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, Bandara Husein Sastranegara Bandung, dan Bandara Juanda Surabaya. Beberapa penerbangan yang akan berangkat dari Soetta juga dibatalkan atau ditunda hingga situasi membaik.
Pihak bandara telah menyiapkan ruang tunggu bagi para penumpang yang terdampak penundaan penerbangan. Tim kesehatan juga diterjunkan untuk membantu penumpang yang mengalami gangguan kesehatan akibat tertahan di bandara selama berjam-jam.
"Kami meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Keselamatan adalah prioritas utama kami. Kami akan terus memantau perkembangan Gunung Anak Krakatau dan akan segera memberikan update mengenai jadwal penerbangan," jelas Awaludin.
Tanggapan Pemerintah
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi segera turun tangan untuk menangani situasi ini. Ima memimpin rapat koordinasi di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan untuk membahas langkah-langkah penanganan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap operasional transportasi udara.
"Kami telah menginstruksikan seluruh maskapai untuk memberikan informasi yang jelas kepada penumpang mengenai status penerbangan. Kami juga meminta para penumpang untuk mengecek website atau aplikasi maskapai sebelum berangkat ke bandara," ujar Budi Karya.
Badan Geologi dan Mineral Nasional (Geomag) juga telah meningkatkan status Gunung Anak Krakatau menjadi Level III (Siaga) sejak erupsi terjadi. Pihak Geomag meminta masyarakat yang tinggal di sekitar kawak gunung untuk tetap waspada dan mengikuti arahan pemerintah setempat.
Dampak Erupsi Terhadap Penerbangan
Erupsi Gunung Anak Krakatau ini bukan kali pertama mengganggu operasional penerbangan di Bandara Soetta. Pada tahun 2018, gunung ini juga mengalami erupsi besar yang mengakibatkan tsunami dan menutup sementara bandara-bandara di wilayah Banten dan Lampung.
Para ahli vulkanologi mengatakan bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau cenderung meningkat dalam beberapa terakhir ini. Gunung yang terbentang dari letusan Krakatau pada tahun 1883 ini diketahui masih aktif dan dapat mengalami erupsi kapan saja.
"Meskipun erupsi saat ini tidak sekuat erupsi pada 2018, potensi bahaya masih ada. Kita harus tetap waspada dan mempersiapkan diri," kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono.
Pemerintah daerah setempat bersama instansi terkait telah melakukan berbagai upaya mitigasi bencana untuk mengantisipasi dampak erupsi lebih lanjut. Upaya ini meliputi evakuasi warga yang tinggal di daerah rawan bencana, penyediaan masker untuk masyarakat, serta penyiapan posko darurat.
"Kami telah mengimbau warga di sekitar pesisir Banten untuk tidak melakukan aktivitas di dekat pantai karena potensi tsunami masih ada. Selain itu, kami juga menyiapkan rumah sakit darurat di beberapa daerah untuk menangani korban jika diperlukan," kata Gubernur Banten Wahidin Halim.
Para wisatawan yang berencana mengunjungi kawak wisata pulau Krakatau juga diminta untuk tidak melanjutkan rencana perjalanan hingga ada kepastian dari pihak berwenang mengenai keamanan kawak tersebut.
Sementara itu, operasional bandara di wilayah lain seperti Bandara Internasional Ngurah Rai Bali dan Bandara Juanda Surabaya berjalan normal. Namun, pihak berwenang meminta para penumpang untuk tetap memantau perkembangan cuaca dan aktivitas gunung berapi di sekitar wilayah tersebut.
Komentar (0)