Dana Bencana Flores Naik 2 Kali Lipat, Ini Rinciannya
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalokasikan dana bencana untuk wilayah Flores sebesar Rp15 miliar, naik dua kali lipat dari tahun sebelumnya yang hanya Rp7,5 miliar. Penyesuaian anggaran ini dilakukan mengingat frekuensi bencana alam yang terjadi di kawasan tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT, Dr. Budi Santoso, menjelaskan bahwa alokasi dana ini akan digunakan untuk berbagai kebutuhan penanggulangan bencana mulai dari mitigasi, persiapan, respons hingga pemulihan. "Flores memang rawan bencana, mulai dari gempa bumi, tanah longsor, hingga banjir. Oleh karena itu, kita perlu mempersiapkan diri dengan baik," ujar Budi dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Kupang, Kamis (15/9).
Rincian Alokasi Dana
Dari total Rp15 miliar tersebut, alokasi terbesar sebesar Rp5 miliar akan digunakan untuk penyiapan sarana dan prasarana mitigasi bencana. Termasuk di dalamnya adalah pembangunan pos pengamatan bencana, perbaikan infrastruktur vital yang rawan bencana, serta penyiapan peralatan evakuasi dan penyelamatan.
Sebesar Rp4 miliar dialokasikan untuk program mitigasi risiko bencana. Dana ini akan digunakan untuk pelatihan penanggulangan bencana kepada masyarakat, pembuatan peta rawan bencana, serta kampanye peningkatan kesadaran akan bahaya bencana. "Kita tidak hanya menyiapkan fisik, tetapi juga mental masyarakat dalam menghadapi bencana," tambah Budi.
Untuk respons darurat, dialokasikan dana sebesar Rp3 miliar. Dana ini akan digunakan jika terjadi bencana, seperti operasi SAR, penyediaan tenda, makanan, obat-obatan, serta perlengkapan kesehatan darurat. Sementara itu, alokasi Rp3 miliar lagi digunakan untuk program pemulihan pasca bencana.
Tanggapan dari Pemerintah Daerah
Gubernur NTT, Viktor Laiskodat, mengapresiasi kenaikan anggaran ini. Menurutnya, peningkatan alokasi dana merupakan langkah preventif yang sangat diperlukan mengingat kondisi geografis NTT yang rawan bencana. "Flores adalah salah satu pulau yang paling rawan bencana di Indonesia. Dengan alokasi dana yang lebih besar, kita harap dapat mengurangi risiko kerugian akibat bencana," ujar Viktor.
Viktor menambahkan bahwa pemerintah daerah akan bekerja sama dengan BPBD pusat, TNI/Polri, serta lembaga swasta dan masyarakat dalam penanganan bencana. "Kita tidak bisa mengatasi bencana sendirian. Perlu sinergi dari semua pihak," jelasnya.
Kondisi Geografis Flores yang Rawan Bencana
Flores, yang terletak di jalur cincin api Pasifik, memang memiliki kondisi geografis yang rawan bencana. Pulau ini sering diguncang gempa bumi dengan berbagai magnitudo, beberapa di antaranya berpotensi tsunami. Selain itu, daerah pegunungan di Flores juga rawan longsor, terutama saat musim hujan.
Dalam lima tahun terakhir, Flores telah mengalami lebih dari 20 kali bencana alam signifikan. Paling mematang adalah gempa bumi dan tsunami pada Desember 2021 yang mengakibatkan ratusan korban jiwa dan ribuan rumah rusak. Bencana tersebut menunjukkan betapa rentannya wilayah ini terhadap bencana alam.
Selain alokasi tahunan, pemerintah daerah juga merencanakan program jangka panjang untuk penanggulangan bencana di Flores. Program ini meliputi pembangunan infrastruktur tahan gempa, penataan ruang yang mempertimbangkan faktor bencana, serta pemberdayaan masyarakat dalam menghadapi bencana.
"Kita tidak bisa menghentikan bencana, tetapi kita bisa meminimalkan dampaknya. Dengan persiapan yang matang, kita dapat menyelamatkan lebih banyak jiwa dan mengurangi kerugian materiil," kata Budi Santoso.
Dengan alokasi dana yang meningkat, diharapkan penanganan bencana di Flores dapat lebih efektif dan efisien. Pemerintah daerah juga berkomitmen untuk mengalokasikan dana tersebut secara transparan dan akuntabel demi kesejahteraan masyarakat Flores.
Komentar (0)