18, 2026
Nasional

Bandara Halim Ditutup Sementara Imbas Abu Anak Krakatau, 50 Penerbangan Dibatalkan

Wulan Simanjuntak
Wulan Simanjuntak Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 1 dibaca

Bandara Halim Perdanakusuma Ditutup Sementara Akibat Abu Vulkanik Anak Krakatau

Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta resmi ditutup sementara pada Rabu (12/7) lalu akibat aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang melepaskan abu vulkanik. Penutupan ini menyebabkan sekitar 50 penerbangan harus dibatalkan atau dialihkan ke bandara lain, menimbulkan gangguan signifikan bagi operasional penerbangan dan penumpang.

Kepala Unit Penerangan Publik Bandara Halim Perdanakusuma, Agus Purnomo, mengatakan bahwa penutupan bandara ini dilakukan sebagai langkah antisipatif untuk memastikan keselamatan dan keamanan operasional penerbangan. "Kami memutuskan untuk menutup bandara mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 16.00 WIT setelah mendeteksi adanya partikel abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau yang bergerak menuju wilayah Jakarta," ujarnya.

Abu Vulkanik Mengendap di Permukaan Bandara

Tim teknis bandara melakukan inspeksi visual dan pengukuran kadar abu di sekitar landasan pacu dan area bandara. Hasil inspeksi menunjukkan bahwa partikel abu vulkanik telah mengendap di permukaan landasan pacu dengan konsentrasi yang cukup tinggi. "Konsentrasi abu vulkanik di udara mencapai 1.200 mikrogram per meter kubik, melebihi batas aman yang ditetapkan sebesar 500 mikrogram per meter kubik," jelas Agus.

Abu vulkanik dapat berbahaya bagi operasional pesawat terbang karena dapat merusak mesin pesawat jika terhirup dan menimbulkan risiko kegagalan mesin. Selain itu, partikel abu juga dapat mengikis permukaan badan pesawat dan mengganggu sistem sensor pesawat.

Dampak pada Operasional Penerbangan

Dampak penutupan bandara langsung dirasakan oleh para penumpang dan maskapai. Sebanyak 50 penerbangan, baik domestik maupun internasional, terpaksa dibatalkan atau dialihkan ke bandara alternatif seperti Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng, Bandara Juanda di Surabaya, dan Bandara Ngurah Rai di Bali.

Sejumlah maskapai seperti Garuda Indonesia, Lion Air, dan Batik Air mengumumkan penundaan atau pembatalan penerbangan mereka. Penumpang yang terkena dampak diminta untuk menghubungi maskapai masing-masing untuk informasi lebih lanjut mengenai jadwal penerbangan pengganti atau pengembalian tiket.

"Kami meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Keselamatan penumpang adalah prioritas utama kami. Kami bekerja sama dengan pihak berwenang untuk memantau situasi dan akan membuka kembali bandara segera setelah kondisi memungkinkan," ujar juru bicara salah satu maskapai yang terdampak.

Respons dari Pihak Berwenang

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah meningkatkan status Gunung Anak Krakatau menjadi Level II (Waspada) sejak awal Juli lalu. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Geologi (PVMBG) Hendra Gunawan menjelaskan bahwa aktivitas Anak Krakatau terus dipantau secara ketat.

"Kami mendeteksi adanya gempa vulkanik dengan amplitudo rendah dan letusan kecil yang menghasilkan kolom abu setinggi 500-800 meter di atas puncak gunung. Meskipun belum mencapai level bahaya, kami tetap waspada karena aktivitasnya cenderung meningkat," kata Hendra.

Selain BMKG dan PVMBG, Tim SAR juga telah diterjunkan untuk memantau situasi di sekitar perairan Anak Krakatau. Meskipun belum ada laporan adanya korban jiwa atau kerusakan akibat aktivitas vulkanik, masyarakat di sekitar perairan Selat Sunda diminta untuk tetap waspada.

Normalisasi Operasional Bandara

Setelah melakukan pembersihan intensif dan memastikan konsentrasi abu vulkanik telah turun di bawah batas aman, Bandara Halim Perdanakusuma kembali dibuka untuk operasional penerbangan pada pukul 16.30 WIB. Tim teknis bandara melakukan inspeksi akhir sebelum landasan pacum diizinkan untuk digunakan kembali.

"Kami telah membersihkan landasan pacu dan area bandara dari sisa abu vulkanik. Seluruh sistem operasional bandara sudah diperiksa dan dinyatakan aman. Kami akan terus memantau situasi cuaca dan aktivitas vulkanik untuk antisipasi penutupan mendadak di kemudian hari," jelas Agus Purnomo.

Penutupan sementara bandara ini menyorohkan pentingnya antisipasi dan persiapan menghadapi bencana alam, khususnya dampak aktivitas vulkanik terhadap infrastruktur kritis seperti bandara. Pihak berwenang berkomitmen untuk terus meningkatkan koordinasi dan komunikasi dalam menghadapi situasi serupa di masa depan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Wulan Simanjuntak

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter