Pencarian 5 Jurnalis dan 3 Kru di Gunung Anak Krakatau Resmi Dihentikan
Pihak SAR dan tim pencarian akhirnya menghentikan operasi pencarian lima jurnalis dan tiga kru teknik di sekitar Gunung Anak Krakatau setelah delapan hari pencarian intensif. Keputusan diambil setelah tim melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi cuaca dan geologi di kawasan tersebut.
Kepala Basarnas Pusat, Marsekal Muda (Purn) M. Syaugi mengatakan bahwa tim telah melakukan segala upaya maksimal dalam pencarian korban. "Kami telah melaksanakan operasi pencarian sesuai prosedur yang berlaku. Namun, mengingat kondisi yang semakin tidak memungkinkan dan berdasarkan hasil evaluasi tim, kami memutuskan untuk menghentikan pencarian secara resmi," ujarnya dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Kantor Basarnas Pusat, Jakarta, Selasa (12/3).
Kronologi Kehilangan
Lima jurnalis dan tiga kru teknik dinyatakan hilang saat melakukan liputan di sekitar Gunung Anak Krakatau pada 2 Maret lalu. Mereka terdiri dari tim dari beberapa media nasional yang sedang menyiapkan dokumentasi mengenai aktivitas vulkanik di kawasan tersebut.
Berdasarkan lapor terakhir, tim korban sempat mengirimkan pesan bahwa mereka akan mendekati kawah utama gunung untuk mendapatkan rekaman video yang lebih dekat. Setelah itu, komunikasi terputus secara tiba-tiba. Tim pencarian menduga korban tertimun longsoran atau erupsi kecil yang terjadi secara tiba-tiba.
Upaya Pencarian yang Dilakukan
Selama delapan hari, tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI/Polri, BPBD, dan relawan melakukan berbagai upaya pencarian. Tim melakukan pencarian darat, laut, dan udara dengan memanfaatkan berbagai alat seperti drone, alat deteksi GPS, dan satelital.
Tim juga melakukan pendataan dan wawancara dengan nelayan dan warga setempat yang mungkin melihat aktivitas mencurigakan di sekitar lokasi kejadian. Beberapa saksi mata melaporkan melihat asap tebal dan mendengar suara ledakan yang keras pada hari kejadian.
Kondisi Gunung Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda ini telah berada dalam status waspada sejak Juli 2018 setelah erupsi dahsyat yang menyebabkan tsunami dan menewaskan ratusan orang. Aktivitas vulkaniknya terus dipantau oleh PVMBG.
PVMBG masih menetapkan status Gunung Anak Krakatau pada level II (Waspada) dengan jarak amboi sebesar dua kilometer dari puncak kawah. Warga dan wisatawan dilarang mendekati area tersebut.
Kondisi Korban
Keluarga korban yang menunggu di posko informasi di Kantor Basarnas Pausal menunjukkan pengertian meski masih sedih dengan keputusan tersebut. "Kami menghargai semua upaya yang telah dilakukan oleh tim SAR. Kita tahu risiko yang mereka hadapi," kata salah seorang keluarga korban yang enggan menyebutkan namanya.
Tindakan Lanjutan
Meski pencarian dihentikan, Basarnas akan tetap memantau perkembangan di sekitar Gunung Anak Krakatau. Jika ada penemuan baru, tim akan segera melakukan verifikasi.
Insiden ini menimbulkan kecemasan akan keselamatan jurnalis yang sering kali harus menghadapi risiko tinggi demi memberikan informasi kepada publik. Beberapa organisasi jurnalis menyatakan akan menyusun pedoman peliputan di area bencana untuk meminimalisir risiko yang serupa di masa depan.
Komentar (0)