Erupsi Anak Krakatau Tutup Bandara Soetta hingga Pagi Hari
Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengakibatkan Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) di Tangerang, Banten, ditutup sementara pada Selasa (19/11/2019) malam. Penutupan ini dilakukan akibat abu vulkanik dari erupsi gunung tersebut yang menyelimuti wilayah Bandara Soetta.
Menurut informasi dari PT Angkasa Pura II (Persero) pengelola Bandara Soetta, penutupan bandara dimulai sekitar pukul 21.30 WIB. Semua penerbangan yang dijadwalkan mendarat dan lepas landas pada Selasa malam dibatalkan. Para penumpang diminta untuk mengecek kembali status penerbangan mereka kepada maskapai masing-masing.
Kondisi di Lokasi
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Gempa Bumi (PVMBG) Hendra Gunawan mengatakan erupsi Anak Krakatau terjadi pada Selasa sore dengan ketinggian kolom abu mencapai 500-600 meter di atas puncak gunung. "Abu vulkanik dari erupsi ini terbawa angin ke arah barat daya, sehingga mempengaruhi wilayah Bandara Soetta," ujar Hendra dalam keterangannya.
Tim PVMBG terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau setelah erupsi terjadi. Gunung ini telah berada pada level waspada (level II) sejak pertengahan Oktober 2019 lalu. PVMBG meminta masyarakat tetap waspada dan tidak mendekati area sekitar gunung dalam radius 3 kilometer.
Dampak pada Penerbangan
Dampak penutupan bandara ini cukup signifikan bagi penerbangan domestik dan internasional. Ratusan penerbangan terpaksa dibatalkan atau dialihkan ke bandara lain. Maskapai-maskapai seperti Garuda Indonesia, Lion Air, Sriwijaya Air, dan Batik Air mengumumkan pembatalan penerbangan mereka.
Para penumpang yang tiba di bandara diimbau untuk menunggu informasi lebih lanjut dari maskapai masing-masing. Beberapa penumpang terlihat bingung dan frustrasi karena pembatalan mendadak ini. "Saya sudah menunggu sejak pukul 19.00 WIB untuk penerbangan ke Medan, tapi sampai sekarang belum ada informasi jelas," ujar salah seorang penumpang, Ahmad.
Upaya Normalisasi
Tim dari petugas Bandara Soetta bekerja keras membersihkan abu vulkanik dari landasan pacu dan area bandara. "Kami membersihkan menggunakan alat berat dan petugas kami. Prosesnya memakan waktu karena abu cukup tebal," kata Kepala Divisi Humas PT Angkasa Pura II, Yupiterman Siahaan.
Menurut Yupiterman, pihaknya berkoordinasi dengan BMKG dan PVMBG untuk memantau kondisi cuaca dan aktivitas vulkanik. "Kami akan membuka kembali bandara sesegera mungkin saat kondisi memungkinkan. Saat ini kami masih menunggu laporan tim lapangan," tambahnya.
Kronologi Erupsi
Erupsi Gunung Anak Krakatau terjadi pada pukul 16.00 WIB dengan durasi sekitar 9 menit. Erupsi ini menghasilkan lontaran material vulkanik ke udara dengan jarak sejauh 500 meter dari puncak gunung.
Sebelumnya, Gunung Anak Krakatau juga mengalami erupsi pada 10 November 2019 dengan ketinggian kolom abu 200 meter. PVMBG mencatat aktivitas vulkanik di gunung ini cenderung meningkat sejak Oktober 2019.
Pasca Erupsi
Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Selatan dan Kabupaten Serang telah mengimbau warga di sekitar pesisir Selat Sunda untuk tetap waspada terhadap potensi tsunami. Meskipun belum ada laporan adanya gelombang tinggi, masyarakat diminta untuk tidak melakukan aktivitas di sepanjang pantai.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan pihaknya telah menyiagakan tim tanggap darurat di lokasi. "Tim kami siaga membantu evakuasi jika diperlukan. Kami juga memantau perkembangan aktivitas gunung," jelas Doni.
Hingga dini hari hari Rabu (20/11/2019), Bandara Soetta masih dalam proses normalisasi. Pihak pengelola berharap bandara dapat kembali beroperasi normal pada pukul 05.30 WIB sesjadwal. Para penumpang diminta untuk terus memantau informasi resmi dari maskapai dan bandara.
Komentar (0)