19, 2026
Teknologi

Abu Anak Krakatau Sampai di Bogor, Warga: Bangun Tidur Ngeres Banget Lantai

Nadia Kusuma
Nadia Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 1 dibaca

Abu Vulkanik Anak Krakatau Menyambut Bogor, Warga Keluhkan Lantai Rumah Menjadi Lumer

Abu vulkanik hasil erupsi Gunung Anak Krakatau pada Selasa (12/3/2024) terdeteksi telah mencapai wilayah Bogor, Jawa Barat. Fenomena alam ini mengakibatkan banyak warga merasa tidak nyaman dengan kondisi lingkungan sekitar. Beberapa wasiswa bahkan mengeluhkan lantai rumah yang menjadi lumer dan berbau menyengat akibat tertimbun abu tebal.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bahwa abu vulkanik dari Anak Krakatau memang telah menyebar hingga ke wilayah Bogor dan sekitarnya. "Abu vulkanik dari erupsi Anak Krakatau terdeteksi di beberapa titik di Bogor. Kondisi ini wajar terjadi mengingat jaraknya yang relatif dekat dengan gunung berapi tersebut," ujar Sutopo melalui keterangannya, Rabu (13/3/2024).

Warga yang tinggal di sekitar kawasan Bogor Selatan dan Bogor Timur mengeluhkan kondisi rumah yang tertutup abu tebal. Menurut mereka, abu tersebut sangat menyakitkan mata dan menimbulkan batuk-batuk terus-menerus. "Bangun tidur ngeres banget lantai rumah, pas lihat semua lantai rumahnya dipenuhi abu tebal. Bahkan ada bagian lantai yang terasa lengket dan agak lumer, kayak pas digebuk ada bekas jejak," kata Ahmad, warga Kecamatan Bogor Selatan kepada wartawan.

Dampak Abu Vulkanik terhadap Kesehatan dan Aktivitas Warga

Dampak abu vulkanik terasa sangat signifikan bagi aktivitas warga di Bogor. Banyak sekolah mengalami pembatalan kegiatan belajar mengajar karena kondisi udara yang tidak sehat. "Sekolah anak-anak dibatalkan dulu, udaranya tidak enak, bau abu menusuk hidung, anak-anak batuk terus," tambah Ahmad yang merupakan seorang ayah dari dua anak sekolah dasar.

Selain itu, warga juga mengeluhkan aktivitas sehari-hari terganggu. Aktivitas di luar rumah hampir tidak mungkin dilakukan tanpa masker pelindung. "Kalau mau belanja harus pakai masker dulu, kalau tidak, langsung batuk-batuk. Bahkan kalau masuk ke rumah harus langsung mandi, karena badan dan rambutnya penuh abu," keluhnya lagi.

Menurut dokter spesialis paru-paru dari RSUD Bogor, dr. Dewi Lestari, abu vulkanik dapat berbahaya jika terhirup dalam jumlah banyak. "Abu vulkanik mengandung partikel halus yang dapat masuk ke saluran pernafasan dan merusak paru-paru. Untuk warga yang memiliki riwayat penyakit paru-paris seperti asma, bronkhitis, atau COPD, kondisi ini bisa memperburat gejala," jelas dr. Dewi.

Upaya Pemerintah dan Warga Menanggulangi Dampak Abu

Pemerintah Daerah Kota Bogor telah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi dampak abu vulkanik. Dinas Kesehatan Kota Bogor telah menyebarkan masker secara gratis kepada warga terdampak. Selain itu, pemerintah juga membuka posko kesehatan di beberapa titik untuk menangani warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat abu.

"Kami juga telah mengimbau warga untuk selalu menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Bagi warga yang memiliki keluhan kesehatan, segera datang ke puskesmas atau rumah sakit terdekat," jelas Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr. Hendra.

Sementara itu, warga juga turut serta membersihkan rumah dari tumpukan abu. Mereka menggunakan air dan sapu untuk membersihkan lantai, furnitur, dan area sekitar rumah. "Meskipun capek, tapi harus dibersihkan dulu, biar tidak semakin banyak dan nggak enak kembali ke rumah," kata Siti, warga Bogor Timur yang sedang membersihkan atap rumahnya.

Dari sisi lingkungan, abu vulkanik juga memberikan dampak terhadap kualitas air dan tanah. Beberapa warga yang memiliki sumber mata air di dekat rumah melaporkan air menjadi keruh dan berbau. "Air sumur kami jadi keruh dan berbau tidak wajar, kami sementara pakai air minum kemasan dulu," keluh Budi, warga Kecamatan Bogor Barat.

Para ahli dari Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Geologi (PVMBG) terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau. Mereka mengimbau warga untuk tetap waspada dan memperhatikan informasi resmi yang dikeluarkan pemerintah. "Meskipun aktivitas vulkanik saat ini menurun, tetap ada potensi terjadinya erupsi kembali. Warga di sekitar kawasan vulkanik harus selalu siap menghadapi kemungkinan terburuk," kata Kepala PVMBG, Kasbani.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Nadia Kusuma

Fokus pada kesehatan anak, imunisasi, dan tumbuh kembang.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter