Pejabat militer Uganda dan Burundi mengunjungi Israel untuk membahas kemungkinan pengiriman pasukan dalam kekuatan internasional yang tengah disiapkan untuk Gaza. Kunjungan itu terjadi di tengah dorongan Amerika Serikat untuk mempercepat pembentukan pasukan stabilisasi berkekuatan 20.000 personel yang direncanakan dikerahkan ke wilayah Palestina tersebut.
Seorang pejabat yang terlibat dalam persiapan pasukan internasional itu mengatakan delegasi militer Uganda bergabung dengan delegasi Burundi selama kunjungan ke Israel. Uganda disebut tengah memfinalisasi rincian partisipasinya setelah parlemen menyetujui kontribusi pasukan pada bulan ini.
Sementara itu, kesepakatan dengan Burundi belum final. Namun, pejabat tersebut mengaku berharap prosesnya segera dimulai. "Kami berbagi banyak informasi penting satu sama lain, dan perwakilan Burundi menyatakan ketertarikan terhadap misi kami," ujarnya. Ia berbicara dengan syarat anonim karena tidak berwenang membahas negosiasi dengan negara-negara calon penyumbang pasukan sebelum ada kesepakatan resmi.
Secara terpisah, seorang pejabat militer Burundi menyebutkan bahwa tiga perwira senior lainnya ikut memimpin delegasi negara itu ke Israel. Menurutnya, Burundi tampak bertekad untuk bergabung. Pejabat itu juga berbicara secara anonim karena tidak berwenang berbicara kepada media.
Belum jelas apa yang akan ditawarkan Uganda atau Burundi dalam misi tersebut, maupun imbalan yang akan mereka terima. Juru bicara militer kedua negara tidak menanggapi permintaan komentar terkait kunjungan dan negosiasi yang berlangsung.
Komitmen negara-negara pendukung
Apabila Burundi benar-benar ikut, negara-negara Afrika itu akan menjadi pendukung terbaru pasukan internasional untuk Gaza. Sebelumnya, sejumlah negara telah mengumumkan komitmen pasukan, di antaranya:
- Uganda: sekitar 1.200 personel;
- Maroko: hingga 500 personel;
- Kosovo, Kazakhstan, dan Albania: total sekitar 80 personel;
- Indonesia: semula menyiapkan 8.000 personel, komitmen terbesar sejauh ini, tetapi ditangguhkan setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran.
Meski demikian, total pasukan yang telah dikomitmenkan masih jauh dari target 20.000 personel. Pasukan internasional itu direncanakan dipimpin oleh Mayor Jenderal AS Jasper Jeffers.
Latar belakang kesepakatan
Bulan lalu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan yang berisi pelucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel dari Gaza. Berdasarkan kesepakatan tersebut, Pasukan Stabilisasi Internasional akan dikerahkan ke wilayah-wilayah Palestina yang dikelola oleh komite teknokrat yang akan dibentuk, sementara pasukan Israel mundur dari kawasan itu.
Pasukan tersebut akan bertugas memantau gencatan senjata, melatih polisi Palestina, dan mengamankan penyaluran bantuan kemanusiaan, di samping tugas-tugas lainnya.
Gencatan senjata yang mandek
Gencatan senjata yang berlaku di Gaza sejak Oktober lalu kini berjalan mandek akibat perbedaan pandangan antara Israel dan Hamas. Israel mendesak pelucutan senjata Hamas secara menyeluruh, sementara Hamas menuntut penarikan penuh pasukan Israel dari Jalur Gaza.
Awal bulan ini, delegasi AS menggelar pertemuan selama berjam-jam dengan pemimpin Hamas, kemudian dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mendorong kedua pihak mencapai kesepakatan. Hamas telah menyetujui kesepakatan baru yang diajukan AS.
Netanyahu, sebaliknya, menolak kesepakatan itu. Ia menyatakan Israel tidak akan menarik diri dari sekitar 60 persen wilayah Gaza yang masih dikuasainya hingga Hamas dilucuti senjatanya sepenuhnya. Bahkan setelah pertemuan dengan tim AS yang antara lain dihadiri negosiator Jared Kushner, para pejabat Israel belum memberikan komitmen konkret apa pun.
Komentar (0)