Tim SAR Sisir 3 Pulau Dekat Anak Krakatau dalam Pencarian 5 Jurnalis Hilang
Tim SAR (SAR) telah memperluas area pencarian lima jurnalis yang dilaporkan hilang di sekitar wilayah Anak Krakatau. Tim tersebut kini menyisir tiga pulau dekat lokasi gunung berapi tersebut dalam upaya menemukan para wartawan yang tengah meliput aktivitas vulkanik.
Kepala Basarnas (Badan SAR Nasional) Budiawan mengatakan bahwa tim SAR telah melakukan pencarian intensif selama tiga hari terakhir. "Tim kami telah menyisir Pulau Rakata, Pulau Sertung, dan Pulau Panjang untuk mencari jejak kelima jurnalis yang hilang," ujar Budiawan dalam konferensi pers yang diadakan di Posko SAR Anyer, Banten, Rabu (15/11).
Identitas Korban dan Kronologi Hilang
Kelima jurnalis yang dilaporkan hilang adalah Ahmad Fauzi (25), editor di media online lokal; Maya Sari (30), fotojurnalis; Rizki Pratama (28), reporter; Dewi Lestari (32), produser; dan Budi Santoso (35), kameramen. Mereka dinyatakan hilang sejak Senin (13/11) saat sedang meliput aktivitas Anak Krakatau.
Menurut keterangan dari rekan mereka yang tidak ikut ke lokasi, kelima jurnalis tersebut berencana untuk mendekati Anak Krakatau dengan menggunakan perahu kecil. Namun, sejak pukul 15.00 WIB, komunikasi dengan rombongan terputus tanpa alasan yang jelas.
"Mereka sempat mengirimkan pesan terakhir sekitar pukul 14.30 WIB, menyatakan bahwa cuaca di sekitar Anak Krakatau mulai buruk dan akan segera kembali ke pelabuhan," kata editor media tempat Ahmad Fauzi bekerja, Iwan Setiawan.
Upaya Pencarian yang Dilakukan
Tim SAR yang terdiri dari 20 personel, dibantu oleh Tim Khusus SAR Basarnas, BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Lampung dan Banten, serta TNI/Polri, telah melakukan pencarian darat dan laut. "Kami menggunakan dua kapal SAR, satu helikopter, dan beberapa perahu cepat untuk menyisir area yang dianggap rawan," jelas Budiawan.
Area pencarian mencakup wilayah perairan sekitar Anak Krakatau dengan radius 20 kilometer, serta sejumlah pulau di sekiternya. "Kami menduga mereka mungkin terseret arus atau terdampar di salah satu pulau," tambahnya.
Cuaca di wilayah tersebut yang tidak menentu menjadi tantangan tersendiri bagi tim pencari. "Angin kencang dan gelombang tinggi membuat proses pencarian menjadi lebih sulit. Namun, kami tidak akan berhenti hingga menemukan mereka," ujar Kepala BPBD Banten, Ahmad Yani.
Kondisi Anak Krakatau
Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda telah menunjukkan aktivitas vulkanik yang meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Pihak Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Geologi (PVMBG) telah meningkatkan status gunung berapi tersebut menjadi level II (Waspada).
"Aktivitas Anak Krakatau saat ini masih meningkat dengan frekuensi gempa vulkanik yang terus bertambah. Potensi letusan kecil masih bisa terjadi kapan saja," kata Kepala PVMBG, Hendra Gunawan.
Atas kondisi ini, pihak berwenang telah menetapkan zona larangan di sekitar gunung berapi dengan radius 2 kilometer. Namun, ternyata masih ada wisatawan dan pekerja media yang melanggar aturan tersebut demi mendapatkan foto atau liputan.
Klarifikasi dari Pihak Media
Media tempat bekerja kelima jurnalis tersebut mengklarifikasi bahwa mereka telah memberikan izin resmi untuk meliput ke lokasi tersebut. "Kami sudah mendapatkan izin dari pihak berwenang sebelum melaksanakan tugas," kata Iwan Setiawan.
Iwan menambahkan bahwa kelima jurnalis tersebut adalah profesional berpengalaman dan telah meliput berbagai bencana sebelumnya. "Mereka selalu memperhatikan keselamatan dan tidak akan mengambil risiko yang tidak perlu," ujarnya.
Sementara itu, keluarga korban yang menunggu di posko SAR tampak sangat cemas. "Kami hanya bisa berdoa dan menunggu kabar baik dari tim pencari," kata ibunda Ahmad Fauzi, Siti Aminah, sambil menangis.
Perkembangan Terkini
Hingga berita ini diturunkan, tim SAR masih terus melakukan pencarian. Beberapa sumber menyebutkan bahwa ada seorang nelayan yang melihat perahu kecil yang diduga milik para jurnalis di sekitar Pulau Sertung.
Pencarian akan dilakukan secara terus-menerus hingga kelima jurnalis ditemukan, baik dalam kondat hidup maupun meninggal. "Ini adalah prioritas utama kami sekarang," tegas Budiawan menutup konferensi pers.
Komentar (0)