17, 2026
Internasional

Purbaya Beri Bukti Asing Serbu RI, Nilainya Tembus Ratusan Triliun

Purbaya memberikan bukti investor makin percaya pada Indonesia.]]>

Rizki Setiawan
Rizki Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Purbaya Beri Bukti Asing Serbu RI, Nilainya Tembus Ratusan Triliun

Purbaya Beri Bukti Asing Serbu RI, Nilainya Tembus Ratusan Triliun

Economist senior Purbaya Yudhi Sadha mengungkap adanya bukti nyata mengenai masuknya modal asing ke Indonesia dengan nilai mencapai ratusan triliun rupiah. Menurutnya, arus modal ini cukup signifikan dan memerlukan perhatian serius dari pihak berwenang dalam mengawasi stabilitas ekonomi nasional.

Alat Bukti yang Diperlihatkan

Purbaya menunjukkan beberapa data dan indikator yang menunjukkan adanya masuknya modal asing secara masif. Salah satunya adalah melalui pasar saham dan surat berharga pasar uang (SBN) yang sering menjadi sasaran investor asing. Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan adanya arus masuk modal asing (foreign net buy) yang konsisten dalam beberapa bulan terakhir.

"Saya telah melihat data transaksi pasar modal dan ada pola yang jelas. Investor asing memasukkan dana dengan nilai jutaan dolar setiap harinya," ujar Purbaya dalam keterangannya. Ia menambahkan bahwa tidak hanya pasar saham, sektor properti dan infrastruktur juga menjadi sasaran utama masuknya modal asing.

Nilai yang Mencapai Ratusan Triliun

Menurut perhitungan Purbaya, total nilai masuknya modal asing ke Indonesia dalam satu tahun terakhir diperkirakan mencapai ratusan triliun rupiah. Angka ini terus meningkat sejak awal tahun 2023 dan menunjukkan tren positif bagi pasar modal namun memerlukan kehati-hatian.

"Kalau dihitung rata-rata per bulan, masuknya modal asing ini bisa mencapai puluhan triliun. Kalau dikalikan 12 bulan, tentu akan mencapai ratusan triliun," jelasnya. Ia menegaskan bahwa angka ini bukan sekadar spekulasi melainkan berdasarkan data transaksi yang tercatat di berbagai pasar.

Dampak terhadap Perekonomian Indonesia

Keberadaan modal asing yang masuk secara signifikan memiliki dua sisi. Di satu sisi, arus modal ini dapat meningkatkan likuiditas pasar dan memberikan dukungan bagi nilai tukar rupiah. Di sisi lain, terlalu bergantung pada modal asing dapat membuat perekonomian rentan jika ada aliran balik (capital flight) yang tiba-tiba.

Purbaya menekankan bahwa pemerintah perlu waspada terhadap potensi risiko yang muncul. "Modal asing itu seperti pedang bermata dua. Kalau kita bisa mengelola dengan baik, akan memberikan manfaat. Tapi kalau tidak, bisa jadi bumerang," ujarnya.

Upaya Pengawasan dari Pemerintah

Sebagai respons terhadap arus masuk modal asing ini, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Bank Indonesia telah melakukan berbagai langkah untuk memastikan stabilitas ekonomi. Salah satunya adalah dengan memantau pergerakan kurs dan suku bunga agar tidak terjadi gejolak pasar.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan bahwa pihaknya siap mengambil langkah preemptif jika diperlukan. "Kami terus memantau arus modal dan siap melakukan intervensi jika ada indikasi volatilitas yang berlebihan," ujar Perry.

Kebijakan Moneter yang Tetap Konservatif

Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan kebijatan moneter yang bersifat konservatif dengan suku bunga acuan (BI Rate) yang tetap pada level 5,75%. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi meski ada arus masuk modal asing yang signifikan.

"Meski ada masuknya modal asing, kita tidak boleh lengah. Kebijakan moneter tetap harus hati-hati untuk mencegah terjadinya gelembung ekonomi," tambah Purbaya.

Peran Masyarakat Dalam Mengantisipasi Dampak

Purbaya juga mengimbau masyarakat untuk tidak terlalu bergantung pada adanya modal asing. Menurutnya, perekonomian Indonesia harus dibangun dari dalam dengan memperkuat sektor riil dan meningkatkan daya saham produk dalam negeri.

"Kita harus bangun ekonomi kita sendiri. Jangan sampai kita terlalu tergantung pada modal asing yang bisa datang dan pergi sewaktu-waktu," pungkasnya. Ia menambahkan bahwa ketahanan ekonomi nasional akan tercapai jika mampu membangun fondasi yang kuat dari dalam negeri.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Rizki Setiawan

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter