19, 2026
Politik

Siapa 'Nama Ajaib' Saat Mutasi era Purbaya? Suahasil dan Bimo Buka Suara

Mutasi pejabat Kementerian Keuangan saat era Purbaya Yudhi Sadewa menimbulkan kegaduhan internal.]]>

Dimas Permana
Dimas Permana Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Siapa 'Nama Ajaib' Saat Mutasi era Purbaya? Suahasil dan Bimo Buka Suara

Siapa 'Nama Ajaib' Saat Mutasi era Purbaya? Suahasil dan Bimo Buka Suara

Isu mutasi di tubuh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat menjadi sorotan belakangan ini. Khususnya, peran Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang sedang menjabat sebagai Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjadi perhatian khusus. Dalam konteks ini, nama-nama yang disebut-sebut sebagai kandidat kuat untuk menggantikan Ridwan Kamil mulai bermunculan. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah sebutan "nama ajaib" yang dikaitkan dengan era Bupati Purwakarta periode 2003-2013, H. Dede Yusuf dan Deddy Mizwar atau yang akrab disapa Purbaya.

Menanggapi isu tersebut, Komisioner Komisi Informasi (KI) Jawa Barat Suahasil Ala dan aktivis Bimo Nugroho membuka suara. Keduang memberikan pandangannya mengenai isu mutasi dan sebutan "nama ajaib" yang muncul dalam diskursus politik di Jabar.

Pandangan Suahasil Ala

Menurut Suahasil Ala, isu mutasi di lingkungan Pemprov Jabar memang wajar terjadi mengingat masa jabatan Ridwan Kamil akan segera berakhir. Namun, ia menekankan bahwa proses seleksi pengganti harus berlandaskan pada kinerja dan integritas calon.

"Saya mendengar ada sebutan 'nama ajaib' dalam konteks mutasi era Purbaya. Saya rasa ini lebih kepada citra yang dibangun oleh Dede Yusuf dan Deddy Mizwar selama memimpin Purwakarta dan Jabar," ujar Suahasil.

Ia menjelaskan bahwa Dede Yusuf dan Deddy Mizwar memang dikenal dengan gaya kepemimpinannya yang dekat dengan masyarakat. Mereka berhasil membangun citra positif selama memimpin, yang kemudian diwariskan kepada Ridwan Kamil.

"Kita tidak bisa menutup mata bahwa era Purbaya meninggalkan jejak yang dalam. Mereka berhasil membangun citra pemimpin yang bersih, dekat dengan masyarakat, dan fokus pada pembangunan," tambahnya.

Mengenai siapa yang akan menjadi pengganti Ridwan Kamil, Suahasil menolak menyebutkan nama secara spesifik. Ia lebih menekankan pada proses yang transparan dan partisipatif masyarakat dalam memilih pemimpin baru.

"Yang penting adalah prosesnya bersih, adil, dan melibatkan masyarakat. Jangan sampai kita terjebak dalam dinamika praktik politik yang tidak sehat," tegasnya.

Pendapat Bimo Nugroho

Di sisi lain, aktivis Bimo Nugroho memiliki pandangan sedikit berbeda. Ia mengakui bahwa era Purbaya memang meninggalkan citra positif, namun menegaskan bahwa tidak ada "ajaib" dalam kepemimpinan.

"Saya rasa istilah 'nama ajaib' lebih kepada mitos yang dibangung oleh masyarakat. Kepemimpinan yang baik itu hasil dari kerja keras, dedikasi, dan komitmen untuk melayani," ujar Bimo.

Ia mencontohkan bagaimana Dede Yusuf dan Deddy Mizwar berhasil membangun citra positif bukan karena keajaiban, melainkan melalui proses panjang pembangunan yang merata dan kebijakan yang pro-rakyat.

"Mereka bekerja keras untuk membangun Purwakarta dan Jabar. Itulah yang membuat mereka dicintai masyarakat," tambahnya.

Mengenai isu mutasi, Bimo menegaskan bahwa masyarakat harus waspada dan kritis. Ia menyoroti pentingnya transparansi dalam proses seleksi calon pemimpin baru.

"Kita tidak boleh pasrah dengan segala keputusan yang diambil. Kita harus terus mengawasi dan memastikan bahwa prosesnya berjalan dengan baik," tegasnya.

Bimo juga mengingatkan agar tidak ada kepentingan politik praktis yang mengendalikan proses pemilihan pemimpin baru. Ia menekankan bahwa Jabar membutuhkan pemimpin yang mampu melanjutkan visi pembangunan tanpa meninggalkan aspek kesejahteraan rakyat.

"Yang kita butuhkan adalah pemimpin yang visioner, berintegritas, dan dekat dengan rakyat. Bukan sekadar 'nama ajaib' yang tidak jelas asal-usulnya," pungkasnya.

Dengan begitu, isu mutasi dan sebutan "nama ajaib" terus menjadi perbincangan hangat di masyarakat Jawa Barat. Masyarakat menantikan kejelasan dari pihak terkait mengenai siapa yang akan menjadi Gubernur Jawa Barat berikutnya. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana prosesnya berjalan dengan transparan dan demokratis.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dimas Permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter