KYIV — Pertemuan Koalisi Negara yang Bersedia (Coalition of the Willing), forum koordinasi negara-negara pendukung Ukraina, akan digelar di ibu kota Ukraina dengan pimpinan bersama pemimpin Inggris, Prancis, dan Jerman. Pertemuan tingkat tinggi ini berlangsung di tengah eskalasi perang yang kian mematikan, ketika sistem pertahanan udara Ukraina dilaporkan semakin menipis menghadapi gempuran rudal balistik Rusia.
Koalisi ini berfungsi sebagai wadah koordinasi bagi negara-negara yang sepakat menggelontorkan bantuan militer, keuangan, dan kemanusiaan untuk Ukraina. Pertemuan kali ini menjadi ujian solidaritas sekutu di tengah kebutuhan Kyiv yang kian mendesak akan sistem pertahanan udara. Namun, tekanan di medan perang kian berat seiring menipisnya stok rudal pencegat untuk sistem pertahanan udara tersebut.
Burnham ke Kyiv, Kunjungan Internasional Perdana
Perdana Menteri Inggris Andy Burnham dijadwalkan berada di Kyiv untuk kunjungan internasional pertamanya sejak resmi menjabat. Sejumlah pemimpin negara lain diharapkan mengikuti pertemuan secara daring, sementara Presiden Dewan Eropa, Antonio Costa, juga diagendakan hadir langsung di ibu kota Ukraina.
Dalam pernyataan sebelum berangkat, Burnham menegaskan sikap tegas negaranya. "Rusia seharusnya tidak meragukan tekad kami," ujarnya. "Kami tidak akan mundur sampai tercipta perdamaian yang adil dan langgeng."
Gempuran Rudal Rusia Tingkatkan Korban Sipil
Dalam beberapa pekan terakhir, Rusia menggempur Kyiv dengan rudal balistik yang merobek sejumlah bangunan apartemen dan menewaskan puluhan warga sipil. Eskalasi serangan itu mendorong angka kematian warga sipil ke level tertinggi sejak bulan-bulan awal invasi Rusia pada Februari 2022.
Hampir setiap serangan memaksa puluhan ribu warga berlindung di dalam sistem metro Kyiv, sementara banyak lainnya mengungsi ke ruang bawah tanah dan tempat penampungan lain di seantero kota. Begitu sirene meraung, ribuan orang bergegas turun ke stasiun-stasiun bawah tanah untuk mencari perlindungan dari rudal yang melesat di langit kota.
Usai hampir setiap serangan, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky melontarkan permohonan publik agar dukungan pertahanan udara segera dikirim. Pertemuan di Kyiv ini pun diharapkan melahirkan komitmen baru dari sekutu, terutama untuk mempercepat pasokan sistem pertahanan udara dan amunisi pencegat yang kian kritis.
Ukraina Terus Gempur Logistik Rusia
Menjelang pertemuan, Ukraina melanjutkan kampanye terhadap lokasi logistik militer Rusia. Sejumlah gudang milik raksasa e-commerce Ozon menjadi sasaran serangan. Ozon melaporkan kebakaran terjadi pada Senin pagi di gudang-gudangnya di Krasnodar dan Makhachkala, keduanya di Rusia bagian selatan. Perusahaan itu juga menyebut fasilitas di Adygeysk dan Nevinnomyssk dievakuasi akibat ancaman serangan drone.
Di sisi lain, otoritas Rusia menyatakan puing-puing serangan drone Ukraina menewaskan dua anak dan melukai sembilan orang lainnya. Serangan terhadap aset logistik ini merupakan bagian dari upaya Ukraina melemahkan rantai pasokan di balik operasi militer Rusia.
Hari Kemerdekaan di Tengah Perang
Senin (24/8) menandai Hari Kemerdekaan Ukraina sekaligus genap empat setengah tahun sejak Rusia melancarkan invasi pada 24 Februari 2022. Peringatan tahun ini berlangsung di bawah bayang-bayang perang, dengan ibu kota yang terus menjadi sasaran serangan udara dan warga yang hidup dalam ketidakpastian.
Relevansi bagi Warga Bengkulu
Bagi masyarakat Bengkulu, eskalasi konflik di Eropa Timur ini tetap relevan untuk dicermati. Perang yang berkepanjangan ikut menekan rantai pasok pangan dan energi global, yang berpotensi berimbas pada fluktuasi harga kebutuhan pokok di pasaran dalam negeri, termasuk di Bengkulu — terlebih Indonesia selama ini konsisten menyerukan diakhirinya perang demi menjaga stabilitas harga komoditas dunia.
Komentar (0)