Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau Meluas, Layanan Lift dan Eskalator di Halte Transjakarta Dihentikan Sementara
Sebaran abu vulkanik dari Anak Krakatau kembali meluas, menyebabkan penutupan sementara lift dan eskalator di 56 halte Transjakarta. Keputusan ini diambil sebagai langkah antisipasi dampak negatif terhadap peralatan elektrik dan keselamatan penumpang.
Direktur Utama PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) Benyamin Davnie mengatakan bahwa abu vulkanik dapat menimbulkan kerusakan pada sistem elektronik lift dan eskalator. "Abu vulkanik dapat masuk ke dalam sistem elektronik lift dan eskalator, yang berpotensi menyebabkan kerusakan atau bahkan kebakaran. Oleh karena itu, kami menghentikan operasionalnya sebagai langkah preventif," ujar Benyamin dalam keterangannya, Rabu (6/9/2024).
Dampab Abu Vulkanik terhadap Operasional Transportasi
Anak Krakatau yang kembali aktif sejak akhir Agustus 2024 telah memuntahkan sejumlah material vulkanik ke udara. Abu vulkanik ini tersebar luas hingga ke wilayah Jakarta dan sekitarnya, mempengaruhi berbagai sektor termasuk transportasi umum.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tingkat konsentrasi partikulat matter (PM) 10 di beberapa wilayah Jakarta mencapai titis kritis, mencapai 234 mikrogram per meter kubik pada Rabu pagi. Nilai ini jauh di atas standar sehat yaitu 150 mikrogram per meter kubik.
"Kondisi ini membuat kami harus berhati-hati. Selain lift dan eskalator, kami juga memantau kondisi kendaraan dan kesehatan sopir serta kru," tambah Benyamin.
Langkah-langkah Pengamanan yang Diambil
Sebagai antisipasi, pihak Transjakarta telah mengambil serangkaian langkah pengamanan. Pertama, penutupan sementara lift dan eskalator di 56 halte yang berada di koridor utama. Halte-halte tersebut tersebar di berlokasi strategis seperti Koridor 1 (Blok M-Kota), Koridor 2 (Pulo Mas-Kampung Rambutan), dan Koridor 3 (Kalideres-Harmoni).
Kedua, pihaknya meminta seluruh pengelola halte untuk meningkatkan frekuensi penyapuan dan membersihkan area dari abu vulkanik. "Kami meminta pengelola halte untuk membersihkan area lift dan eskalator secara berkala untuk mencegah akumulasi abu," jelas Benyamin.
Ketiga, Transjakarta juga memberikan masker kepada penumpang yang membutuhkan. "Kami menyediakan masker di setiap halte bagi penumpang yang membutuhkan, terutama untuk mereka yang memiliki riwayat penyakit paru-paru," tambahnya.
Reaksi Penumpang dan Operator
Keputusan ini mendapat berbagai respons dari penumpang. Beberapa penumpang memahami langkah yang diambil oleh pihak Transjakarta. "Saya mengapresiasi langkah ini karena kesehatan penumpang yang terpenting," uci Siti, salah satu penumpang Transjakarta.
Di sisi lain, ada juga penumpang yang mengeluhkan ketidaknyamanan akibat penutupan lift dan eskalator. "Sulit membawa barang bawaan naik turun tangga, terutama untuk ibu hamil dan lanjut usia," keluh Ahmad, penumpang lainnya.
Sementara itu, operator bus pun diminta untuk lebih waspada. "Sopir diminta untuk selalu memakai masker dan menjaga kesehatan. Jika merasa tidak nyaman, segera melapor ke kami," ujar Kepala Divisi Operasional Transjakarta, Ahmad Yani.
Perkembangan Status Gunung Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau sejak akhir Agustus 2024 menunjukkan aktivitas vulkanik yang meningkat. Badan Geologi dan Kebencanaan Geologi (PVMBG) telah menetapkan status gunung tersebut pada Level II (Waspada).
"Kami terus memantau aktivitas Anak Krakatau. Sejauh ini, aktivitasnya masih dalam batas normal namun kami tetap waspada," kata Kepala PVMBG, Hendra Gunawan.
PVMBG juga meminta masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah Selat Sunda untuk tetap waspada terhadap potensi abu vulkanik. "Jika aktivitas meningkat, kami akan segera menaikkan statusnya," tambah Hendra.
Dengan kondisi ini, pihak terkait berharap masyarakat dapat tetap tenang dan mengikuti anjuran yang diberikan. "Kami berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan seluruh sistem transportasi berjalan dengan aman dan nyaman," pungkas Benyamin.
Komentar (0)