17, 2026
Nasional

Purbaya Minta LPEI Tak Kejar Bunga Tinggi

Kirana Kusuma
Kirana Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Purbaya Minta LPEI Tak Kejar Bunga Tinggi

Purbaya Abdulah Bakrie, mantan anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI), menegaskan bahwa Lembaga Penelitian Ekonomi dan Industri (LPEI) tidak boleh terlalu fokus pada keuntungan atau mengejar bunga tinggi. Menurutnya, lembaga penelitian yang berada di bawah naungan Kadin Indonesia tersebut seharusnya berfungsi sebagai penentu kebijakan ekonomi yang sehat dan berkelanjutan, bukan sekadar mencari keuntungan semata.

Dalam sebuah diskusi yang digelar beberapa waktu lalu, Purbaya mengungkapkan kekhawatirannya terhadap praktik perbankan saat ini, yang menurutnya terlalu berorientasi pada keuntungan dengan menaikkan suku bunga secara berlebihan. Menurutnya, praktik ini berpotensi merugikan perekonomian Indonesia secara keseluruhan, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi tulang punggung ekonomi negara.

Kritik Terhadap Kebijakan Moneter

Purbaya tidak segan menyampaikan kritiknya terhadap kebijakan moneter yang dijalankan BI saat ini. Menurutnya, BI terlalu fokus pada mengendalikan inflasi dengan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate). Ia berpendapat bahwa pendekatan ini kurang efektif dan justru berdampak buruk pada pertumbuhan ekonomi.

"Menurut saya, BI seharusnya tidak hanya melihat inflasi, tetapi juga pertumbuhan ekonomi. Kita perlu mencari titik keseimbangan di mana inflasi terkendali namun pertumbuhan ekonomi tetap terpelihara," ujar Purbaya dalam diskusi tersebut.

Ia mencontohkan bahwa negara-negara seperti Jepang dan Amerika Serikat memiliki sistem kebijakan moneter yang lebih kompleks, di mana mereka tidak hanya mengandalkan suku bunga untuk mengendalikan perekonomian. Menurut Purbaya, Indonesia perlu belajar dari negara-negara tersebut agar kebijakan moneter yang dikeluarkan lebih efektif.

Dampak Bunga Tinggi terhadap UMKM

Salah satu dampak paling signifikan dari kebijakan suku bunga tinggi adalah terhambatnya akses UMKM terhadap pembiayaan. Purbaya menjelaskan bahwa dengan suku bunga yang tinggi, UMKM menjadi enggan untuk mengajukan pinjaman karena beban bunga yang harus dibayarkan terlalu berat.

"UMKM adalah motor penggerak perekonomian Indonesia. Tanpa dukungan yang memadai, mereka akan kesulitan berkembang dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi. Bunga tinggi jadi penghalang utama bagi mereka," ujarnya.

Selain itu, Purbaya juga menyoroti bahwa suku bunga tinggi juga berdampak pada penurunan daya beli masyarakat. Bunga pinjaman konsumsi yang tinggi membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang, yang pada akhirnya akan menurunkan permintaan terhadap berbagai produk dan jasa.

Saran untuk LPEI

Purbaya mengajak LPEI untuk melakukan lebih banyak riset terkait dampak kebijakan moneter terhadap berbagai sektor ekonomi. Menurutnya, lembaga penelitian ini seharusnya menjadi penasihat bagi pemerintah dan BI dalam merumuskan kebijakan yang lebih seimbang.

"LPEI harus mampu memberikan rekomendasi berdasarkan data dan analisis yang komprehensif. Jangan sampai LPEI hanya menjadi alat untuk membenarkan kebijakan yang sudah ada," tambahnya.

I juga menekankan pentingnya LPEI melibatkan berbagai pihak dalam diskusinya, termasuk akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat umum. Dengan demikian, kebijakan yang dihasilkan akan lebih representatif dan mempertimbangkan berbagai sudut pandang.

Tantangan di Depan

Perekonomian Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan, termasuk tekanan inflasi global, pelemahan rupiah, dan pertumbuhan ekonomi yang masih belum optimal. Dalam situasi seperti ini, kebijakan moneter yang tepat menjadi sangat penting.

Purbaya mengakui bahwa menemukan titik keseimbangan antara mengendalikan inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi bukanlah tugas yang mudah. Namun, menurutnya, hal ini harus menjadi prioritas utama bagi BI dan pemerintah.

"Kita tidak bisa membiarkan inflasi tinggi, tetapi kita juga tidak bisa mengorbankan pertumbuhan ekonomi. Kita perlu pendekatan yang lebih halus dan berbasis data," pungkasnya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kirana Kusuma

Peliput olahraga nasional dan perkembangan liga domestik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter