17, 2026
Nasional

Polisi Sebut Eksploitasi Anak untuk Rusuh Terjadi Berulang, Ini Motifnya

Polda Metro Jaya ungkap eksploitasi anak dalam aksi ricuh 27 Agustus. Tiga tersangka ditangkap, rekrutmen anak berulang dengan iming-iming uang.]]>

Kirana Kusuma
Kirana Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Polisi Sebut Eksploitasi Anak untuk Rusuh Terjadi Berulang, Ini Motifnya

Polisi Sebut Eksploitasi Anak untuk Rusuh Terjadi Berulang, Ini Motifnya

Polisi menyatakan bahwa praktik eksploitasi anak dalam aksi unjuk rasa dan kerusuhan telah terjadi berulang kali. Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol. Ahmad Ramadhan mengungkapkan bahwa modus ini telah menjadi pola yang berulang dalam beberapa aksi demonstrasi terkini. Menurutnya, pihak-pihak tertentu sengaja memanfaatkan anak-anak untuk terlibat dalam aksi yang berpotensi menimbulkan kekerasan.

"Kami melihat ada pola berulang di mana anak-anak dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu dalam setiap aksi demonstrasi yang berujung pada kerusuhan," ujar Ramadhan dalam konferensi pers yang diadakan di Mabes Polri, Rabu (15/3).

Modus Eksploitasi Anak dalam Aksi Demonstrasi

Menurut penjelasan Ramadhan, ada beberapa modus yang sering digunakan oleh oknum-oknum tersebut untuk memancing anak-anak terlibat dalam aksi kekerasan. Pertama, dengan menyebarkan informasi yang tidak benar atau hoaks melalui media sosial untuk memicu emosi dan kebencian di kalangan remaja.

"Kita lihat dalam beberapa kasus, ada pihak yang menyebarkan berita bohong tentang isu tertentu yang sensitif di kalangan remaja. Ini dilakukan untuk memancing reaksi emosional mereka sehingga mudah diarahkan untuk ikut serta dalam aksi," jelasnya.

Modus kedua adalah dengan menyelenggarakan pertemuan atau rapat diam-diam di tempat-tempat terpencil untuk mengajak anak-anak bergabung dalam kelompok tertentu. Dalam pertemuan tersebut, mereka seringkali dipengaruhi dengan retorika yang radikal dan ujaran kebencian.

"Ada juga yang menyelenggarakan pertemuan di tempat-tempat tersembunyi untuk merekrut anak-anak. Dalam pertemuan itu, mereka diberikan pemahaman yang salah tentang isu-isu tertentu," tambah Ramadhan.

Motif di Balik Eksploitasi Anak

Ditanya mengenai motif di balik praktik eksploitasi ini, Ramadhan menyebutkan ada beberapa faktor yang mendorong oknum-oknum tersebut. Pertama, motif politis di mana pihak-pihak tertuju ingin menimbulkan ketidakstabilan sosial dan politik untuk mencapai tujuan tertentu.

"Ada motif politis di mana mereka ingin menunjukkan kekuatan atau menunjukkan ketidakpuasan terhadap pemerintah melalui aksi-aksi yang melibatkan banyak orang, termasuk anak-anak," ujarnya.

Selain itu, ada juga motif ekonomis di mana para oknum ini memanfaatkan situasi untuk mencari keuntungan materiil. Beberapa dari mereka bahkan menerima bayaran dari pihak tertentu untuk memicu kerusuhan.

"Kita juga temukan ada motif ekonomis. Ada pihak yang membayar mereka untuk ikut serta dalam aksi, termasuk anak-anak. Bayarannya bisa berupa uang tunai atau fasilitas lainnya," jelas Ramadhan.

Dampak Negatif bagi Anak

Eksploitasi anak dalam aksi demonstrasi berdampak negatif bagi perkembangan mereka. Anak-anak yang terlibat dalam aksi kekerasan berisiko mengalami trauma psikis serta dampak hukum yang berat jika ditangkap polisi.

"Anak-anak yang terlibat dalam aksi kekerasan berisiko mengalami trauma psikis yang sulit dihilangkan. Selain itu, mereka juga berisiko menjadi pelanggar hukum dengan hukuman yang berat sesuai undang-undang," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Polri Brigjen Pol. Ahmad Ramadhan.

Polisi juga mengungkapkan bahwa anak-anak yang terlibat dalam aksi semacam itu seringkali tidak sepenuhnya memahami konsekuensi dari apa yang mereka lakukan. Mereka mudah dipengaruhi oleh retorika yang diberikan oleh oknum-oknum tersebut tanpa memahami isu yang sedang diangkat.

Tindakan Pencegahan yang Dilakukan Polisi

Untuk mencegah praktik ini berlanjut, polisi telah mengambil sejumlah tindakan. Salah satunya adalah dengan melakukan pendekatan edukasi kepada para orang tua dan sekolah agar lebih waspada terhadap potensi eksploitasi anak.

"Kita telah melakukan pendekatan kepada para orang tua dan sekolah untuk memberikan edukasi tentang bahaya eksploitasi anak dalam aksi demonstrasi. Kami juga berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk melakukan monitoring terhadap aktivitas siswa," ujar Ramadhan.

Selain itu, polisi juga berkoordinasi dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan berbagai lembaga swasta untuk melakukan rehabilitasi bagi anak-anak yang menjadi korban eksploitasi.

"Kita juga bekerja sama dengan KPAI dan lembaga swasta untuk memberikan rehabilitasi bagi anak-anak yang terlibat. Tujuannya adalah membantu mereka kembali ke jalur yang benar dan terhindar dari pengaruh negatif," tambahnya.

Dengan demikian, polisi berharap dapat mencegah praktik eksploitasi anak dalam aksi demonstrasi berulang kali. Pihaknya juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga anak-anak dari segala bentuk eksploitasi yang dapat merusak masa depan mereka.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kirana Kusuma

Peliput olahraga nasional dan perkembangan liga domestik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter