Perjalanan KRL Bogor Dikurangi, Komisi V DPR Minta KCI Siapkan Kereta Cadangan
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) secara resmi mengurangi frekuensi perjalanan Kereta Rel Listrik (KRL) rute Bogor pada Selasa (15/8). Keputusan ini diambil menyusul adanya kerusakan teknis yang dialami satu unit kereta penumpang. Komisi V DPR RI menanggapi kejadian ini dengan menegaskan bahwa PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) harus segera menyiapkan kereta cadangan untuk meminimalisir gangguan layanan di masa depan.
Menurut Kepala Divisi Humarat PT KCI, Joni Martinus, pengurangan frekuensi KRL Bogor ini dilakukan untuk memastikan keselamatan penumpang. "Kami mengurangi frekuensi KRL Bogor karena ada satu unit kereta mengalami kerusakan teknis. Kami prioritas keamanan dan kenyamanan penumpang," ujar Joni dalam keterangannya, Selasa (15/8).
Sebelumnya, KRL Bogor biasanya beroperasi dengan frekuensi satu kereta dalam 10-15 menit. Namun, sejak Selasa pagi, frekuensinya dikurangi menjadi satu kereta dalam 20-25 menit. Pengurangan frekuensi ini berlaku untuk arah Bogor dan Jakarta Kota.
Kerusakan Teknis Menjadi Penyebab
Kerusakan teknis yang dialami salah satu unit KRL tersebut terjadi pada sistem rem kereta. Menurut Joni, kereta yang mengalami gangguan tersebut langsung ditarik dari jalur operasional untuk diperbaiki. "Kereta tersebut sedang diperbaiki di depo. Kami masih menunggu hasil investigasi tim teknis kami untuk mengetahui penyebab pasti kerusakan tersebut," tambahnya.
Adapun dampak dari pengurangan frekuensi KRL ini langsung dirasakan oleh para penumpang. Antrian di stasiun Bogor dan stasiun-stasiun lainnya di rute Bogor-Jakarta terlihat lebih panjang dari biasanya. Banyak penumpang yang harus menunggu lebih lama untuk bisa naik kereta.
"Biasanya saya bisa naik KRL pukul 07.00 WIB, tapi hari ini saya harus menunggu hingga pukul 07.30 WIB karena frekuensinya berkurang," ujar Rina, salah satu penumpung KRL Bogor yang bekerja di Jakarta.
Respon Komisi V DPR
Menanggapi kejadian ini, Komisi V DPR RI yang membidangi perhubungan menegaskan bahwa pengurangan frekuensi KRL Bogor seharusnya tidak berlangsung lama. Wakil Ketua Komisi V DPR, Ahmad Rizki Zakaria, menyatakan bahwa KCI harus memiliki langkah antisipasi yang lebih baik.
"Pengurangan frekuensi KRL ini tentu akan memberikan dampak bagi para penumpang. Kami minta KCI untuk segera menyiapkan kereta cadangan sehingga layanan bisa kembali normal dalam waktu singkat," kata Rizki dalam keterangannya, Selasa (15/8).
Rizki menambahkan bahwa KCI harus meningkatkan sistem maintenance untuk mencegah gangguan serupa di masa depan. "Kami minta KCI melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh armada KRL yang beroperasi di rute Bogor-Jakarta. Pastikan semua kereta dalam kondisi prima sebelum beroperasi," ujarnya.
Langkah-langkah Darurat
Untuk mengatasi dampak dari pengurangan frekuensi KRL, KCI telah mengambil beberapa langkah darurat. Pertama, menambah jumlah petugas di setiap stasiun untuk membantu penumpang. Kedua, menyediakan shuttle bus di beberapa titik yang menjadi rute KRL Bogor.
"Kami juga bekerja sama dengan operator bus untuk menyediakan bus tambahan di rute Bogor-Jakarta. Tujuannya adalah untuk membantu penumpang yang terdampak pengurangan frekuensi KRL," jelas Joni.
Sementara itu, Kemenhub menyatakan akan terus memantau situasi di lapangan. "Kami akan terus memantau perkembangan situasi dan akan mengevaluasi kebijakan pengurangan frekuensi KRL Bogor ini," kata Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenhub, Adita Irawati.
Ia menambahkan bahwa pihaknya akan memastikan KCI memberikan informasi yang transparan kepada masyarakat mengenai perkembangan perbaikan kereta yang mengalami kerusakan. "Informasi harus jelas dan transparan agar penumpang bisa mempersiapkan diri," ujarnya.
Dengan demikian, pengurangan frekuensi KRL Bogor diperkirakan akan berlangsung hingga kereta yang mengalami kerusakan dapat diperbaiki sepenuhnya. KCI berjanji akan segera menyelesaikan perbaikan dan mengembalikan frekuensi KRL Bogor ke kondisi normal sesegera mungkin.
Komentar (0)