Jakarta — Asa besar pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, untuk membawa Garuda tampil di Piala Dunia 2026 menuai kritik tajam. Seorang pengamat sepak bola menilai eks pelatih Kanada itu tak perlu bermimpi terlalu tinggi, karena kenyataan di lapangan kualifikasi zona Asia jauh lebih berat daripada ambisi yang diucapkannya di depan publik.
Kritik tersebut muncul setelah Herdman berulang kali menegaskan targetnya membawa Indonesia lolos ke putaran final Piala Dunia. Bagi pengamat, pernyataan itu terlalu optimistis dan berisiko menciptakan ekspektasi berlebihan di tengah masyarakat, padahal timnas masih harus melewati jalan panjang penuh rintangan mulai dari putaran ketiga hingga kemungkinan putaran keempat kualifikasi Asia.
Realitas Persaingan di Zona Asia
Peta persaingan zona Asia memang tidak berpihak pada Indonesia. Tim Garuda harus bersaing dengan raksasa-raksasa Asia seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, Iran, hingga Arab Saudi yang memiliki tradisi panjang di pentas Piala Dunia. Peringkat FIFA Indonesia yang masih berada jauh di bawah para pesaingnya menjadi indikator utama betapa timpangnya persaingan tersebut.
Pengamat juga menyoroti kedalaman skuad dan konsistensi performa. Meski PSSI telah menaturalisasi sejumlah pemain keturunan untuk memperkuat tim, hal itu dinilai belum cukup untuk menjamin lolos ke Piala Dunia dalam waktu singkat. Mentalitas bertanding, kualitas kompetisi domestik, serta pembinaan usia muda disebut sebagai pekerjaan rumah yang belum tuntas.
Alih-alih berfokus pada mimpi besar, pengamat menyarankan Herdman dan seluruh elemen sepak bola nasional lebih realistis. Target yang lebih masuk akal seperti tampil kompetitif di setiap laga, memperbaiki peringkat FIFA, hingga membangun fondasi permainan jangka panjang dinilai lebih bermanfaat daripada sekadar janji manis menuju Piala Dunia.
Di sisi lain, para pendukung Garuda berharap kritik ini tidak menyurutkan semangat skuad asuhan Herdman. Momentum dukungan publik yang besar sepanjang putaran kualifikasi diyakini tetap menjadi energi positif bagi tim. Yang terpenting, kata para pengamat, tim harus membuktikan diri lewat hasil di lapangan, bukan hanya lewat pernyataan yang menggebu-gebu.
Herdman sendiri dikenal sebagai pelatih yang percaya diri dan tak ragu mematok target tinggi. Sebelum menangani Indonesia, ia sempat membawa Kanada tampil di Piala Dunia 2022, sebuah pencapaian yang kerap ia jadikan pegangan. Namun, pengamat menegaskan bahwa kondisi Indonesia berbeda dengan Kanada, sehingga capaian tersebut tak bisa serta-merta dijadikan patokan keberhasilan.
Saat ini Timnas Indonesia masih fokus menjalani putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Publik menanti apakah kritik pedas tersebut mampu memantik perubahan, atau justru menjadi pengingat bahwa jalan menuju Piala Dunia masih sangat panjang bagi Garuda.
Komentar (0)