Pencarian Korban Kapal Selam KRI Nanggala 402 Masuk Hari Keenam
Pencarian korban KRI Nanggala 402 yang dilaporkan tenggelam di perairan Bali masuk hari keenam. Operasi pencarian yang melibatkan berbagai pihak terus diperluas dengan dikerahkannya 16 kapal untuk menyisir area seluas 6.000 mil laut persegi. Upaya pencarian terus berlangsung meski harapan menemukan korban hidup semakin tipis mengingat telah berlambang lebih dari 72 jam sejak kapal dilaporkan hilang kontak.
Penambahan Kapal dan Alat Pencarian
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono mengatakan bahwa sebanyak 16 kapal telah dikerahkan untuk memperluas jangkauan pencarian. "Kami telah mengerahkan 16 kapal untuk melakukan penyisiran di area seluas 6.000 mil laut persegi. Kapal-kapal ini dilengkapi dengan peralatan canggih untuk mendeteksi adanya sinyal atau tanda-tanda keberadaan kapal selam," ujar Yudo Margono dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (22/4/2021).
Sebelumnya, operasi pencarian hanya melibatkan sejumlah kapal dari TNI AL dan beberapa kapal penunjang. Dengan penambahan kapal ini, diharapkan area pencarian dapat disisir lebih maksimal. Selain kapal, pihak TNI juga telah mengerahkan helikopter untuk melakukan pengintaian udara di sekitar lokasi dugaan tenggelamnya kapal selam tersebut.
Sinyal Akhir dari Kapal
KRI Nanggala 402 dilaporkan hilang kontak pada Rabu (21/4/2021) sekitar pukul 03:00 WITA saat sedang melaksanakan latihan torpedo di perairan utara Bali. Sebelum hilang kontak, kapal sempat mengirimkan sinyal terakhir yang menunjukkan adanya masalah listrik. "Kapal mengirimkan sinyal bahwa terjadi masalah listrik dan berada di kedalaman sekitar 50-100 meter. Setelah itu, komunikasi terputus," jelas Yudo Margono.
Berdasarkan catatan, KRI Nanggala 402 memiliki kemampuan untuk menyelam hingga kedalaman 500 meter. Namun, dalam kondisi darurat, kapal memiliki sistem emergency surfacing yang seharusnya dapat membawa kapal kembali ke permukaan. Hingga kini, belum ada bukti nyata bahwa sistem tersebut telah berhasil diaktifkan.
Kondisi Korban dan Upaya Pencarian Darurat
Sebanyak 53 awak kapal yang berada di dalam KRI Nanggala 402 saat ini masih dalam status hilang. Meski demikian, pihak TNI masih memberikan harapan bahwa beberapa awak kapal mungkin masih selamat di dalam kompartemen darurat kapal. "Kami masih berharap ada korban yang selamat terperangkap di dalam kapal. Upaya pencarian terus dilakukan dengan maksimal," ujar Yudo Margono.
Sebagai bentuk upaya pencarian darurat, TNI telah menghubungi pihak Australia dan Singapura untuk meminta bantuan dalam bentuk peralatan khusus seperti sistem sonar yang lebih sensitif. Australia telah mengirimkan kapal penyelam HMS Prince William, sementara Singapura menyediakan kapal pendeteksi Kechil Class yang dilengkapi dengan sonar.
Analisis Potensi Penyebab Tenggelam
Berdasarkan informasi yang diperoleh, ada beberapa skenario yang menjadi pertimbangan terkait penyebab tenggelamnya KRI Nanggala 402. Pertama, kemungkinan terjadi kebocoran di kompartemen mesin yang menyebabkan kegagalan sistem listrik. Kedua, adanya kerusakan pada sistem pengendali kedalaman yang menyebabkan kapal tidak dapat mengontrol kedalamannya. Ketiga, kemungkinan terjadi ledakan akibat kebocoran tabung torpedo yang berada di depan kapal.
"Kami masih dalam tahap investigasi untuk mengetahui penyebab pastinya. Namun, semua kemungkinan masih terbuka. Yang terpenting sekarang adalah fokus pada pencarian korban," tambah KSAL.
Pemerintah telah menunjukkan respons cepat terkait kejadian ini. Presiden Joko Widodo memerintahkan seluruh jajaran TNI untuk melakukan pencarian maksimal. Selain itu, pemerintah juga telah membentuk tim khusus untuk memantau perkembangan operasi pencarian dan memberikan dukungan bagi keluarga korban.
Kondisi Terkini dan Rencana Pengembangan Operasi
Hingga Kamis sore, operasi pencarian masih berlangsung intensif. Tim penyelamat masih berusaha untuk mendeteksi adanya tanda-tanda kehidupan dari dalam kapal. "Kami terus mendengarkan isyarat suara atau getaran yang mungkin dihasilkan oleh awak kapal jika mereka masih hidup di dalam," jelas seorang anggota tim pencarian.
KSAL Yudo Margono menyatakan bahwa jika dalam 24 jam ke depan tidak ditemukan bukti keberadaan kapal, maka operasi akan beralih ke pencarian jenazah dan proses evakuasi. "Kami masih berharap ada yang selamat. Namun, kita juga harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan yang tidak diinginkan," pungkasnya.
Komentar (0)